"Jika mempunyai niat baik lakukanlah segera, jangan ditunda-tunda. Tetapi jika mempunyai niat tidak baik tundalah melaksanakannya. Apabila bisa tundalah sampai akhir zaman."
Wow! Tulisan yang ada di T-shirt Joger yang dipake oleh gak tau siapa yang sama2 sedang antri di kantor BCA kemaren bikin aku sempet flash back, menjadi 'lagi-lagi' menyesal *karena banyak banget niat baik di tahun kemaren yang aku tunda2* dan berpikir2 .
Lumayan juga deh, karena berpikir2 itu jadi sempet 'mati rasa' beberapa saat menjalani antrian yang panjaaang banget...:p
Ya deh, aku janji, tahun ini aku akan berusaha untuk gak pake banyak pertimbangan kalo mau berbuat baik. Lagian, mau berbuat baik aja kog ya banyak mikirnya toh?! :)
:: see more gadget at the bottom of the page ::
Wednesday, March 25, 2009
Monday, March 16, 2009
Happines is....
"Kamu mau beli jam juga?" tanya suamiku ketika aku terlihat agak sedih gitu saat berkomentar betapa bagusnya hadiah ulang tahun jam (tangan) dari kita buat mami (mertua). Ya ampuuun...jadi gak enak hati :p, aku kan cuman komentar dan lagi apa gak kebangetan kalo aku masih pengen punya jam tangan lagi pdhal udah punya beberapa (cieee...Ya emang sih yang rantainya gold blom punya :p, hehehe). Tapi..., bukan itu yang bikin aku terlihat agak sedih. Bukan karena iri atau pengen beli buat diriku sendiri tapi karena nyesel! Tahun lalu aku juga pengen banget beli jam tangan for my mom as her birthday's gift, tapi ditunda2 terus sampe akhirnya, skarang, mo beli barang sebagus dan semahal apapun juga udah gak guna :(.
Di saat yang lain,
"Ntar kamu papi beli'in bb (blackberry) juga deh, yg ada tombolnya," kata suamiku yang kayaknya gerah mendengar keluhanku tiap kali pake bb dia. Weeeks! Yg kepengen punya bb tuh siapa? Dia pikir sungut2 aku tiap kali pake bb dia tuh karena pengen punya juga. Pdhal aku hanya sebel selalu kesulitan pake bb dia yg model touch screen gitu, soalnya tangan aku kan sering keringetan...:p (yg kata orang2 pertanda sakit jantung :)).
Suamiku emang gitu, suka menawarkan aku sesuatu kalau melihat aku seperti 'kesal'. Berpikir bahwa ia bisa meredam 'kekesalanku' dengan uang/materi.
Walaupun aku tau niatnya baik untuk nyenengin aku, tapi tetap aja (kadang2) aku tersinggung. Yang sebenarnya, kalo dipikir2 lucu juga ya kenapa harus tersinggung, karena jujur aku suka uang :). Tapi di lain pihak aku mati2an menjaga diriku agar engga materialistis, hehehe...*Mungkin, karena adanya anggapan bahwa menyukai uang agak2 amoral. Gak pantes. Dan bisa2 dicoret dari daftar calon menantu :)*. Lucu, karena aku berusaha menganggap uang gak penting, tapi di saat yang sama aku cemas kalo saldo di rekening bank-ku berkurang :p.
Ya,...kalo dibandingin sama orang lain sih mungkin kecemasanku soal uang gak seberapa. Ada seorang tante yang kebingungan karena aku gak kerja lagi. Ucapan pertamanya waktu aku bilang udah brenti kerja, "hari gini mana cukup?". Well, terus terang aja kalo ngomong soal cukup gak cukup itu kan relatif. Ya, buktinya dia yang udah kaya begitu masih merasa belum cukup juga :).
Tapi, anyway, siapa sih yang gak suka uang? Aku gak mau munafik, aku suka uang tapi bukan gila uang (setidaknya sepanjang ingatanku aku berusaha untuk begitu :p). Uang bukan segala-galanya tapi tetap aja uang dibutuhkan, karena zaman sekarang sistem barternya pake uang. Kalo bisa tukar susu bayi atau uang sekolah anak pake singkong sih mau banget :p, aku pasti akan tanam singkong banyak2 dan meminta suamiku gak usah kerja kantor lagi supaya kita bisa punya gak cuman kualitas waktu bareng keluarga tapi juga kuantitas waktu .
Buat yang masih single...mungkin bolehlah gak terlalu peduli sama uang, tapi buat yang udah menikah dan punya anak uang bisa menjadi salah satu sumber keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan. Sebuah buku yang aku baca mengatakan: "satu keluarga yang memiliki anak 75% lebih mungkin terlambat membayar tagihan kartu kredit dan menurut penelitian yang dilakukan Elizabeth Warren dan Amelia Warren dari Harvard satu-satunya prediktor terpenting bahwa seorang perempuan akan berakhir dalam kehancuran keuangan adalah lahirnya seorang anak." Duh, aku sih gak berpikir sampe kesitu walopun aku akui pengeluaran buat anak tuh emang cukup sangat besar :p. Seorang teman pernah bilang anak dibiarin gitu aja dikasih makan seadanya juga akan tumbuh besar, gak diliat-liat juga tau2 udah besar, hehehe...pendapat yang aneh, gak salah tapi aneh :).
Aku memang suka uang, tapi aku berharap aku bisa belajar untuk lebih bijak mengendalikan uang dan ngga menggantungkan kebahagiaanku pada uang.
"Kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kau miliki, bukan memiliki apa yang kau inginkan." ~Mark Twain~
Di saat yang lain,
"Ntar kamu papi beli'in bb (blackberry) juga deh, yg ada tombolnya," kata suamiku yang kayaknya gerah mendengar keluhanku tiap kali pake bb dia. Weeeks! Yg kepengen punya bb tuh siapa? Dia pikir sungut2 aku tiap kali pake bb dia tuh karena pengen punya juga. Pdhal aku hanya sebel selalu kesulitan pake bb dia yg model touch screen gitu, soalnya tangan aku kan sering keringetan...:p (yg kata orang2 pertanda sakit jantung :)).
Suamiku emang gitu, suka menawarkan aku sesuatu kalau melihat aku seperti 'kesal'. Berpikir bahwa ia bisa meredam 'kekesalanku' dengan uang/materi.
Walaupun aku tau niatnya baik untuk nyenengin aku, tapi tetap aja (kadang2) aku tersinggung. Yang sebenarnya, kalo dipikir2 lucu juga ya kenapa harus tersinggung, karena jujur aku suka uang :). Tapi di lain pihak aku mati2an menjaga diriku agar engga materialistis, hehehe...*Mungkin, karena adanya anggapan bahwa menyukai uang agak2 amoral. Gak pantes. Dan bisa2 dicoret dari daftar calon menantu :)*. Lucu, karena aku berusaha menganggap uang gak penting, tapi di saat yang sama aku cemas kalo saldo di rekening bank-ku berkurang :p.
Ya,...kalo dibandingin sama orang lain sih mungkin kecemasanku soal uang gak seberapa. Ada seorang tante yang kebingungan karena aku gak kerja lagi. Ucapan pertamanya waktu aku bilang udah brenti kerja, "hari gini mana cukup?". Well, terus terang aja kalo ngomong soal cukup gak cukup itu kan relatif. Ya, buktinya dia yang udah kaya begitu masih merasa belum cukup juga :).
Tapi, anyway, siapa sih yang gak suka uang? Aku gak mau munafik, aku suka uang tapi bukan gila uang (setidaknya sepanjang ingatanku aku berusaha untuk begitu :p). Uang bukan segala-galanya tapi tetap aja uang dibutuhkan, karena zaman sekarang sistem barternya pake uang. Kalo bisa tukar susu bayi atau uang sekolah anak pake singkong sih mau banget :p, aku pasti akan tanam singkong banyak2 dan meminta suamiku gak usah kerja kantor lagi supaya kita bisa punya gak cuman kualitas waktu bareng keluarga tapi juga kuantitas waktu .
Buat yang masih single...mungkin bolehlah gak terlalu peduli sama uang, tapi buat yang udah menikah dan punya anak uang bisa menjadi salah satu sumber keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan. Sebuah buku yang aku baca mengatakan: "satu keluarga yang memiliki anak 75% lebih mungkin terlambat membayar tagihan kartu kredit dan menurut penelitian yang dilakukan Elizabeth Warren dan Amelia Warren dari Harvard satu-satunya prediktor terpenting bahwa seorang perempuan akan berakhir dalam kehancuran keuangan adalah lahirnya seorang anak." Duh, aku sih gak berpikir sampe kesitu walopun aku akui pengeluaran buat anak tuh emang cukup sangat besar :p. Seorang teman pernah bilang anak dibiarin gitu aja dikasih makan seadanya juga akan tumbuh besar, gak diliat-liat juga tau2 udah besar, hehehe...pendapat yang aneh, gak salah tapi aneh :).
Aku memang suka uang, tapi aku berharap aku bisa belajar untuk lebih bijak mengendalikan uang dan ngga menggantungkan kebahagiaanku pada uang.
"Kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kau miliki, bukan memiliki apa yang kau inginkan." ~Mark Twain~
Tuesday, March 10, 2009
Congratulations....
Congratulation to mami Merry yang tanggal 2 Maret kemarin ulang tahun. Happy belated Birthday! Biasanya kalo hari ultah jatuh pada hari biasa, acara makan2 keluarga diada'in Sabtu ato Minggu *Maklum 2 anak mami tinggal di Tangerang, dengan pertimbangan macet dan hari kerja jadinya kita lebih prefer kumpul2nya tuh pas week end supaya lebih santai dan waktunya lebih panjang :)* tapi, hari Senin kemaren kita, *anak2, mantu2 dan cucu2* kompakkan, rame2 kumpul di Grand Indonesia kejutin mami yang seolah2 diajak dinner sm Stevens dan Patty doang :). Horeee...mami surprise! Apalagi, my hubby dateng bawa tart Harvest, mami semangat banget mau tiup lilin :) *Ya...ya...ya, semua juga seneng tiup lilin walopun umur udah jauh dari 17 :)* Happy Birthday Mom!

Congratulation to Stevens and Patty yang finally tied their knot tanggal 8 Maret kemarin. Two people in love and end it as husband and wife. Congratulation once again. May all good things be yours. Have a wonderful life! :).

Congratulation to my brother and sister in law, Billy and Jeni yang finally menerbitkan buku rohani pertama mereka.

Tulisan yang enak dibaca, ringan tapi 'kena' banget. Slamat ya...semoga sukses dan cepat menerbitkan buku2 yang lain lagi :).
Congratulation to Stevens and Patty yang finally tied their knot tanggal 8 Maret kemarin. Two people in love and end it as husband and wife. Congratulation once again. May all good things be yours. Have a wonderful life! :).
Congratulation to my brother and sister in law, Billy and Jeni yang finally menerbitkan buku rohani pertama mereka.

Tulisan yang enak dibaca, ringan tapi 'kena' banget. Slamat ya...semoga sukses dan cepat menerbitkan buku2 yang lain lagi :).
Tuesday, February 24, 2009
Cherish The Memory
Rainer suka banget liat album foto keluarga. Kalo dia udah nyebut, "opa...opa..." *maksudnya opa Daniel, papi aku* sambil nunjuk2 album foto, itu berarti dia mau liat foto opanya :). Sedih juga karena 'sebenarnya' Rainer belum ngerti banget kan, secara umurnya masih 1 th 5 bln waktu opa Daniel meninggal :(.
Terakhir mami, papi nginep di rumah *Juli 2008* Rainer tuh lengket banget sama mereka. Padahal untuk orang yang jarang ketemu apalagi anak kecil biasanya kan suka malu2 gitu, jaga jarak untuk di observasi dulu dari jauh walopun itu keluarga mereka sendiri. Tapi, thanks God banget, Ryan & Rainer gak pernah nolak atau merasa canggung tiap kali dipeluk atau dicium oleh opa omanya, padahal intens pertemuan mereka bisa dihitung jari *ternyata anak kecil tuh misteri besar ya...Kita gak bisa bilang mereka gak ngerti karena kenyataannya mereka ngerti :)*.
Emang sih kasih sayang dari opa oma rasanya beda. Mereka lebih ngemong, sabar dan cenderung memanjakan cucunya. Mungkin itu sebabnya chemistry antara cucu dan opa omanya gak susah didapet :p.
Beruntung banget mereka yang masih punya opa oma, apalagi kalo bisa diajak bertukar pikiran dan berbagi pengalaman hidup. Hmmm...
Aku sendiri udah lama banget gak punya opa oma dari pihak papi. Opa Yan, biasa dipanggil opa Loa *kebiasaan orang2 di Manado mengubah/menyingkat nama orang supaya lebih mudah dipanggil atau diingat. Seperti misalnya William jadi Welem, Victor jadi Ito, Franky jadi Angky* udah meninggal waktu aku masih berumur 6 th. Gak banyak yang aku ingat dari opa Loa kecuali bahwa dia memang udah tua banget saat itu tapi masih kuat merokok dan minum kopi :p. Opa juga tinggi dan berkulit putih serta terlihat agak kebule2-an yang sayangnya gak nurun ke aku, hihihi...:p. Sedangkan oma Hellena *biasa dipanggil oma Ele* juga udah meninggal ketika aku kelas 6 SD. Mereka yang tinggal di Manado dan kami yang berpindah2 kota mengikut kerjaa'an papi membuat kami jadi gak bisa ketemu setiap saat.
Dari pihak mami, aku cuma ingat Oma Hanna. Soalnya opa udah meninggal lama ketika mamiku masih remaja.
Biasa deh, seperti kebanyakan oma dari Jawa, busana hari2 oma Hanna tuh kebaya dan kain dengan rambut yang disisir semuanya ke belakang dan dicepol sederhana. Padahal rambutnya mulai banyak yang rontok, tapi tetep aja dibiarin panjang. Mungkin oma lebih pede dengan model rambut cepol daripada model rambut pendek, lebih sesuai dengan gayanya berbusana kebaya kali ya. Aku perhatiin setiap helai rontokan rambut oma dikumpulin dan dimasukkin ke dalam sebuah plastik. Waktu aku tanya kenapa disimpan, katanya buat dijual, hahaha :D.
Oma Hanna memang lucu sekali. Dia punya sense of humor yang tinggi padahal aku tahu gak mudah bagi oma untuk menjadi janda dan menghidupi serta membesarkan kelima anaknya sendirian. Tapi, itulah oma. Selalu bercanda, tersenyum dan tertawa di tengah kerasnya hidup.
Suatu kali ketika sedang libur semester aku mengunjunginya untuk menginap beberapa hari. Ia mengajakku ke sebuah toko mas. Aku gak minta apa2 tapi ia memaksa membelikanku sebuah gelang kaki. Bener2 seorang perempuan berumur dengan hati seorang oma :).
Oma Hanna meninggal tahun 2000 dalam damai. Tidur seperti biasa dan keesokkan harinya gak bangun lagi. Oma ditemukan masih dalam posisi tidur miring dan sedang memeluk guling. Damai banget...
Banyak deh kenangan manis yang mereka tinggalkan. Bahkan walaupun itu dari opa Loa dan oma Ele yang hanya sebentar saja . Tapi, kepergian semuanya sama2 meninggalkan satu hal,.....kenangan manis.
What children need most are the essentials that grandparents provide in abundance. They give unconditional love, kindness, patience, humor, comfort, lessons in life. And, most importantly, cookies. ~Rudolph Giuliani
Terakhir mami, papi nginep di rumah *Juli 2008* Rainer tuh lengket banget sama mereka. Padahal untuk orang yang jarang ketemu apalagi anak kecil biasanya kan suka malu2 gitu, jaga jarak untuk di observasi dulu dari jauh walopun itu keluarga mereka sendiri. Tapi, thanks God banget, Ryan & Rainer gak pernah nolak atau merasa canggung tiap kali dipeluk atau dicium oleh opa omanya, padahal intens pertemuan mereka bisa dihitung jari *ternyata anak kecil tuh misteri besar ya...Kita gak bisa bilang mereka gak ngerti karena kenyataannya mereka ngerti :)*.
Emang sih kasih sayang dari opa oma rasanya beda. Mereka lebih ngemong, sabar dan cenderung memanjakan cucunya. Mungkin itu sebabnya chemistry antara cucu dan opa omanya gak susah didapet :p.
Beruntung banget mereka yang masih punya opa oma, apalagi kalo bisa diajak bertukar pikiran dan berbagi pengalaman hidup. Hmmm...
Aku sendiri udah lama banget gak punya opa oma dari pihak papi. Opa Yan, biasa dipanggil opa Loa *kebiasaan orang2 di Manado mengubah/menyingkat nama orang supaya lebih mudah dipanggil atau diingat. Seperti misalnya William jadi Welem, Victor jadi Ito, Franky jadi Angky* udah meninggal waktu aku masih berumur 6 th. Gak banyak yang aku ingat dari opa Loa kecuali bahwa dia memang udah tua banget saat itu tapi masih kuat merokok dan minum kopi :p. Opa juga tinggi dan berkulit putih serta terlihat agak kebule2-an yang sayangnya gak nurun ke aku, hihihi...:p. Sedangkan oma Hellena *biasa dipanggil oma Ele* juga udah meninggal ketika aku kelas 6 SD. Mereka yang tinggal di Manado dan kami yang berpindah2 kota mengikut kerjaa'an papi membuat kami jadi gak bisa ketemu setiap saat.
Dari pihak mami, aku cuma ingat Oma Hanna. Soalnya opa udah meninggal lama ketika mamiku masih remaja.
Biasa deh, seperti kebanyakan oma dari Jawa, busana hari2 oma Hanna tuh kebaya dan kain dengan rambut yang disisir semuanya ke belakang dan dicepol sederhana. Padahal rambutnya mulai banyak yang rontok, tapi tetep aja dibiarin panjang. Mungkin oma lebih pede dengan model rambut cepol daripada model rambut pendek, lebih sesuai dengan gayanya berbusana kebaya kali ya. Aku perhatiin setiap helai rontokan rambut oma dikumpulin dan dimasukkin ke dalam sebuah plastik. Waktu aku tanya kenapa disimpan, katanya buat dijual, hahaha :D.
Oma Hanna memang lucu sekali. Dia punya sense of humor yang tinggi padahal aku tahu gak mudah bagi oma untuk menjadi janda dan menghidupi serta membesarkan kelima anaknya sendirian. Tapi, itulah oma. Selalu bercanda, tersenyum dan tertawa di tengah kerasnya hidup.
Suatu kali ketika sedang libur semester aku mengunjunginya untuk menginap beberapa hari. Ia mengajakku ke sebuah toko mas. Aku gak minta apa2 tapi ia memaksa membelikanku sebuah gelang kaki. Bener2 seorang perempuan berumur dengan hati seorang oma :).
Oma Hanna meninggal tahun 2000 dalam damai. Tidur seperti biasa dan keesokkan harinya gak bangun lagi. Oma ditemukan masih dalam posisi tidur miring dan sedang memeluk guling. Damai banget...
Banyak deh kenangan manis yang mereka tinggalkan. Bahkan walaupun itu dari opa Loa dan oma Ele yang hanya sebentar saja . Tapi, kepergian semuanya sama2 meninggalkan satu hal,.....kenangan manis.
What children need most are the essentials that grandparents provide in abundance. They give unconditional love, kindness, patience, humor, comfort, lessons in life. And, most importantly, cookies. ~Rudolph Giuliani
Sunday, February 22, 2009
Horreee....Sekeluarga ke Dokter!
Selasa, 17 Feb: antar suami periksa ke dokter UGD di Siloam. Sebenarnya ada dokter langganan (Spesialis Gastro), tapi cuman praktek Senin, Rabu, Jumat.
Jumat, 20 Feb: temenin suami cek darah ke lab di Siloam dan kontrol ke dokter Spesialis Gastro, sayang...gak keburu krn dokternya udah selesai praktek jam 10.30. Skalian juga kita bawa anak2 (both of them) periksa ke dr. Erickan SpAK. Soalnya sejak Rabu kemaren suhu badan mereka masih naik turun juga. Masih sumeng.
Sabtu, 21 Feb: ke Siloam lagi. This time terpaksa membawa diriku sendiri periksa ke dokter kulit :p. Kalo besok, takut engga ada dokter spesialis yg praktek. Ternyata kulit wajahku masih sensitif juga. Kira'in udah lebih baik :(. Duuuh...sedih deh liat nih muka jd merah2 dan bengkak2 kecil gitu seperti digigit serangga. Kering dan menebal seperti kulit gosong. Padahal sebentar lagi keluarga mo ngada'in hajatan besar gak mungkin banget kan pergi pesta dengan kulit wajah seperti ini? Makanya dibela-bela'in deh ke dokter sebelum tambah ancuuur! Hehehe...:p
Jumat, 20 Feb: temenin suami cek darah ke lab di Siloam dan kontrol ke dokter Spesialis Gastro, sayang...gak keburu krn dokternya udah selesai praktek jam 10.30. Skalian juga kita bawa anak2 (both of them) periksa ke dr. Erickan SpAK. Soalnya sejak Rabu kemaren suhu badan mereka masih naik turun juga. Masih sumeng.
Sabtu, 21 Feb: ke Siloam lagi. This time terpaksa membawa diriku sendiri periksa ke dokter kulit :p. Kalo besok, takut engga ada dokter spesialis yg praktek. Ternyata kulit wajahku masih sensitif juga. Kira'in udah lebih baik :(. Duuuh...sedih deh liat nih muka jd merah2 dan bengkak2 kecil gitu seperti digigit serangga. Kering dan menebal seperti kulit gosong. Padahal sebentar lagi keluarga mo ngada'in hajatan besar gak mungkin banget kan pergi pesta dengan kulit wajah seperti ini? Makanya dibela-bela'in deh ke dokter sebelum tambah ancuuur! Hehehe...:p
Thursday, February 19, 2009
It's My Dad b'day
Tahun lalu mami bikin kebaktian di rumah mereka di Bandung, sebagai ucapan syukur atas bertambahnya umur papi menjadi 66 thn dan karena papi sudah bisa keluar dari RS Borromeus setelah dirawat selama 14 hari disana (4 hari di ruang ICCU dan 10 hari di ruang Utama).
Aku sekeluarga bela-bela'in datang dari Tangerang walaupun hari itu hari Rabu, yang artinya suamiku harus ijin gak masuk kerja dan Ryan ijin gak masuk sekolah :). Karena kita pengin jalan dari pagi supaya siang udah sampe di Bandung dan bisa leyeh-leyeh dulu. Maklum, bawa anak-anak :)
Semua udah siap, waktu kemudian listrik mati sesaat sebelum kebaktian dimulai. "Telpon PLN deh mi, tanya kenapa," saranku pada mami. Kebiasaan kalo di rumahku mati lampu kita suka telpon Town Management atau PLN-nya langsung.
"Gak usahlah. Biasanya gak lama kog," kata mami. Ya udah, berharap sebentar lagi listrik nyala acara kita lanjutkan dibantu dengan cahaya dari lilin2 kecil. Kenyataannya, sampai acara selesai listrik masih mati dan baru menyala persis beberapa saat setelah para tamu bubar jalan! Duh! Ini kan kebaktian ulang tahun bukan kebaktian Natal?!
Apakah itu suatu pertanda? Gak tau juga. Bukan kebiasaan dalam keluargaku percaya mitos atau mengartikan suatu kejadian sebagai tanda. Mungkin, itu sebabnya aku begitu tolol tidak menyadari kalo mami papi akan segera 'pergi' akhir tahun 2008 kemarin.
Apakah jari telunjuk kanan aku yang terluka sangat dalam akibat goresan kaleng kornet 2 minggu sebelum mami meninggal adalah suatu pertanda? Apakah tiga telpon papi pagi itu, di hari dia meninggal, yang menyuruhku segera ke RS adalah suatu pertanda? *Saat papi dirawat di RS Immanuel, aku sekeluarga menginap di hotel terdekat: Hotel Grand Pasundan*.
Aku gak tau! Bener-bener gak tau!
.....
Happy Birthday Pap...I love you always :)
Aku sekeluarga bela-bela'in datang dari Tangerang walaupun hari itu hari Rabu, yang artinya suamiku harus ijin gak masuk kerja dan Ryan ijin gak masuk sekolah :). Karena kita pengin jalan dari pagi supaya siang udah sampe di Bandung dan bisa leyeh-leyeh dulu. Maklum, bawa anak-anak :)
Semua udah siap, waktu kemudian listrik mati sesaat sebelum kebaktian dimulai. "Telpon PLN deh mi, tanya kenapa," saranku pada mami. Kebiasaan kalo di rumahku mati lampu kita suka telpon Town Management atau PLN-nya langsung.
"Gak usahlah. Biasanya gak lama kog," kata mami. Ya udah, berharap sebentar lagi listrik nyala acara kita lanjutkan dibantu dengan cahaya dari lilin2 kecil. Kenyataannya, sampai acara selesai listrik masih mati dan baru menyala persis beberapa saat setelah para tamu bubar jalan! Duh! Ini kan kebaktian ulang tahun bukan kebaktian Natal?!
Apakah itu suatu pertanda? Gak tau juga. Bukan kebiasaan dalam keluargaku percaya mitos atau mengartikan suatu kejadian sebagai tanda. Mungkin, itu sebabnya aku begitu tolol tidak menyadari kalo mami papi akan segera 'pergi' akhir tahun 2008 kemarin.
Apakah jari telunjuk kanan aku yang terluka sangat dalam akibat goresan kaleng kornet 2 minggu sebelum mami meninggal adalah suatu pertanda? Apakah tiga telpon papi pagi itu, di hari dia meninggal, yang menyuruhku segera ke RS adalah suatu pertanda? *Saat papi dirawat di RS Immanuel, aku sekeluarga menginap di hotel terdekat: Hotel Grand Pasundan*.
Aku gak tau! Bener-bener gak tau!
.....
Happy Birthday Pap...I love you always :)
Ternyata menular ya...?
Kemarin, Ryan & Rainer panas.
Sedih deh. Apalagi aku sedang di Mangga Dua waktu mbak Wati telpon kasih tau Ryan panas. Kira'in cuman Ryan makanya kaget banget, waktu sampe rumah ternyata Rainer juga panas dan pilek :(. Suami langsung shock gitu gak nyangka penyakitnya bisa menular ke anak2.
Syukurlah...setelah beberapa kali dikasih Tempra, hari ini Ryan & Rainer udah gak panas lagi.
Malahan, Ryan minta mandi. Katanya gatel. Boleh kali ya...kan pake air panas :p
Sedih deh. Apalagi aku sedang di Mangga Dua waktu mbak Wati telpon kasih tau Ryan panas. Kira'in cuman Ryan makanya kaget banget, waktu sampe rumah ternyata Rainer juga panas dan pilek :(. Suami langsung shock gitu gak nyangka penyakitnya bisa menular ke anak2.
Syukurlah...setelah beberapa kali dikasih Tempra, hari ini Ryan & Rainer udah gak panas lagi.
Malahan, Ryan minta mandi. Katanya gatel. Boleh kali ya...kan pake air panas :p
Tuesday, February 17, 2009
Tuesday, February 10, 2009
Enaknya di rumah...
Ada enaknya juga being a stay home mom...:p. Kalo kurang tidur tinggal tidur lagi terserah mau jam berapa, hahaha.
Bayangin aja kalo punya balita dengan pola tidur masing2, ada yang suka nangis tiap beberapa jam, ada yang gelisah tidurnya bolak/ik sebentar2 kepalanya udah dibawah atau sebaliknya, yang kalo gak kita benerin posisinya takut jatuh dari tempat tidur. Hahaha, gimana kita bisa tidur pulas kalo begitu? Belum lagi setiap hari harus bangun jam 5 untuk beresin keperluan suami yang mau kerja dan anak yang mau sekolah. Sementara malemnya baru bisa tidur diatas jam 12 pm? Bisa dipastikan deh, kalo kerja kantoran pasti di kantor gak bisa konsen, kepala sakit dan akhirnya produktivitas kerja menurun.
Itu sebabnya waktu ada babysitter yang ngomongin majikannya yang katanya gak mau tidur sekamar dengan anak, aku maklum. Aku ngerti beban ibu bekerja. Dia butuh energi yang banyak untuk bisa kerja, melayani suami dan main sama anak2nya after office hour. Dan, itu gak akan bisa dia dapetin kalo dia kurang tidur. So, salute to those working mom :).
Bayangin aja kalo punya balita dengan pola tidur masing2, ada yang suka nangis tiap beberapa jam, ada yang gelisah tidurnya bolak/ik sebentar2 kepalanya udah dibawah atau sebaliknya, yang kalo gak kita benerin posisinya takut jatuh dari tempat tidur. Hahaha, gimana kita bisa tidur pulas kalo begitu? Belum lagi setiap hari harus bangun jam 5 untuk beresin keperluan suami yang mau kerja dan anak yang mau sekolah. Sementara malemnya baru bisa tidur diatas jam 12 pm? Bisa dipastikan deh, kalo kerja kantoran pasti di kantor gak bisa konsen, kepala sakit dan akhirnya produktivitas kerja menurun.
Itu sebabnya waktu ada babysitter yang ngomongin majikannya yang katanya gak mau tidur sekamar dengan anak, aku maklum. Aku ngerti beban ibu bekerja. Dia butuh energi yang banyak untuk bisa kerja, melayani suami dan main sama anak2nya after office hour. Dan, itu gak akan bisa dia dapetin kalo dia kurang tidur. So, salute to those working mom :).
Monday, February 09, 2009
Berobat ke negeri lain or Indonesia saja?
Sebenarnya udah pengen bikin postingan ini sejak beberapa waktu lalu, tapi kepending terus.
Kebetulan, waktu itu baca berita soal meninggalnya Ibunda dari salah seorang yang sedang mencalonkan diri untuk menjadi the next President in Indonesia di harian Kompas. Di akhir berita ada comment yang mempertanyakan rasa nasionalisme keluarga tsb yang membawa ibunya berobat ke Singapore. "Kenapa gak di Indonesia saja?"
Kalo boleh berpendapat, terserah orang donk mau berobat dimana kalau memang dia punya kemampuan secara finansial untuk berobat ke negara lain yang secara medis peralatan dan pengetahuannya lebih maju daripada Indonesia. Itu pertama, dan yang kedua, bagaimana kalau pertanyaannya dibalik? Apakah instansi rumah sakit / dokter-dokter di Indonesia mempunyai rasa nasionalisme yang sama pada saat menangani pasien-pasiennya yang secara notabene adalah saudara sebangsa setanah air dengan mereka?
Berkaca pada pengalaman pribadi, kayaknya kalau punya uang lebih mending berobat ke negara lain deh yang sudah diakui kemampuan dan keprofesionalannya menangani para pasien. Bagaimana tidak? Suamiku 2 tahun lalu dirawat di ruang VIP di sebuah rumah sakit daerah Menteng, yang tarifnya Rp 1jt/malam. Bukannya mau nyombong sebutin nominalnya disini, tapi bener2 deh keterlaluan, tarif kamar yang diberikan gak sesuai dengan luas ruang kamar, rumah sakit dan pelayanan yang diberikan. Bukannya membuat tenang pasien, suster dan pegawai administrasi malah bolak balik masuk kamar suamiku hanya untuk minta tanda tangan surat pernyataan mau membayar obat dengan jumlah sekian dan biaya2 lain yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi kepada pasien. Akhirnya, karena stress dan gak bisa istirahat suamiku langsung minta keluar dari rumah sakit padahal baru dirawat 1 malam 2 hari dan dalam kondisi masih agak keleyengan karena baru selesai diendoskopi.
Pengalaman lain ketika membawa papi kami dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Supaya papi nyaman, kami meminta kamar VIP. Tapi, lagi-lagi sikap tidak profesional diperlihatkan oleh suster dan dokter. Padahal ruang perawatan ayah kami di ruang VIP! Dan salah seorang keluarga sudah 'menitipkan' ayah kami pada seorang dokter kenalan yang berpraktek disana. Bayangkan, kalau ayah kami yang dirawat di ruang VIP aja mendapatkan penanganan yang tidak profesional, bagaimana pula pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien2 di ruang kelas 1, 2 atau 3?
Nah, sekarang yang tidak punya rasa nasionalisme tuh siapa?
Masalah ini bukan masalah baru kog, hampir di semua surat kabar, tabloid atau majalah kita bisa membaca tindakan2 medis / perawatan / pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien tuh seperti apa.
Namun, bukan berarti juga semua dokter atau perawat atau instansi rumah sakit di Indonesia seperti itu. Masih ada lah yang memberikan perhatian dan perawatan secara manusiawi. And, I know some of them!
Ya, well, ini hanya sharing pengalaman aja sih, supaya orang juga jangan seenaknya menuduh seseorang tidak punya rasa nasionalisme karena berobat ke negara lain. Namanya juga pengen sembuh usaha apa aja pasti akan dilakukan. Gak peduli meskipun harus sampai berlayar ke negeri seberang,...dan walaupun kadang2 bukan kesembuhan juga yang didapat. At least udah mencoba :p.
Kebetulan, waktu itu baca berita soal meninggalnya Ibunda dari salah seorang yang sedang mencalonkan diri untuk menjadi the next President in Indonesia di harian Kompas. Di akhir berita ada comment yang mempertanyakan rasa nasionalisme keluarga tsb yang membawa ibunya berobat ke Singapore. "Kenapa gak di Indonesia saja?"
Kalo boleh berpendapat, terserah orang donk mau berobat dimana kalau memang dia punya kemampuan secara finansial untuk berobat ke negara lain yang secara medis peralatan dan pengetahuannya lebih maju daripada Indonesia. Itu pertama, dan yang kedua, bagaimana kalau pertanyaannya dibalik? Apakah instansi rumah sakit / dokter-dokter di Indonesia mempunyai rasa nasionalisme yang sama pada saat menangani pasien-pasiennya yang secara notabene adalah saudara sebangsa setanah air dengan mereka?
Berkaca pada pengalaman pribadi, kayaknya kalau punya uang lebih mending berobat ke negara lain deh yang sudah diakui kemampuan dan keprofesionalannya menangani para pasien. Bagaimana tidak? Suamiku 2 tahun lalu dirawat di ruang VIP di sebuah rumah sakit daerah Menteng, yang tarifnya Rp 1jt/malam. Bukannya mau nyombong sebutin nominalnya disini, tapi bener2 deh keterlaluan, tarif kamar yang diberikan gak sesuai dengan luas ruang kamar, rumah sakit dan pelayanan yang diberikan. Bukannya membuat tenang pasien, suster dan pegawai administrasi malah bolak balik masuk kamar suamiku hanya untuk minta tanda tangan surat pernyataan mau membayar obat dengan jumlah sekian dan biaya2 lain yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi kepada pasien. Akhirnya, karena stress dan gak bisa istirahat suamiku langsung minta keluar dari rumah sakit padahal baru dirawat 1 malam 2 hari dan dalam kondisi masih agak keleyengan karena baru selesai diendoskopi.
Pengalaman lain ketika membawa papi kami dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Supaya papi nyaman, kami meminta kamar VIP. Tapi, lagi-lagi sikap tidak profesional diperlihatkan oleh suster dan dokter. Padahal ruang perawatan ayah kami di ruang VIP! Dan salah seorang keluarga sudah 'menitipkan' ayah kami pada seorang dokter kenalan yang berpraktek disana. Bayangkan, kalau ayah kami yang dirawat di ruang VIP aja mendapatkan penanganan yang tidak profesional, bagaimana pula pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien2 di ruang kelas 1, 2 atau 3?
Nah, sekarang yang tidak punya rasa nasionalisme tuh siapa?
Masalah ini bukan masalah baru kog, hampir di semua surat kabar, tabloid atau majalah kita bisa membaca tindakan2 medis / perawatan / pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien tuh seperti apa.
Namun, bukan berarti juga semua dokter atau perawat atau instansi rumah sakit di Indonesia seperti itu. Masih ada lah yang memberikan perhatian dan perawatan secara manusiawi. And, I know some of them!
Ya, well, ini hanya sharing pengalaman aja sih, supaya orang juga jangan seenaknya menuduh seseorang tidak punya rasa nasionalisme karena berobat ke negara lain. Namanya juga pengen sembuh usaha apa aja pasti akan dilakukan. Gak peduli meskipun harus sampai berlayar ke negeri seberang,...dan walaupun kadang2 bukan kesembuhan juga yang didapat. At least udah mencoba :p.
Subscribe to:
Posts (Atom)


