:: see more gadget at the bottom of the page ::

Wednesday, November 19, 2008

Sedihkah saya?

Suatu hari ibu mertua -yang saya panggil mami juga- telpon. Dan, kami ngobrol macam-macam hal mulai dari nanya'in kabar, kegiatan yang dia atau saya lakukan, ngomentarin issue-issue yang sedang menjadi topik hangat, dan banyak lagi deh. Nyambung aja terus, dari satu topik ke topik yang lain. Kami memang biasa ngobrol seperti itu.

"Kemaren Eby ditanya'in orang-orang di gereja," tutur mami mengawali obrolan kami. "Mereka pada nanya, gimana kabar Eby? Kuat 'ga dia setelah ditinggal mami papinya? Mami bilang, iya, Eby kuat, tabah. Trus, temen Eby si ****** juga tanya'in Eby. Dia bilang, Eby 'ga sedih..."
Mendengar cerita mami, terutama kalimat yang terakhir tadi, mendadak saya merasa ada sesuatu yang bergeliat dari bawah perut saya dan terus merambat naik ke kepala, sampai pipi saya jadi terasa panas dan membuat saya sempat kehilangan kata-kata.

Saat itu saya ngga komentar banyak soal cerita mami tadi. Saya masih gelisah karena menahan emosi. Tubuh saya masih terasa bergetar. Saya marah. Benar. Saya marah, jengkel, kesal bukan main. "Gila kali ya?! Apa 'ga salah dia ngomong gitu?! Bisa-bisanya dia membuat asumsi sendiri, padahal nelpon aja engga! Bagaimana dia bisa tahu apa yang dirasakan hati saya?!"

Saya sedih. Perasaan marah itu kini berubah menjadi sedih. Sedih, karena seorang yang mengaku teman bisa berkata seperti itu tentang perasaan saya. Tau apa dia?!

Saya ingat, ketika pertama kali mendapat kabar mami sudah ngga bernafas dan sedang diupayakan oleh dokter untuk bisa bernafas lagi, saya menangis. 'Ga meraung2, tapi saya menangis. Walo begitu saya berusaha untuk tetap tenang, karena saya masih bingung, "ini ada apa sih? Jadinya mami bagaimana?"

Dengan perasaan bingung itu, saya membereskan pakaian untuk saya bawa ke Bandung. Sengaja, saya 'ga bawa baju warna hitam, karena saya masih berharap mami 'ga beneran 'pergi'. Tapi, sebagai gantinya saya membawa beberapa potong baju berwarna gelap: biru tua, untuk jaga-jaga juga :(.

Ketika di tol kebon jeruk saya mendapat kepastian bahwa mami sudah meninggal, saya menangis terus sampai tol cipularang. Untunglah ada anak dan suami saya yang membuat saya tabah. Saya ingat, sepanjang perjalanan mata saya selalu memandang ke awan-awan, berharap saya bisa menangkap bayangan mami disana. Berharap masih bisa ketemu walo untuk terakhir kalinya :(.

Begitu juga ketika papi 'pergi'. Saya sedih. Saya bahkan hampir 'ga bisa terima waktu kakak saya memanggil Pendeta dan meminta doa penyerahan. "Apa-apa'an ini?" pikir saya dalam hati, "kita kan masih menunggu dokter untuk mengetahui kondisi papi yang sebenarnya gimana? Kog, udah mo doa penyerahan aja?"

Tetapi, ketika sudah di rumah duka, saya sudah lebih tenang -mau 'ga mau-. Karena masih banyak hal yang harus diputuskan: baju apa yang akan dipakai untuk terakhir kali oleh mami-papi, peti jenazahnya yang bagaimana, berapa biayanya, kapan waktu pemakaman, dimana akan dimakamkan, apakah semua kenalan dan keluarga sudah diberitahu, konsumsi untuk tamu, dan banyak lagi urusan-urusan lainnya yang kelihatan sepele tapi juga (sebenarnya) penting, mis: jumlah botol minyak yang disediakan oleh rumah duka untuk digunakan pada malam penutupan peti sebagai penghormatan terakhir, cukup apa engga (biasanya sih 'ga cukup, harus tambah lagi).

Didepan anak-anak, Ryan dan Rainer, juga saya tenang. Saya 'ga mau bikin mereka bingung.

Tampaknya semua orang mengagumi saya karena saya begitu tabah. Bahkan ketika saya mewakili keluarga (bergantian dengan kakak dan adik) memberikan kesaksian dan ucapan terimakasih kepada seluruh pelayat yang hadir, saya begitu tenang. Tiga kali saya memberikan kesaksian dan ucapan terimakasih: 1) di rumah duka Bumi Baru II, Bandung, 2) di GPdI Lengkong Kecil, Bandung, dan 3) di pemakaman Kerkoff, Tegal. Hanya sesekali saya berhenti berusaha menahan tangis, tetapi semua kata-kata akhirnya mengalir keluar dari mulut saya (hampir) tanpa hambatan.

Tetapi, ketika pemakaman telah berakhir dan kami kembali ke rumah kami masing-masing, barulah saya mulai merasakan kesedihan itu. Berbagai kenangan hadir kembali berkelabatan dalam ingatan saya. Hati saya terasa hancur. Pada saat itu saya merasakan hati saya perih seperti tertusuk duri. Perut saya kejang. Dan saya menangis tersedu-sedu. Tanpa dapat saya hentikan, airmata saya terus mengalir, mulut saya mengeluarkan suara tangisan yang tidak biasa (bukan seperti tangisan yang saya pernah alami). Dan kedukaan itu terasa sangat dalam, jauh sampai ke lubuk hati saya.

Timbul perasaan menyesal karena masih banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan untuk mami papi. Menyesal, karena saya belum lama memperbaiki hubungan dengan mami. Saya menangis terus setiap malam, sampe anak saya Ryan, sering ikut menangis bersama saya.

Pikiran saya terasa penuh: bagaimana mami papi sekarang? Apa yang terjadi dengan mereka? Apakah mereka bisa melihat kami? Apakah mereka merasakan kesedihan dan penyesalan kami? Dan beribu macam lagi pertanyaan. (Hehe...pertanyaan-pertanyaan seperti orang 'ga pernah baca Firman Tuhan aja).

Selama seminggu saya sakit. Kepala pusing, badan nyeri semua, maag sakit, perasaan jadi sensitif, dan saya menjadi lebih manja pada suami, ngambek kalo 'ga diperhatiin.

Itu semua akibat saya sedih. Sedih karena kehilangan orang tua yang saya cintai.

Rasa sedih (baca: duka) itu adalah proses yang panjang dan bersifat individual. Tiap orang merasakan dan menjalani kesedihan dengan cara berbeda-beda. Ada yang langsung dapat menyadari kesedihan/dukanya. Ada yang menjadi linglung, alias 'ga sadar ada apa sih ini. Ada yang dengan marah-marah, entah ke dokter, entah ke saudara yang selama ini tinggal bersama orang yang meninggal, ke dirinya sendiri, atau bahkan ke orang yang meninggal. Dan, bukan tidak mungkin ada yang marah kepada Tuhan.

Ada yang mengekspresikannya dengan menangis pagi-siang-malam, kurang tidur, rambut acak2an, ga pernah pake make-up lagi, seharian mengurung diri di kamar memusuhi matahari, gak mau makan, berat badan menyusut bahkan kulit menjadi keriput, memakai baju berwarna hitam selama setahun. Macam2, tapi gak tau kenapa saya tidak bisa berekspresi seperti itu.

Ada yang menangani kesedihan dengan mengurung diri selama berhari-hari di kamar, pergi keluar kota tanpa peduli dia masih terikat sebagai karyawan, ada juga yang melampiaskannya dengan mencari hiburan di luar lingkungan keluarganya.

Intinya, kesedihan mempunyai banyak bentuk.

Saya sedih. Tapi, saya juga ingat bahwa saya mempunyai pengharapan. Pengharapan pada Tuhan.

Mungkin, kesedihan ini akan terus terasa setiap hari, atau mungkin menghilang dan timbul lagi di masa yang akan datang. Tak bisa kita hindari, tapi 'ga bijak juga kalo kita biarkan berlarut-larut.

Alangkah senangnya bila ada teman yang mau menjadi tempat berbagi dan bukannya menyangsikan rasa sayang kita kepada orang yang meninggal, hanya karena melihat kita tidak bersedih.....

No comments:

Christian graphics