"Life is too short and so F*** unfair".
Sebaris kalimat yang aku baca di status facebook salah seorang teman yang kebetulan sepupu suami aku, Shinta.
Membaca itu aku jadi sedih. Bukan karena kalimatnya yang terdengar kasar, tapi karena aku ngerti banget alasan dibalik tulisan itu. Aku sangat mengerti perasaan amarah, kekecewaan, kesedihan, kegalauan dan emosi2 lain yang timbul di hati Shinta karena kehilangan satu2nya adik yang dia miliki.
Adik Shinta, Gita meninggal pertengahan bulan Agustus '09 kemarin. Dirawat di ICU dalam keadaan sadar sampai perlahan2 kehilangan kesadaran, sebelum akhirnya tertidur untuk selamanya. Menyerah kalah karena obat yang diberikan dokter udah gak bisa mengobati bakteri yang ada di paru2 Gita yang fungsinya sejak awal dirawat hanya tinggal 20% akibat penyakit bronchopneumonia (infeksi paru2). Penyakit yang menurut dokter gak terjadi secara tiba2. Tetapi yang gak mungkin juga disangka2 dan mengajukan pemeriksaan secara menyeluruh di tahun2 sebelumnya, kalo Gita sendiri gak pernah merasa sakit yang lebih serius, selain batuk yang kemudian sembuh hanya dengan minum obat batuk biasa.
Siapa yang menyangka?
Sebelumnya Gita adalah seorang wanita muda yang sehat, enerjik, gaul, cantik *banget* dengan pekerjaan dan karir yang oke. Tinggal di Bali, sebuah pulau yang disebut pulau dewata, pulau eksotis yang masih menjadi number one choice tempat favorit liburan hampir semua orang termasuk aku, anak2 dan suami. Semua sempurna, sampai tiba2 Gita mengeluh batuk, panas, dua penyakit yang umum tapi lalu diikuti rasa sesak nafas, and then.....that's it. Perjalanan hidup dia harus berhenti sampai disitu aja.
Siapa yang gak shock?!
Shock banget. Sebuah pukulan besar yang dirasakan keluarga besar termasuk aku yang hanya sepupu ipar. Terlebih karena aku ada di dalam ruang ICU itu pada saat detik2 terakhir dokter memeriksa dan menyatakan semua sudah selesai. Melihat sinyal2 di layar monitor yang semuanya telah flat. Mendengar jerit tangis keluarga dan sahabat dekat Gita yang ikut masuk dalam ruang ICU. Suasana yang mirip sekali dengan dua pengalaman aku terdahulu ketika menemani seorang teman lama yang ibunya udah koma dan ketika mendampingi papi aku di rumah sakit.
Life is short? Yes. We'll never know what will happen next. Seperti gempa yang terjadi tanggal 2 September kemarin, tidak bisa diprediksi, tidak bisa diduga. Itu sebabnya BMG gak pernah bisa kasih informasi yang akurat dan pasti. Karena semua terjadi secara tiba2. Siap atau gak siap.
Life is unfair? Yes. Begitu jawaban aku ketika baru kehilangan kedua orang tuaku hampir setahun yang lalu. Usia mereka masih tergolong muda untuk orang2 tua seangkatan mereka. Tanpa penyakit yang berat kecuali papi yang memang sudah mulai sakit2an. Tapi, masih oke lah.
Sepasang suami istri tetangga papi mami aku di Bandung, dengan umur yang lebih tua dan sudah tidak berdaya karena penglihatan yang kabur, kaki yang sudah tidak bisa menopang tubuh mereka sehingga hanya bisa duduk dan tidur. Berjalan, mandi dan makan harus dibantu orang lain, tetapi sampai saat ini masih hidup. Padahal menurut mereka, mereka sangat berharap untuk bisa 'mati' saja karena sangat tidak nyamannya keadaan tubuh mereka sekarang.
Aku bukan berharap mereka mati, tetapi kenapa orang lain dengan kondisi seperti itu bisa hidup lebih lama sedangkan kedua orang tuaku tidak? Yes, life is truly unfair.
Tetapi....
Kalo pertanyaan itu diulang sekarang ini,....aku gak bisa jawab. Aku hanya bisa percaya dan menyerahkan semua pada Tuhan. Aku belajar untuk menerima kehilangan ini, karena yang punya hidup kita adalah Tuhan. Aku gak berani menggugat otoritas Tuhan. Rencana Dia bukan rencana kita manusia. Jalan2 Tuhan bukan jalan kita. Semuanya misteri, tetapi Tuhan minta kita untuk percaya aja, percaya yang tanpa batas dan menurut sama Dia.
Yang pasti, dengan kesadaran bahwa hidup ini singkat aku berharap aku bisa lebih menghargai dan mensyukuri setiap tarikan nafas yang membuat aku masih hidup saat ini dengan mengumpulkan lebih banyak lagi bekal2 rohani....Karena cuman itu satu2nya harta yang bisa aku bawa nanti pada saat aku pamit dari dunia ini.
:: see more gadget at the bottom of the page ::
Showing posts with label small thought. Show all posts
Showing posts with label small thought. Show all posts
Tuesday, September 08, 2009
Thursday, June 04, 2009
Reconsider.....
"Take it from Richard, poor and lame, what's begun in anger ends in shame"
Benjamin Franklin
Aku ingat, dulu setiap kali marah sama suami dan merasa unek-unek aku belom tersampaikan semua, aku sering banget tergoda untuk melampiaskannya lagi, melanjutkan ke ronde berikutnya dengan mengirim sms.
Tapi, ada satu nasehat yang aku lupa dengar atau baca dimana - kalo gak salah inget sih, sepertinya aku baca di sebuah buku renungan harian - yang katanya, kalo mo marah melalui surat sebaiknya surat itu di simpan dulu, jangan langsung dikirim pada saat kita masih marah. Nanti, setelah kemarahan kita reda kita baca2 lagi surat itu dan pertimbangkan apakah penyampaian kita udah benar dan bisa dimengerti, jangan sampe karena semangat melampiaskan emosi, kata2 yang kita gunakan gak tepat, salah atau kasar sehingga bukannya si penerima menangkap maksud inti surat kita dan masalah dapat diselesaikan, malahan kita dapat masalah baru.
Merasa nasehat itu benar, jadinya setiap kali aku mau kirim sms unek2, aku suka keep dulu. Aku simpan dulu di draft message, baca lagi berulang2, mengkoreksi beberapa kalimat supaya jangan sampe timbul salah pengertian, dan baru deh aku kirim.....Walopun sebenarnya sms itu lebih sering batal dikirim juga sih, soalnya sementara baca2 lagi emosi aku ikutan jadi reda. Bisa ditebak, sms itu lebih sering tersimpan aman di draft message henfon aku daripada terkirim :). *Kalo sekarang dibaca2 lagi aku jadi suka ketawa-tawa, senyum2 sendiri karena udah lupa2 ingat kalo pernah ada suatu kejadian yang bikin aku jengkel dan ketik sms itu :).*
Thanks God, gak jadi pecah perang yang gak perlu. Gak perlu bikin orang jadi sakit hati, karena kata2 yang kita ucapkan selagi emosi yang kemungkinan besar dan udah terbukti akan bikin kita nyesel belakangan.
Benjamin Franklin
Aku ingat, dulu setiap kali marah sama suami dan merasa unek-unek aku belom tersampaikan semua, aku sering banget tergoda untuk melampiaskannya lagi, melanjutkan ke ronde berikutnya dengan mengirim sms.
Tapi, ada satu nasehat yang aku lupa dengar atau baca dimana - kalo gak salah inget sih, sepertinya aku baca di sebuah buku renungan harian - yang katanya, kalo mo marah melalui surat sebaiknya surat itu di simpan dulu, jangan langsung dikirim pada saat kita masih marah. Nanti, setelah kemarahan kita reda kita baca2 lagi surat itu dan pertimbangkan apakah penyampaian kita udah benar dan bisa dimengerti, jangan sampe karena semangat melampiaskan emosi, kata2 yang kita gunakan gak tepat, salah atau kasar sehingga bukannya si penerima menangkap maksud inti surat kita dan masalah dapat diselesaikan, malahan kita dapat masalah baru.
Merasa nasehat itu benar, jadinya setiap kali aku mau kirim sms unek2, aku suka keep dulu. Aku simpan dulu di draft message, baca lagi berulang2, mengkoreksi beberapa kalimat supaya jangan sampe timbul salah pengertian, dan baru deh aku kirim.....Walopun sebenarnya sms itu lebih sering batal dikirim juga sih, soalnya sementara baca2 lagi emosi aku ikutan jadi reda. Bisa ditebak, sms itu lebih sering tersimpan aman di draft message henfon aku daripada terkirim :). *Kalo sekarang dibaca2 lagi aku jadi suka ketawa-tawa, senyum2 sendiri karena udah lupa2 ingat kalo pernah ada suatu kejadian yang bikin aku jengkel dan ketik sms itu :).*
Thanks God, gak jadi pecah perang yang gak perlu. Gak perlu bikin orang jadi sakit hati, karena kata2 yang kita ucapkan selagi emosi yang kemungkinan besar dan udah terbukti akan bikin kita nyesel belakangan.
Sunday, May 31, 2009
Thank You....

Berbuat baik, yes. Mengharap balasan, jangan deh.
Kebanyakan orang udah tau rule yang simple ini, tapi tetep aja aku masih suka dengar keluhan dari beberapa orang yang merasa perbuatan baik mereka gak mendapat balasan yang setimpal atau mungkin lebih tepatnya gak sesuai dengan ekspetasi mereka.
Seorang teman, sebut aja A pernah telfon,
A : "Lo udah tau blom si B udah ngelahirin?"
Aku : "Blom. Eh, emang udah ya? Udah pada nengok blom?"
A : "Belom. Biarin deh, nanti aja kapan2."
Aku : "Lho? Kenapa?"
A : "Males ah. Waktu itu aja anak gue masuk rumah sakit, temen2 gak ada yang datang nengok."
Aku cuman membalas dengan ketawa kecil sambil mesem2, karena aku termasuk salah seorang yang absen visit ke rumah sakit walopun sebenarnya aku ke rumah dia juga setelah anaknya keluar dari rumah sakit :).
Pernah juga ada seseorang yang nyeletuk ketika dia sakit, katanya, "Yang datang nengok pasti banyak nih, keterlaluan aja kalo engga, karena aku kan anggota tim visitasi, aku suka nengokkin mereka2 juga."
Kedengaran agak nuntut ya, tapi masih wajar.
Dan sebenarnya memang ada kog, ganjaran untuk setiap perbuatan baik kita. Gak selalu dari orang yang kita pikir 'akan' membalas kebaikan kita sama dia. Orang itu bisa siapa aja dan darimana aja, tapi intinya kita menerima balasan atas perbuatan baik kita.
Emang sih, kadang2 kepikir juga kalo misalnya kita lagi sakit, lagi berduka atau lagi senang baru punya bayi trus teman kita gak bisa datang menghibur, berbagi duka atau suka dengan kita, sebenarnya mereka bisa telfon atau minimal sms kan?! Supaya kita tau mereka care, sama seperti kita udah care sama mereka.
However, aku gak pernah maksa orang untuk baik sama aku. Gak mau nuntut juga, "eh, lo dateng donk nengok gue, kemaren waktu lo sakit kan gue nengok juga." Bebas2 aja, santai2 aja, jangan jadi beban.
Aku juga berusaha kalo baik sama orang itu bukan karena terpaksa, tapi karena aku mau dan tulus melakukannya.
And, to those who had shown their care to me, i'd like to say thank you. That's really highly appreciated. May God bless you all abundantly :).
Wednesday, March 25, 2009
Do it now!
"Jika mempunyai niat baik lakukanlah segera, jangan ditunda-tunda. Tetapi jika mempunyai niat tidak baik tundalah melaksanakannya. Apabila bisa tundalah sampai akhir zaman."
Wow! Tulisan yang ada di T-shirt Joger yang dipake oleh gak tau siapa yang sama2 sedang antri di kantor BCA kemaren bikin aku sempet flash back, menjadi 'lagi-lagi' menyesal *karena banyak banget niat baik di tahun kemaren yang aku tunda2* dan berpikir2 .
Lumayan juga deh, karena berpikir2 itu jadi sempet 'mati rasa' beberapa saat menjalani antrian yang panjaaang banget...:p
Ya deh, aku janji, tahun ini aku akan berusaha untuk gak pake banyak pertimbangan kalo mau berbuat baik. Lagian, mau berbuat baik aja kog ya banyak mikirnya toh?! :)
Wow! Tulisan yang ada di T-shirt Joger yang dipake oleh gak tau siapa yang sama2 sedang antri di kantor BCA kemaren bikin aku sempet flash back, menjadi 'lagi-lagi' menyesal *karena banyak banget niat baik di tahun kemaren yang aku tunda2* dan berpikir2 .
Lumayan juga deh, karena berpikir2 itu jadi sempet 'mati rasa' beberapa saat menjalani antrian yang panjaaang banget...:p
Ya deh, aku janji, tahun ini aku akan berusaha untuk gak pake banyak pertimbangan kalo mau berbuat baik. Lagian, mau berbuat baik aja kog ya banyak mikirnya toh?! :)
Monday, March 16, 2009
Happines is....
"Kamu mau beli jam juga?" tanya suamiku ketika aku terlihat agak sedih gitu saat berkomentar betapa bagusnya hadiah ulang tahun jam (tangan) dari kita buat mami (mertua). Ya ampuuun...jadi gak enak hati :p, aku kan cuman komentar dan lagi apa gak kebangetan kalo aku masih pengen punya jam tangan lagi pdhal udah punya beberapa (cieee...Ya emang sih yang rantainya gold blom punya :p, hehehe). Tapi..., bukan itu yang bikin aku terlihat agak sedih. Bukan karena iri atau pengen beli buat diriku sendiri tapi karena nyesel! Tahun lalu aku juga pengen banget beli jam tangan for my mom as her birthday's gift, tapi ditunda2 terus sampe akhirnya, skarang, mo beli barang sebagus dan semahal apapun juga udah gak guna :(.
Di saat yang lain,
"Ntar kamu papi beli'in bb (blackberry) juga deh, yg ada tombolnya," kata suamiku yang kayaknya gerah mendengar keluhanku tiap kali pake bb dia. Weeeks! Yg kepengen punya bb tuh siapa? Dia pikir sungut2 aku tiap kali pake bb dia tuh karena pengen punya juga. Pdhal aku hanya sebel selalu kesulitan pake bb dia yg model touch screen gitu, soalnya tangan aku kan sering keringetan...:p (yg kata orang2 pertanda sakit jantung :)).
Suamiku emang gitu, suka menawarkan aku sesuatu kalau melihat aku seperti 'kesal'. Berpikir bahwa ia bisa meredam 'kekesalanku' dengan uang/materi.
Walaupun aku tau niatnya baik untuk nyenengin aku, tapi tetap aja (kadang2) aku tersinggung. Yang sebenarnya, kalo dipikir2 lucu juga ya kenapa harus tersinggung, karena jujur aku suka uang :). Tapi di lain pihak aku mati2an menjaga diriku agar engga materialistis, hehehe...*Mungkin, karena adanya anggapan bahwa menyukai uang agak2 amoral. Gak pantes. Dan bisa2 dicoret dari daftar calon menantu :)*. Lucu, karena aku berusaha menganggap uang gak penting, tapi di saat yang sama aku cemas kalo saldo di rekening bank-ku berkurang :p.
Ya,...kalo dibandingin sama orang lain sih mungkin kecemasanku soal uang gak seberapa. Ada seorang tante yang kebingungan karena aku gak kerja lagi. Ucapan pertamanya waktu aku bilang udah brenti kerja, "hari gini mana cukup?". Well, terus terang aja kalo ngomong soal cukup gak cukup itu kan relatif. Ya, buktinya dia yang udah kaya begitu masih merasa belum cukup juga :).
Tapi, anyway, siapa sih yang gak suka uang? Aku gak mau munafik, aku suka uang tapi bukan gila uang (setidaknya sepanjang ingatanku aku berusaha untuk begitu :p). Uang bukan segala-galanya tapi tetap aja uang dibutuhkan, karena zaman sekarang sistem barternya pake uang. Kalo bisa tukar susu bayi atau uang sekolah anak pake singkong sih mau banget :p, aku pasti akan tanam singkong banyak2 dan meminta suamiku gak usah kerja kantor lagi supaya kita bisa punya gak cuman kualitas waktu bareng keluarga tapi juga kuantitas waktu .
Buat yang masih single...mungkin bolehlah gak terlalu peduli sama uang, tapi buat yang udah menikah dan punya anak uang bisa menjadi salah satu sumber keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan. Sebuah buku yang aku baca mengatakan: "satu keluarga yang memiliki anak 75% lebih mungkin terlambat membayar tagihan kartu kredit dan menurut penelitian yang dilakukan Elizabeth Warren dan Amelia Warren dari Harvard satu-satunya prediktor terpenting bahwa seorang perempuan akan berakhir dalam kehancuran keuangan adalah lahirnya seorang anak." Duh, aku sih gak berpikir sampe kesitu walopun aku akui pengeluaran buat anak tuh emang cukup sangat besar :p. Seorang teman pernah bilang anak dibiarin gitu aja dikasih makan seadanya juga akan tumbuh besar, gak diliat-liat juga tau2 udah besar, hehehe...pendapat yang aneh, gak salah tapi aneh :).
Aku memang suka uang, tapi aku berharap aku bisa belajar untuk lebih bijak mengendalikan uang dan ngga menggantungkan kebahagiaanku pada uang.
"Kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kau miliki, bukan memiliki apa yang kau inginkan." ~Mark Twain~
Di saat yang lain,
"Ntar kamu papi beli'in bb (blackberry) juga deh, yg ada tombolnya," kata suamiku yang kayaknya gerah mendengar keluhanku tiap kali pake bb dia. Weeeks! Yg kepengen punya bb tuh siapa? Dia pikir sungut2 aku tiap kali pake bb dia tuh karena pengen punya juga. Pdhal aku hanya sebel selalu kesulitan pake bb dia yg model touch screen gitu, soalnya tangan aku kan sering keringetan...:p (yg kata orang2 pertanda sakit jantung :)).
Suamiku emang gitu, suka menawarkan aku sesuatu kalau melihat aku seperti 'kesal'. Berpikir bahwa ia bisa meredam 'kekesalanku' dengan uang/materi.
Walaupun aku tau niatnya baik untuk nyenengin aku, tapi tetap aja (kadang2) aku tersinggung. Yang sebenarnya, kalo dipikir2 lucu juga ya kenapa harus tersinggung, karena jujur aku suka uang :). Tapi di lain pihak aku mati2an menjaga diriku agar engga materialistis, hehehe...*Mungkin, karena adanya anggapan bahwa menyukai uang agak2 amoral. Gak pantes. Dan bisa2 dicoret dari daftar calon menantu :)*. Lucu, karena aku berusaha menganggap uang gak penting, tapi di saat yang sama aku cemas kalo saldo di rekening bank-ku berkurang :p.
Ya,...kalo dibandingin sama orang lain sih mungkin kecemasanku soal uang gak seberapa. Ada seorang tante yang kebingungan karena aku gak kerja lagi. Ucapan pertamanya waktu aku bilang udah brenti kerja, "hari gini mana cukup?". Well, terus terang aja kalo ngomong soal cukup gak cukup itu kan relatif. Ya, buktinya dia yang udah kaya begitu masih merasa belum cukup juga :).
Tapi, anyway, siapa sih yang gak suka uang? Aku gak mau munafik, aku suka uang tapi bukan gila uang (setidaknya sepanjang ingatanku aku berusaha untuk begitu :p). Uang bukan segala-galanya tapi tetap aja uang dibutuhkan, karena zaman sekarang sistem barternya pake uang. Kalo bisa tukar susu bayi atau uang sekolah anak pake singkong sih mau banget :p, aku pasti akan tanam singkong banyak2 dan meminta suamiku gak usah kerja kantor lagi supaya kita bisa punya gak cuman kualitas waktu bareng keluarga tapi juga kuantitas waktu .
Buat yang masih single...mungkin bolehlah gak terlalu peduli sama uang, tapi buat yang udah menikah dan punya anak uang bisa menjadi salah satu sumber keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan. Sebuah buku yang aku baca mengatakan: "satu keluarga yang memiliki anak 75% lebih mungkin terlambat membayar tagihan kartu kredit dan menurut penelitian yang dilakukan Elizabeth Warren dan Amelia Warren dari Harvard satu-satunya prediktor terpenting bahwa seorang perempuan akan berakhir dalam kehancuran keuangan adalah lahirnya seorang anak." Duh, aku sih gak berpikir sampe kesitu walopun aku akui pengeluaran buat anak tuh emang cukup sangat besar :p. Seorang teman pernah bilang anak dibiarin gitu aja dikasih makan seadanya juga akan tumbuh besar, gak diliat-liat juga tau2 udah besar, hehehe...pendapat yang aneh, gak salah tapi aneh :).
Aku memang suka uang, tapi aku berharap aku bisa belajar untuk lebih bijak mengendalikan uang dan ngga menggantungkan kebahagiaanku pada uang.
"Kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kau miliki, bukan memiliki apa yang kau inginkan." ~Mark Twain~
Tuesday, February 24, 2009
Cherish The Memory
Rainer suka banget liat album foto keluarga. Kalo dia udah nyebut, "opa...opa..." *maksudnya opa Daniel, papi aku* sambil nunjuk2 album foto, itu berarti dia mau liat foto opanya :). Sedih juga karena 'sebenarnya' Rainer belum ngerti banget kan, secara umurnya masih 1 th 5 bln waktu opa Daniel meninggal :(.
Terakhir mami, papi nginep di rumah *Juli 2008* Rainer tuh lengket banget sama mereka. Padahal untuk orang yang jarang ketemu apalagi anak kecil biasanya kan suka malu2 gitu, jaga jarak untuk di observasi dulu dari jauh walopun itu keluarga mereka sendiri. Tapi, thanks God banget, Ryan & Rainer gak pernah nolak atau merasa canggung tiap kali dipeluk atau dicium oleh opa omanya, padahal intens pertemuan mereka bisa dihitung jari *ternyata anak kecil tuh misteri besar ya...Kita gak bisa bilang mereka gak ngerti karena kenyataannya mereka ngerti :)*.
Emang sih kasih sayang dari opa oma rasanya beda. Mereka lebih ngemong, sabar dan cenderung memanjakan cucunya. Mungkin itu sebabnya chemistry antara cucu dan opa omanya gak susah didapet :p.
Beruntung banget mereka yang masih punya opa oma, apalagi kalo bisa diajak bertukar pikiran dan berbagi pengalaman hidup. Hmmm...
Aku sendiri udah lama banget gak punya opa oma dari pihak papi. Opa Yan, biasa dipanggil opa Loa *kebiasaan orang2 di Manado mengubah/menyingkat nama orang supaya lebih mudah dipanggil atau diingat. Seperti misalnya William jadi Welem, Victor jadi Ito, Franky jadi Angky* udah meninggal waktu aku masih berumur 6 th. Gak banyak yang aku ingat dari opa Loa kecuali bahwa dia memang udah tua banget saat itu tapi masih kuat merokok dan minum kopi :p. Opa juga tinggi dan berkulit putih serta terlihat agak kebule2-an yang sayangnya gak nurun ke aku, hihihi...:p. Sedangkan oma Hellena *biasa dipanggil oma Ele* juga udah meninggal ketika aku kelas 6 SD. Mereka yang tinggal di Manado dan kami yang berpindah2 kota mengikut kerjaa'an papi membuat kami jadi gak bisa ketemu setiap saat.
Dari pihak mami, aku cuma ingat Oma Hanna. Soalnya opa udah meninggal lama ketika mamiku masih remaja.
Biasa deh, seperti kebanyakan oma dari Jawa, busana hari2 oma Hanna tuh kebaya dan kain dengan rambut yang disisir semuanya ke belakang dan dicepol sederhana. Padahal rambutnya mulai banyak yang rontok, tapi tetep aja dibiarin panjang. Mungkin oma lebih pede dengan model rambut cepol daripada model rambut pendek, lebih sesuai dengan gayanya berbusana kebaya kali ya. Aku perhatiin setiap helai rontokan rambut oma dikumpulin dan dimasukkin ke dalam sebuah plastik. Waktu aku tanya kenapa disimpan, katanya buat dijual, hahaha :D.
Oma Hanna memang lucu sekali. Dia punya sense of humor yang tinggi padahal aku tahu gak mudah bagi oma untuk menjadi janda dan menghidupi serta membesarkan kelima anaknya sendirian. Tapi, itulah oma. Selalu bercanda, tersenyum dan tertawa di tengah kerasnya hidup.
Suatu kali ketika sedang libur semester aku mengunjunginya untuk menginap beberapa hari. Ia mengajakku ke sebuah toko mas. Aku gak minta apa2 tapi ia memaksa membelikanku sebuah gelang kaki. Bener2 seorang perempuan berumur dengan hati seorang oma :).
Oma Hanna meninggal tahun 2000 dalam damai. Tidur seperti biasa dan keesokkan harinya gak bangun lagi. Oma ditemukan masih dalam posisi tidur miring dan sedang memeluk guling. Damai banget...
Banyak deh kenangan manis yang mereka tinggalkan. Bahkan walaupun itu dari opa Loa dan oma Ele yang hanya sebentar saja . Tapi, kepergian semuanya sama2 meninggalkan satu hal,.....kenangan manis.
What children need most are the essentials that grandparents provide in abundance. They give unconditional love, kindness, patience, humor, comfort, lessons in life. And, most importantly, cookies. ~Rudolph Giuliani
Terakhir mami, papi nginep di rumah *Juli 2008* Rainer tuh lengket banget sama mereka. Padahal untuk orang yang jarang ketemu apalagi anak kecil biasanya kan suka malu2 gitu, jaga jarak untuk di observasi dulu dari jauh walopun itu keluarga mereka sendiri. Tapi, thanks God banget, Ryan & Rainer gak pernah nolak atau merasa canggung tiap kali dipeluk atau dicium oleh opa omanya, padahal intens pertemuan mereka bisa dihitung jari *ternyata anak kecil tuh misteri besar ya...Kita gak bisa bilang mereka gak ngerti karena kenyataannya mereka ngerti :)*.
Emang sih kasih sayang dari opa oma rasanya beda. Mereka lebih ngemong, sabar dan cenderung memanjakan cucunya. Mungkin itu sebabnya chemistry antara cucu dan opa omanya gak susah didapet :p.
Beruntung banget mereka yang masih punya opa oma, apalagi kalo bisa diajak bertukar pikiran dan berbagi pengalaman hidup. Hmmm...
Aku sendiri udah lama banget gak punya opa oma dari pihak papi. Opa Yan, biasa dipanggil opa Loa *kebiasaan orang2 di Manado mengubah/menyingkat nama orang supaya lebih mudah dipanggil atau diingat. Seperti misalnya William jadi Welem, Victor jadi Ito, Franky jadi Angky* udah meninggal waktu aku masih berumur 6 th. Gak banyak yang aku ingat dari opa Loa kecuali bahwa dia memang udah tua banget saat itu tapi masih kuat merokok dan minum kopi :p. Opa juga tinggi dan berkulit putih serta terlihat agak kebule2-an yang sayangnya gak nurun ke aku, hihihi...:p. Sedangkan oma Hellena *biasa dipanggil oma Ele* juga udah meninggal ketika aku kelas 6 SD. Mereka yang tinggal di Manado dan kami yang berpindah2 kota mengikut kerjaa'an papi membuat kami jadi gak bisa ketemu setiap saat.
Dari pihak mami, aku cuma ingat Oma Hanna. Soalnya opa udah meninggal lama ketika mamiku masih remaja.
Biasa deh, seperti kebanyakan oma dari Jawa, busana hari2 oma Hanna tuh kebaya dan kain dengan rambut yang disisir semuanya ke belakang dan dicepol sederhana. Padahal rambutnya mulai banyak yang rontok, tapi tetep aja dibiarin panjang. Mungkin oma lebih pede dengan model rambut cepol daripada model rambut pendek, lebih sesuai dengan gayanya berbusana kebaya kali ya. Aku perhatiin setiap helai rontokan rambut oma dikumpulin dan dimasukkin ke dalam sebuah plastik. Waktu aku tanya kenapa disimpan, katanya buat dijual, hahaha :D.
Oma Hanna memang lucu sekali. Dia punya sense of humor yang tinggi padahal aku tahu gak mudah bagi oma untuk menjadi janda dan menghidupi serta membesarkan kelima anaknya sendirian. Tapi, itulah oma. Selalu bercanda, tersenyum dan tertawa di tengah kerasnya hidup.
Suatu kali ketika sedang libur semester aku mengunjunginya untuk menginap beberapa hari. Ia mengajakku ke sebuah toko mas. Aku gak minta apa2 tapi ia memaksa membelikanku sebuah gelang kaki. Bener2 seorang perempuan berumur dengan hati seorang oma :).
Oma Hanna meninggal tahun 2000 dalam damai. Tidur seperti biasa dan keesokkan harinya gak bangun lagi. Oma ditemukan masih dalam posisi tidur miring dan sedang memeluk guling. Damai banget...
Banyak deh kenangan manis yang mereka tinggalkan. Bahkan walaupun itu dari opa Loa dan oma Ele yang hanya sebentar saja . Tapi, kepergian semuanya sama2 meninggalkan satu hal,.....kenangan manis.
What children need most are the essentials that grandparents provide in abundance. They give unconditional love, kindness, patience, humor, comfort, lessons in life. And, most importantly, cookies. ~Rudolph Giuliani
Tuesday, February 10, 2009
Enaknya di rumah...
Ada enaknya juga being a stay home mom...:p. Kalo kurang tidur tinggal tidur lagi terserah mau jam berapa, hahaha.
Bayangin aja kalo punya balita dengan pola tidur masing2, ada yang suka nangis tiap beberapa jam, ada yang gelisah tidurnya bolak/ik sebentar2 kepalanya udah dibawah atau sebaliknya, yang kalo gak kita benerin posisinya takut jatuh dari tempat tidur. Hahaha, gimana kita bisa tidur pulas kalo begitu? Belum lagi setiap hari harus bangun jam 5 untuk beresin keperluan suami yang mau kerja dan anak yang mau sekolah. Sementara malemnya baru bisa tidur diatas jam 12 pm? Bisa dipastikan deh, kalo kerja kantoran pasti di kantor gak bisa konsen, kepala sakit dan akhirnya produktivitas kerja menurun.
Itu sebabnya waktu ada babysitter yang ngomongin majikannya yang katanya gak mau tidur sekamar dengan anak, aku maklum. Aku ngerti beban ibu bekerja. Dia butuh energi yang banyak untuk bisa kerja, melayani suami dan main sama anak2nya after office hour. Dan, itu gak akan bisa dia dapetin kalo dia kurang tidur. So, salute to those working mom :).
Bayangin aja kalo punya balita dengan pola tidur masing2, ada yang suka nangis tiap beberapa jam, ada yang gelisah tidurnya bolak/ik sebentar2 kepalanya udah dibawah atau sebaliknya, yang kalo gak kita benerin posisinya takut jatuh dari tempat tidur. Hahaha, gimana kita bisa tidur pulas kalo begitu? Belum lagi setiap hari harus bangun jam 5 untuk beresin keperluan suami yang mau kerja dan anak yang mau sekolah. Sementara malemnya baru bisa tidur diatas jam 12 pm? Bisa dipastikan deh, kalo kerja kantoran pasti di kantor gak bisa konsen, kepala sakit dan akhirnya produktivitas kerja menurun.
Itu sebabnya waktu ada babysitter yang ngomongin majikannya yang katanya gak mau tidur sekamar dengan anak, aku maklum. Aku ngerti beban ibu bekerja. Dia butuh energi yang banyak untuk bisa kerja, melayani suami dan main sama anak2nya after office hour. Dan, itu gak akan bisa dia dapetin kalo dia kurang tidur. So, salute to those working mom :).
Monday, February 09, 2009
Berobat ke negeri lain or Indonesia saja?
Sebenarnya udah pengen bikin postingan ini sejak beberapa waktu lalu, tapi kepending terus.
Kebetulan, waktu itu baca berita soal meninggalnya Ibunda dari salah seorang yang sedang mencalonkan diri untuk menjadi the next President in Indonesia di harian Kompas. Di akhir berita ada comment yang mempertanyakan rasa nasionalisme keluarga tsb yang membawa ibunya berobat ke Singapore. "Kenapa gak di Indonesia saja?"
Kalo boleh berpendapat, terserah orang donk mau berobat dimana kalau memang dia punya kemampuan secara finansial untuk berobat ke negara lain yang secara medis peralatan dan pengetahuannya lebih maju daripada Indonesia. Itu pertama, dan yang kedua, bagaimana kalau pertanyaannya dibalik? Apakah instansi rumah sakit / dokter-dokter di Indonesia mempunyai rasa nasionalisme yang sama pada saat menangani pasien-pasiennya yang secara notabene adalah saudara sebangsa setanah air dengan mereka?
Berkaca pada pengalaman pribadi, kayaknya kalau punya uang lebih mending berobat ke negara lain deh yang sudah diakui kemampuan dan keprofesionalannya menangani para pasien. Bagaimana tidak? Suamiku 2 tahun lalu dirawat di ruang VIP di sebuah rumah sakit daerah Menteng, yang tarifnya Rp 1jt/malam. Bukannya mau nyombong sebutin nominalnya disini, tapi bener2 deh keterlaluan, tarif kamar yang diberikan gak sesuai dengan luas ruang kamar, rumah sakit dan pelayanan yang diberikan. Bukannya membuat tenang pasien, suster dan pegawai administrasi malah bolak balik masuk kamar suamiku hanya untuk minta tanda tangan surat pernyataan mau membayar obat dengan jumlah sekian dan biaya2 lain yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi kepada pasien. Akhirnya, karena stress dan gak bisa istirahat suamiku langsung minta keluar dari rumah sakit padahal baru dirawat 1 malam 2 hari dan dalam kondisi masih agak keleyengan karena baru selesai diendoskopi.
Pengalaman lain ketika membawa papi kami dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Supaya papi nyaman, kami meminta kamar VIP. Tapi, lagi-lagi sikap tidak profesional diperlihatkan oleh suster dan dokter. Padahal ruang perawatan ayah kami di ruang VIP! Dan salah seorang keluarga sudah 'menitipkan' ayah kami pada seorang dokter kenalan yang berpraktek disana. Bayangkan, kalau ayah kami yang dirawat di ruang VIP aja mendapatkan penanganan yang tidak profesional, bagaimana pula pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien2 di ruang kelas 1, 2 atau 3?
Nah, sekarang yang tidak punya rasa nasionalisme tuh siapa?
Masalah ini bukan masalah baru kog, hampir di semua surat kabar, tabloid atau majalah kita bisa membaca tindakan2 medis / perawatan / pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien tuh seperti apa.
Namun, bukan berarti juga semua dokter atau perawat atau instansi rumah sakit di Indonesia seperti itu. Masih ada lah yang memberikan perhatian dan perawatan secara manusiawi. And, I know some of them!
Ya, well, ini hanya sharing pengalaman aja sih, supaya orang juga jangan seenaknya menuduh seseorang tidak punya rasa nasionalisme karena berobat ke negara lain. Namanya juga pengen sembuh usaha apa aja pasti akan dilakukan. Gak peduli meskipun harus sampai berlayar ke negeri seberang,...dan walaupun kadang2 bukan kesembuhan juga yang didapat. At least udah mencoba :p.
Kebetulan, waktu itu baca berita soal meninggalnya Ibunda dari salah seorang yang sedang mencalonkan diri untuk menjadi the next President in Indonesia di harian Kompas. Di akhir berita ada comment yang mempertanyakan rasa nasionalisme keluarga tsb yang membawa ibunya berobat ke Singapore. "Kenapa gak di Indonesia saja?"
Kalo boleh berpendapat, terserah orang donk mau berobat dimana kalau memang dia punya kemampuan secara finansial untuk berobat ke negara lain yang secara medis peralatan dan pengetahuannya lebih maju daripada Indonesia. Itu pertama, dan yang kedua, bagaimana kalau pertanyaannya dibalik? Apakah instansi rumah sakit / dokter-dokter di Indonesia mempunyai rasa nasionalisme yang sama pada saat menangani pasien-pasiennya yang secara notabene adalah saudara sebangsa setanah air dengan mereka?
Berkaca pada pengalaman pribadi, kayaknya kalau punya uang lebih mending berobat ke negara lain deh yang sudah diakui kemampuan dan keprofesionalannya menangani para pasien. Bagaimana tidak? Suamiku 2 tahun lalu dirawat di ruang VIP di sebuah rumah sakit daerah Menteng, yang tarifnya Rp 1jt/malam. Bukannya mau nyombong sebutin nominalnya disini, tapi bener2 deh keterlaluan, tarif kamar yang diberikan gak sesuai dengan luas ruang kamar, rumah sakit dan pelayanan yang diberikan. Bukannya membuat tenang pasien, suster dan pegawai administrasi malah bolak balik masuk kamar suamiku hanya untuk minta tanda tangan surat pernyataan mau membayar obat dengan jumlah sekian dan biaya2 lain yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi kepada pasien. Akhirnya, karena stress dan gak bisa istirahat suamiku langsung minta keluar dari rumah sakit padahal baru dirawat 1 malam 2 hari dan dalam kondisi masih agak keleyengan karena baru selesai diendoskopi.
Pengalaman lain ketika membawa papi kami dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Supaya papi nyaman, kami meminta kamar VIP. Tapi, lagi-lagi sikap tidak profesional diperlihatkan oleh suster dan dokter. Padahal ruang perawatan ayah kami di ruang VIP! Dan salah seorang keluarga sudah 'menitipkan' ayah kami pada seorang dokter kenalan yang berpraktek disana. Bayangkan, kalau ayah kami yang dirawat di ruang VIP aja mendapatkan penanganan yang tidak profesional, bagaimana pula pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien2 di ruang kelas 1, 2 atau 3?
Nah, sekarang yang tidak punya rasa nasionalisme tuh siapa?
Masalah ini bukan masalah baru kog, hampir di semua surat kabar, tabloid atau majalah kita bisa membaca tindakan2 medis / perawatan / pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien tuh seperti apa.
Namun, bukan berarti juga semua dokter atau perawat atau instansi rumah sakit di Indonesia seperti itu. Masih ada lah yang memberikan perhatian dan perawatan secara manusiawi. And, I know some of them!
Ya, well, ini hanya sharing pengalaman aja sih, supaya orang juga jangan seenaknya menuduh seseorang tidak punya rasa nasionalisme karena berobat ke negara lain. Namanya juga pengen sembuh usaha apa aja pasti akan dilakukan. Gak peduli meskipun harus sampai berlayar ke negeri seberang,...dan walaupun kadang2 bukan kesembuhan juga yang didapat. At least udah mencoba :p.
Wednesday, January 28, 2009
Sebagian dari yang 'kepikiran' itu (Part I)
Pernah ada yang bilang, kita baru akan benar2 tau bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita sayangi ketika kita sendiri mengalami kehilangan itu.
And I find it very true. Perasaan sedih, rindu, kecewa, menyesal, marah, kehilangan mami papi, semuanya masih terasa campur aduk hingga saat ini. Berbagai macam pikiran dan pertanyaan juga masih terus berseliweran dikepalaku yang sebenarnya sudah aku 'set' untuk gak dipake berpikir yang berat2 :).
Beberapa kesadaran timbul bahwa apapun usaha yang kita lakukan untuk tubuh jasmani kita seperti yang banyak dijadikan topik dalam seminar2 kesehatan, diiklankan di media tv dan media cetak, demi memiliki hidup sehat atau awet muda, semua itu pada dasarnya hanya memperpanjang umur kita saja. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sekali lagi itu hanya untuk memperpanjang umur kita. Pada akhirnya, toh, kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dan bila saat itu tiba apakah kita sudah membawa bekal rohani yang cukup untuk menghadap Yang Maha Kuasa?
Seorang Ibu Pendeta (janda) dari gereja yang tidak sealiran denganku pernah tanya apa aku bisa memberi sumbangan Natal untuk gerejanya. Sebulan kemudian ketika aku sudah transfer, dia telpon. Aku bilang, "Sorry Tan, aku cuman bisa kasih seadanya." Dia jawab, "Wah, Tante terima kasih banget kamu sudah mau memberi. Orang memberi bukan karena dia kaya atau miskin tapi karena hatinya 'tergerak' untuk memberi."
Mungkin benar juga, besar kecil pemberian seseorang bukan karena dia berasal dari golongan kaya atau menengah atau bawah atau memiliki hubungan kekerabatan. Tapi, karena hatinya merasa tergerak untuk memberi entah karena simpati entah karena iba, apapun itu yang pasti itu dilakukan karena adanya 'dorongan' untuk melakukannya. Baris tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa2. Aku dan keluarga besar sangat berterimakasih untuk semua pemberian yang kami terima ketika mami papi meninggal baik moril maupun materiil. Besar kecil pemberian itu tidak menjadi ukuran. Hanya, aku menyadari kemungkinan kebenaran omongan tante diatas itu, karena aku ingat ketika mami papi meninggal ada amplop duka dari seorang ibu rumah tangga yang suaminya memiliki bengkel kecil, sederhana banget tapi memberi lebih besar drpd seorang pengusaha garmen. Juga ketika ada kenalan mami papi yang sudah memberi amplop tapi memberi lagi katanya, "kepengen".
Bukan berarti juga bahwa pemberian itu harus melulu menyangkut uang, ada orang yang tergerak untuk memberikan makanan kepada para tunawisma di jalanan setiap minggu, ada orang yang tergerak untuk mengajar anak2 kurang mampu tanpa memungut bayaran ataupun dibayar, ada orang yang merasa tergerak untuk membantu orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya sama seperti kisah orang Samaria yang baik hati, dan masih banyak lagi contoh2 lain yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan hanya oleh satu alasan hatinya merasa 'tergerak' atau terdorong oleh suatu keinginan kuat untuk memberi.
Pernah terdengar suara2 kasihan umur mami papi pendek (61th dan 66th). Walaupun aku sendiri menyesalinya tapi, aku kemudian ingat bahwa Yesus sendiripun hidupnya pendek. Hanya sampai umur 33 th. Tapi kasihNya, kebaikkanNya, mukjizat2Nya, kesaksian2Nya, dan hal2 lain dari diri Yesus masih diperbincangkan terus hingga saat ini. Intinya Yesus telah membuat hidupNya yang singkat itu penuh makna. Jadi, bukan panjang pendek umur yang menjadi ukuran hidup seseorang melainkan 'isi' dari hidup itu sendiri.
Banyak penghormatan yang aku lihat ditunjukkan kepada mami papi ketika mereka meninggal. Betapa mereka selama hidup mereka telah menabur banyak kebaikan sehingga menuai banyak kebaikan juga. Itulah isi kehidupan mereka dan perjalanan mengisi hidup itu telah mereka selesaikan sampai disana.

Walaupun tempat mereka gak lagi di dunia ini, tapi di salah satu ruang hatiku aku tau mereka ada...
Oh Bunda/Ayah,
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada
Di dalam hatiku
“Bunda” - Melly Goeslaw

1st image taken from family album.
2nd image taken from www.fotosearch.com
And I find it very true. Perasaan sedih, rindu, kecewa, menyesal, marah, kehilangan mami papi, semuanya masih terasa campur aduk hingga saat ini. Berbagai macam pikiran dan pertanyaan juga masih terus berseliweran dikepalaku yang sebenarnya sudah aku 'set' untuk gak dipake berpikir yang berat2 :).
Beberapa kesadaran timbul bahwa apapun usaha yang kita lakukan untuk tubuh jasmani kita seperti yang banyak dijadikan topik dalam seminar2 kesehatan, diiklankan di media tv dan media cetak, demi memiliki hidup sehat atau awet muda, semua itu pada dasarnya hanya memperpanjang umur kita saja. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sekali lagi itu hanya untuk memperpanjang umur kita. Pada akhirnya, toh, kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dan bila saat itu tiba apakah kita sudah membawa bekal rohani yang cukup untuk menghadap Yang Maha Kuasa?
Seorang Ibu Pendeta (janda) dari gereja yang tidak sealiran denganku pernah tanya apa aku bisa memberi sumbangan Natal untuk gerejanya. Sebulan kemudian ketika aku sudah transfer, dia telpon. Aku bilang, "Sorry Tan, aku cuman bisa kasih seadanya." Dia jawab, "Wah, Tante terima kasih banget kamu sudah mau memberi. Orang memberi bukan karena dia kaya atau miskin tapi karena hatinya 'tergerak' untuk memberi."
Mungkin benar juga, besar kecil pemberian seseorang bukan karena dia berasal dari golongan kaya atau menengah atau bawah atau memiliki hubungan kekerabatan. Tapi, karena hatinya merasa tergerak untuk memberi entah karena simpati entah karena iba, apapun itu yang pasti itu dilakukan karena adanya 'dorongan' untuk melakukannya. Baris tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa2. Aku dan keluarga besar sangat berterimakasih untuk semua pemberian yang kami terima ketika mami papi meninggal baik moril maupun materiil. Besar kecil pemberian itu tidak menjadi ukuran. Hanya, aku menyadari kemungkinan kebenaran omongan tante diatas itu, karena aku ingat ketika mami papi meninggal ada amplop duka dari seorang ibu rumah tangga yang suaminya memiliki bengkel kecil, sederhana banget tapi memberi lebih besar drpd seorang pengusaha garmen. Juga ketika ada kenalan mami papi yang sudah memberi amplop tapi memberi lagi katanya, "kepengen".
Bukan berarti juga bahwa pemberian itu harus melulu menyangkut uang, ada orang yang tergerak untuk memberikan makanan kepada para tunawisma di jalanan setiap minggu, ada orang yang tergerak untuk mengajar anak2 kurang mampu tanpa memungut bayaran ataupun dibayar, ada orang yang merasa tergerak untuk membantu orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya sama seperti kisah orang Samaria yang baik hati, dan masih banyak lagi contoh2 lain yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan hanya oleh satu alasan hatinya merasa 'tergerak' atau terdorong oleh suatu keinginan kuat untuk memberi.
Pernah terdengar suara2 kasihan umur mami papi pendek (61th dan 66th). Walaupun aku sendiri menyesalinya tapi, aku kemudian ingat bahwa Yesus sendiripun hidupnya pendek. Hanya sampai umur 33 th. Tapi kasihNya, kebaikkanNya, mukjizat2Nya, kesaksian2Nya, dan hal2 lain dari diri Yesus masih diperbincangkan terus hingga saat ini. Intinya Yesus telah membuat hidupNya yang singkat itu penuh makna. Jadi, bukan panjang pendek umur yang menjadi ukuran hidup seseorang melainkan 'isi' dari hidup itu sendiri.
Banyak penghormatan yang aku lihat ditunjukkan kepada mami papi ketika mereka meninggal. Betapa mereka selama hidup mereka telah menabur banyak kebaikan sehingga menuai banyak kebaikan juga. Itulah isi kehidupan mereka dan perjalanan mengisi hidup itu telah mereka selesaikan sampai disana.
Walaupun tempat mereka gak lagi di dunia ini, tapi di salah satu ruang hatiku aku tau mereka ada...
Oh Bunda/Ayah,
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada
Di dalam hatiku
“Bunda” - Melly Goeslaw

1st image taken from family album.
2nd image taken from www.fotosearch.com
Friday, January 16, 2009
Mendadak Kreatif
Salah satu hal yang aku pelajari after being a mom is to be creative.
Yang aku maksud disini bukan kreatif menjahit, memasak atau membuat kue, tapi kreatif berpikir cepat mencari kata2 atau mengalihkan perhatian anak supaya bisa dibujuk untuk: brenti nangis, menghabiskan makanannya (basi kalo cuman bilang: "ayo donk chayank...abisin mamamnya". Udah gak mempan. Skarang kita ibu2 dituntut kreatif bikin tampilan makanannya semenarik mungkin not just something to eat but a lifestyle (ngutip dari AFC channel :p)), mau mandi, stop main, ganti baju, berani unjuk kebolehan, tidur siang, tidur cepat di malam hari, bikin pe-er, dll.
Macam2 lah, termasuk juga kreatif ngajarin anak mengenal bentuk, warna, huruf, angka (ada beberapa teman yang gak bisa kreatif ngajarin anak. Alasannya si anak gak mau denger omongan mereka, jadi solusinya anak mereka dibawa ke tempat kursus. Ya gpp juga, tapi kalo mulai umur 2th udah dikasih les kan kasian anaknya juga).
Anyway, waktu antar Ryan test IQ kemaren, gak tau gimana dia tiba2 mogok gak mau masuk ruang test. Padahal dari rumah gak apa2. Sampe sekolah juga masih santai dulu, nonton murid2 SD disitu main sepakbola karena testnya blom dimulai.
Senewen banget. Bingung. Gak enak sama tim pengujinya karena mereka jauh2 datang dari kantor pusat, di tanjung duren.
Udah bujuk2, dibantu oleh staff sekolah dan salah satu ibu dari tim penguji tetap juga dia gak mau. Mau sih, dengan syarat aku ikutan masuk ke dalam ruangan which is yang peraturannya tidak boleh. Jadi pusing...
"Abis ini kita ke timezone yuuk," rayu aku. Ryan tetap geleng2 kepala. Duuuh...bingung banget. Waktu berjalan terus dan aku gak punya ide gimana cara bujuk dia dalam waktu sesingkat mungkin. Sampai akhirnya aku inget dia tuh gak suka sama mata pelajaran Korea di TK dia skarang. Aku bilang, "kalo Ryan gak mau ikut test nanti Ryan balik lagi lho terusin SD-nya di skolah yang skarang. Ryan jadi belajar bahasa Korea lagi deh. Katanya gak suka." Dia kelihatan mikir2 gitu. Akhirnya... berhasil! Mau juga deh dia masuk dan duduk didepan ibu penguji. Lega.....:).
Untunglah setelah selesai dia keluar ruangan dengan riang, gak kelihatan stress :). Padahal testnya cukup lama juga satu jam lebih dan diawali dengan 'pertarungan' batin dulu :p.
Salah satu kreatifitas yang lain adalah bercerita. Ryan suka sekali diceritain. Mau tidur siang minta cerita, tidur malam juga. Mending kalo cerita dari buku, kadang2 dia kasih tema yang kita harus create sendiri. "Mi cerita tentang Ryan ke Bali. Semua teman2 ikut: ada Mickey, Pooh, Handy Manny, Ben 10, Aang, Tom, Jerry, Dora, Diego,...(dan tokoh2 lain dari channel anak2 favorit dia)." Ceritanya sih pendek, nyebutin semua tokoh2 itu lho yang bikin lama saking banyaknya :).
Aku juga suka seenaknya mengubah syair lagu (maaf kepada penciptanya :)).
"Satu satu mami sayang Rainer
Dua dua papi sayang Rainer
Tiga tiga kakak sayang Rainer
Satu dua tiga semua sayang Rainer"
(Gubahan dari lagu satu satu aku sayang Ibu).
Intinya, lagi-lagi semua itu butuh kreatifitas. Kelihatan sepele tapi, coba aja gampang2 susah lho...:). Kalo yang punya anak balita pasti deh tau kerepotannya gimana :p.
Yang aku maksud disini bukan kreatif menjahit, memasak atau membuat kue, tapi kreatif berpikir cepat mencari kata2 atau mengalihkan perhatian anak supaya bisa dibujuk untuk: brenti nangis, menghabiskan makanannya (basi kalo cuman bilang: "ayo donk chayank...abisin mamamnya". Udah gak mempan. Skarang kita ibu2 dituntut kreatif bikin tampilan makanannya semenarik mungkin not just something to eat but a lifestyle (ngutip dari AFC channel :p)), mau mandi, stop main, ganti baju, berani unjuk kebolehan, tidur siang, tidur cepat di malam hari, bikin pe-er, dll.
Macam2 lah, termasuk juga kreatif ngajarin anak mengenal bentuk, warna, huruf, angka (ada beberapa teman yang gak bisa kreatif ngajarin anak. Alasannya si anak gak mau denger omongan mereka, jadi solusinya anak mereka dibawa ke tempat kursus. Ya gpp juga, tapi kalo mulai umur 2th udah dikasih les kan kasian anaknya juga).
Anyway, waktu antar Ryan test IQ kemaren, gak tau gimana dia tiba2 mogok gak mau masuk ruang test. Padahal dari rumah gak apa2. Sampe sekolah juga masih santai dulu, nonton murid2 SD disitu main sepakbola karena testnya blom dimulai.
Senewen banget. Bingung. Gak enak sama tim pengujinya karena mereka jauh2 datang dari kantor pusat, di tanjung duren.
Udah bujuk2, dibantu oleh staff sekolah dan salah satu ibu dari tim penguji tetap juga dia gak mau. Mau sih, dengan syarat aku ikutan masuk ke dalam ruangan which is yang peraturannya tidak boleh. Jadi pusing...
"Abis ini kita ke timezone yuuk," rayu aku. Ryan tetap geleng2 kepala. Duuuh...bingung banget. Waktu berjalan terus dan aku gak punya ide gimana cara bujuk dia dalam waktu sesingkat mungkin. Sampai akhirnya aku inget dia tuh gak suka sama mata pelajaran Korea di TK dia skarang. Aku bilang, "kalo Ryan gak mau ikut test nanti Ryan balik lagi lho terusin SD-nya di skolah yang skarang. Ryan jadi belajar bahasa Korea lagi deh. Katanya gak suka." Dia kelihatan mikir2 gitu. Akhirnya... berhasil! Mau juga deh dia masuk dan duduk didepan ibu penguji. Lega.....:).
Untunglah setelah selesai dia keluar ruangan dengan riang, gak kelihatan stress :). Padahal testnya cukup lama juga satu jam lebih dan diawali dengan 'pertarungan' batin dulu :p.
Salah satu kreatifitas yang lain adalah bercerita. Ryan suka sekali diceritain. Mau tidur siang minta cerita, tidur malam juga. Mending kalo cerita dari buku, kadang2 dia kasih tema yang kita harus create sendiri. "Mi cerita tentang Ryan ke Bali. Semua teman2 ikut: ada Mickey, Pooh, Handy Manny, Ben 10, Aang, Tom, Jerry, Dora, Diego,...(dan tokoh2 lain dari channel anak2 favorit dia)." Ceritanya sih pendek, nyebutin semua tokoh2 itu lho yang bikin lama saking banyaknya :).
Aku juga suka seenaknya mengubah syair lagu (maaf kepada penciptanya :)).
"Satu satu mami sayang Rainer
Dua dua papi sayang Rainer
Tiga tiga kakak sayang Rainer
Satu dua tiga semua sayang Rainer"
(Gubahan dari lagu satu satu aku sayang Ibu).
Intinya, lagi-lagi semua itu butuh kreatifitas. Kelihatan sepele tapi, coba aja gampang2 susah lho...:). Kalo yang punya anak balita pasti deh tau kerepotannya gimana :p.
Monday, January 05, 2009
Resolusi
Biasanya, awal tahun gini salah satu topik yang rame dibicara'in orang2 adl: Resolusi.
Resolusi 2009: kecilin perut. "Kalo elo perut segitu dibilang gede, gimana gue?" jerit Friska tetangga sebelah. Hahaha :D! (Btw, masih blom sempet ngunyah buah dan diet nasi. Soalnya, masih ada sisa ayam buluh, dan ikan Marlin rica2. Sayang...kalo ga diabisin, soalnya enak banget, hahahaha!).
Yang pasti selain rencana dan keinginan yang buaaanyak itu (boleh donk :p), aku juga pengen melakukan apa2 tuh dengan baik, dengan tulus, komit dan harus selesai sampe akhir!. Kebiasaan tahun2 sebelumnya semangat melakukan sesuatu cuman di semester pertama (jan-jun) doang, lewat itu udah musti di inget2in, bahkan sering kebablasan aja ga selesai sampe akhir tahun :p. Mungkin karena aku TIDAK:
- Mempertahankan Fokus,
Beda'in lho ya, fokus BUKAN pada apa yang kita ga punya tapi fokus pada rencananya.
- Mempertahankan Komitmen,
Seperti janji yang adalah hutang, komitmen juga sifatnya mengikat. Sekali berkomitmen kita harus berusaha keras untuk menepatinya.
- Mempertahankan Disiplin,
Menurut aku ngatur keuangan keluarga adalah salah satu hal yang butuh kedisiplinan. Biasa kan perempuan kalo udah di mall, liat sepatu keren diskon pula, (halah,hehehe...) jadinya pos pengeluaran lain2 alias pengeluaran tak terduga jadi pos yang membutuhkan budget terbanyak. "Komit yaa blanja yang perlu aja supaya tabungannya tambah banyak bukannya menyusut terus tiap kali cek saldo, hiks. Hahaha!"
- Mempertahankan Ketekunan,
Boro-boro bikin cerber atau novel, bikin cerpen aja ga pernah selesai! Tiap kali sedang menulis satu cerita trus kepikiran ide yang lain, cerita yang pertama ditinggal buat bikin cerita kedua. Begitu aja terus, sampe cerita ketiga, keempat. Akhirnya punya banyak cerita tapi ga satupun yang ketahuan endingnya gimana alias ga pernah selesai, hahaha! -- Eh, mungkin ini lebih tepat utk contoh ga fokus ya...hehehe :). Oke, jadi gini, contoh ga tekun tuh, misalnya saat aku lg ngerjain satu cerita, taunya rasa males and rasa bosan mampir. Kebetulan ide cerita lanjutannya lagi mentok, ya udah ditinggal dulu. Yang rencana awalnya cuman ditinggal bentar jadi keterusan deh, ditinggal selamanya, hahahaha...:D
Karena kebiasaan jelek diatas, jadinya aku sering tertatih2 memfollow-up resolusi aku. Pas buka diary liat resolusi tahun kemaren, ternyata ga ada satupun yang tercapai...lagi :( (Walo...ternyata...banyak juga surprisesnya ^^).
Walo begitu tetap bersyukur aja sambil berusaha untuk lebih baik lagi di tahun yang akan datang. Nice quote i got fm an email (emang agak ga nyambung dg topik skarang, tp bagus juga buat ngingetin kita untuk bersyukur: "When we are busy focusing on what we don't have, we don't pay attention to what we do have".
Moga2 tahun ini kita bisa deh mewujudkan mimpi menjadi kenyataan ^-^. Caiyo!
Resolusi 2009: kecilin perut. "Kalo elo perut segitu dibilang gede, gimana gue?" jerit Friska tetangga sebelah. Hahaha :D! (Btw, masih blom sempet ngunyah buah dan diet nasi. Soalnya, masih ada sisa ayam buluh, dan ikan Marlin rica2. Sayang...kalo ga diabisin, soalnya enak banget, hahahaha!).
Yang pasti selain rencana dan keinginan yang buaaanyak itu (boleh donk :p), aku juga pengen melakukan apa2 tuh dengan baik, dengan tulus, komit dan harus selesai sampe akhir!. Kebiasaan tahun2 sebelumnya semangat melakukan sesuatu cuman di semester pertama (jan-jun) doang, lewat itu udah musti di inget2in, bahkan sering kebablasan aja ga selesai sampe akhir tahun :p. Mungkin karena aku TIDAK:
- Mempertahankan Fokus,
Beda'in lho ya, fokus BUKAN pada apa yang kita ga punya tapi fokus pada rencananya.
- Mempertahankan Komitmen,
Seperti janji yang adalah hutang, komitmen juga sifatnya mengikat. Sekali berkomitmen kita harus berusaha keras untuk menepatinya.
- Mempertahankan Disiplin,
Menurut aku ngatur keuangan keluarga adalah salah satu hal yang butuh kedisiplinan. Biasa kan perempuan kalo udah di mall, liat sepatu keren diskon pula, (halah,hehehe...) jadinya pos pengeluaran lain2 alias pengeluaran tak terduga jadi pos yang membutuhkan budget terbanyak. "Komit yaa blanja yang perlu aja supaya tabungannya tambah banyak bukannya menyusut terus tiap kali cek saldo, hiks. Hahaha!"
- Mempertahankan Ketekunan,
Boro-boro bikin cerber atau novel, bikin cerpen aja ga pernah selesai! Tiap kali sedang menulis satu cerita trus kepikiran ide yang lain, cerita yang pertama ditinggal buat bikin cerita kedua. Begitu aja terus, sampe cerita ketiga, keempat. Akhirnya punya banyak cerita tapi ga satupun yang ketahuan endingnya gimana alias ga pernah selesai, hahaha! -- Eh, mungkin ini lebih tepat utk contoh ga fokus ya...hehehe :). Oke, jadi gini, contoh ga tekun tuh, misalnya saat aku lg ngerjain satu cerita, taunya rasa males and rasa bosan mampir. Kebetulan ide cerita lanjutannya lagi mentok, ya udah ditinggal dulu. Yang rencana awalnya cuman ditinggal bentar jadi keterusan deh, ditinggal selamanya, hahahaha...:D
Karena kebiasaan jelek diatas, jadinya aku sering tertatih2 memfollow-up resolusi aku. Pas buka diary liat resolusi tahun kemaren, ternyata ga ada satupun yang tercapai...lagi :( (Walo...ternyata...banyak juga surprisesnya ^^).
Walo begitu tetap bersyukur aja sambil berusaha untuk lebih baik lagi di tahun yang akan datang. Nice quote i got fm an email (emang agak ga nyambung dg topik skarang, tp bagus juga buat ngingetin kita untuk bersyukur: "When we are busy focusing on what we don't have, we don't pay attention to what we do have".
Moga2 tahun ini kita bisa deh mewujudkan mimpi menjadi kenyataan ^-^. Caiyo!
Friday, December 19, 2008
Gak kerja = gak punya cita-cita?
Rabu malam lalu anakku yang paling besar, Ryan (5 th), mendekati aku yang seperti biasa lagi asik di depan komputer :p.
Ryan : "Mami! Mami ga punya cita-cita ya?"
Aq : "Mmmm...punya. Kenapa?"
Ryan : "Kog, mami ga kerja?"
Duh! Jadi bingung (eh, maksudnya malu?). Ga kerja tuh berarti ga punya cita2 ya....? Hiks.
Aku jadi mikir2. Dulu cita2 aku apa ya? Hmmm...., let see, waktu kecil kayaknya pengen jadi Dokter deh, terus....mmm, sempet berubah lagi kepengen jadi Insinyur Pertanian...sempet juga pengen jadi Pramugari...pernah juga bercita2 menjadi Suster, bukan suster rmh sakit, tp suster di biara -keinginan yang spontan setelah kunjungan ke salah satu biara di tomohon, manado :p- tp, aku pikir ga jadi deh, krn aku bukan katolik :). Cita2ku berubah2 terus sampe aku bingung sendiri. Apalagi kemudian aku kuliah -di jurusan yang ga sesuai dengan minat dan bakatku :p- aku udh ga terlalu mikirin cita2 *sungguh, bukan tulisan yang memotivasi, hahahaha*.
Barulah setelah aku berhenti kerja pd thn 2005 awal, aku mulai memikirkan kembali cita2ku. Kira2 bisa ga diwujudkan sekarang, setelah aku 'punya' waktu? Bisa ga cita2 aku itu menghasilkan uang? Apakah aku perlu mengambil kursus2 tambahan untuk dapat mewujudkan cita2ku?
Tapi,...apa sih cita2 aku sebenarnya (baca: sekarang)?
Setelah aku coba2 mengingat kembali ke masa lalu, dengan mantap aku memutuskan cita2 ku adalah menjadi penulis! Menjadi penulis? Ya, menjadi penulis. Hebat kan?! Hehehe...l
Dengan semangat '45 aku membeli meja khusus untuk mengerjakan proyek menulisku. Rencananya aku mau mencoba menulis cerpen. Yaa....proyek yang mudah aja dulu yang ga perlu observasi terlalu detail, cukup mengandalkan kenangan2 semasa aku sma dulu :). Setelah dapat ide cerita, file di ms word pun aku buka. Aku mulai dengan membuat kerangka cerita, lalu judul (terbalik ya? gpp deh, yang penting kan cerpennya jadi. sama aja :p).
Mulailah aku mengetikkan rangkaian demi rangkaian kalimat. Ga ada masalah. Cetek :p. Tapi, ketika aku mau mengetik baris2 kalimat berikutnya, aku mulai bingung. Apalagi ketika kemudian Ryan yang saat itu masih berumur 25 bulan merengek2 minta ditemenin main. Waduh!
Malam hari, ketika Ryan sudah tidur, aku mencoba meneruskan kembali ketikan cerpenku . Tapi...? Hoaeeem...Lho??...Hoaeeem...Kog, ngantuk nih?...Duh, duh, duh...! Gawat! Aku ga bisa kalo udah ngantuk tetap dipaksa melek juga. Dijamin besok paginya aku bangun dengan kepala nyut2an. Walah! Alasan banget :p.
Akhirnya, sampai hari ini gak ada satupun tulisanku yang selesai dan siap dipublikasikan. Trus..., gimana dengan cita2ku menjadi penulis? Yaaa...gimana donk. hehe...terpaksa sementara ini harus cukup puas dengan menulis di blog sendiri. *thanks to blogger.com*. Soal ga ada kerjaan...?? Weleh2...Siapa bilang? Segini juga udah sibuk banget lagiii, hahahaha!
Ryan, mami memang belum berhasil mewujudkan cita2 mami. Tapi, mami harap Ryan tetap punya cita2 dan fokus pada cita2 Ryan. Dengan cita2 itu Ryan sekolah yang pintar yaa, supaya nanti cita2 Ryan bisa tercapai dan Ryan bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan cita2 Ryan. Mom wl keep pray for you and do our best to facilitate your needs.
....lanjutan obrolan pembuka diatas:
Aq : "(sambil tersipu malu) dulu punya sih. Sekarang mami ga kerja bukan karena mami ga punya cita2, tp supaya mami bisa temenin Ryan sama Rainer di rumah. Kenapa? Ryan pengen mami kerja?"
Ryan : "Iya."
Aq : "Oh, ya udah. Kalo gitu nanti mami cari kerja. Mami jg sebenernya pengen banget kerja. Enak. Bisa punya temen2 baru. Bisa jalan2 dan makan siang di mall. Dan mungkin, nanti mami pulangnya agak malam jadi ga bisa temenin Ryan main lagi sama cerita sebelum tidur."
Ryan : "Oooh...kalo gitu mami ga usah kerja deh. Di rumah aja."
Aq : "Ga papa kog. Lumayan kan kalo mami kerja bisa dapat duit."
Ryan : "Engga ah! Kalo mami kerja, nanti Ryan ga mau makan! Ga mau tidur! Ryan duduk2 aja di depan pintu sampe mami pulang!"
Ryan : "Mami! Mami ga punya cita-cita ya?"
Aq : "Mmmm...punya. Kenapa?"
Ryan : "Kog, mami ga kerja?"
Duh! Jadi bingung (eh, maksudnya malu?). Ga kerja tuh berarti ga punya cita2 ya....? Hiks.
Aku jadi mikir2. Dulu cita2 aku apa ya? Hmmm...., let see, waktu kecil kayaknya pengen jadi Dokter deh, terus....mmm, sempet berubah lagi kepengen jadi Insinyur Pertanian...sempet juga pengen jadi Pramugari...pernah juga bercita2 menjadi Suster, bukan suster rmh sakit, tp suster di biara -keinginan yang spontan setelah kunjungan ke salah satu biara di tomohon, manado :p- tp, aku pikir ga jadi deh, krn aku bukan katolik :). Cita2ku berubah2 terus sampe aku bingung sendiri. Apalagi kemudian aku kuliah -di jurusan yang ga sesuai dengan minat dan bakatku :p- aku udh ga terlalu mikirin cita2 *sungguh, bukan tulisan yang memotivasi, hahahaha*.
Barulah setelah aku berhenti kerja pd thn 2005 awal, aku mulai memikirkan kembali cita2ku. Kira2 bisa ga diwujudkan sekarang, setelah aku 'punya' waktu? Bisa ga cita2 aku itu menghasilkan uang? Apakah aku perlu mengambil kursus2 tambahan untuk dapat mewujudkan cita2ku?
Tapi,...apa sih cita2 aku sebenarnya (baca: sekarang)?
Setelah aku coba2 mengingat kembali ke masa lalu, dengan mantap aku memutuskan cita2 ku adalah menjadi penulis! Menjadi penulis? Ya, menjadi penulis. Hebat kan?! Hehehe...l
Dengan semangat '45 aku membeli meja khusus untuk mengerjakan proyek menulisku. Rencananya aku mau mencoba menulis cerpen. Yaa....proyek yang mudah aja dulu yang ga perlu observasi terlalu detail, cukup mengandalkan kenangan2 semasa aku sma dulu :). Setelah dapat ide cerita, file di ms word pun aku buka. Aku mulai dengan membuat kerangka cerita, lalu judul (terbalik ya? gpp deh, yang penting kan cerpennya jadi. sama aja :p).
Mulailah aku mengetikkan rangkaian demi rangkaian kalimat. Ga ada masalah. Cetek :p. Tapi, ketika aku mau mengetik baris2 kalimat berikutnya, aku mulai bingung. Apalagi ketika kemudian Ryan yang saat itu masih berumur 25 bulan merengek2 minta ditemenin main. Waduh!
Malam hari, ketika Ryan sudah tidur, aku mencoba meneruskan kembali ketikan cerpenku . Tapi...? Hoaeeem...Lho??...Hoaeeem...Kog, ngantuk nih?...Duh, duh, duh...! Gawat! Aku ga bisa kalo udah ngantuk tetap dipaksa melek juga. Dijamin besok paginya aku bangun dengan kepala nyut2an. Walah! Alasan banget :p.
Akhirnya, sampai hari ini gak ada satupun tulisanku yang selesai dan siap dipublikasikan. Trus..., gimana dengan cita2ku menjadi penulis? Yaaa...gimana donk. hehe...terpaksa sementara ini harus cukup puas dengan menulis di blog sendiri. *thanks to blogger.com*. Soal ga ada kerjaan...?? Weleh2...Siapa bilang? Segini juga udah sibuk banget lagiii, hahahaha!
Ryan, mami memang belum berhasil mewujudkan cita2 mami. Tapi, mami harap Ryan tetap punya cita2 dan fokus pada cita2 Ryan. Dengan cita2 itu Ryan sekolah yang pintar yaa, supaya nanti cita2 Ryan bisa tercapai dan Ryan bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan cita2 Ryan. Mom wl keep pray for you and do our best to facilitate your needs.
....lanjutan obrolan pembuka diatas:
Aq : "(sambil tersipu malu) dulu punya sih. Sekarang mami ga kerja bukan karena mami ga punya cita2, tp supaya mami bisa temenin Ryan sama Rainer di rumah. Kenapa? Ryan pengen mami kerja?"
Ryan : "Iya."
Aq : "Oh, ya udah. Kalo gitu nanti mami cari kerja. Mami jg sebenernya pengen banget kerja. Enak. Bisa punya temen2 baru. Bisa jalan2 dan makan siang di mall. Dan mungkin, nanti mami pulangnya agak malam jadi ga bisa temenin Ryan main lagi sama cerita sebelum tidur."
Ryan : "Oooh...kalo gitu mami ga usah kerja deh. Di rumah aja."
Aq : "Ga papa kog. Lumayan kan kalo mami kerja bisa dapat duit."
Ryan : "Engga ah! Kalo mami kerja, nanti Ryan ga mau makan! Ga mau tidur! Ryan duduk2 aja di depan pintu sampe mami pulang!"
Tuesday, November 25, 2008
Is it a big deal?
A friend of mine once told me how lucky my husband was to has a wife like me...:))
Kenapa? Karena:
* Pertama, ga protes suami pulang malam mulu > jam 10 pm (suami dia sebelum matahari terbenam udah pulang)
* Kedua, menerima berapa aja uang yang dikasih suami tanpa pernah tau berapa tepatnya penghasilan dia.
Hahaha, jadi pengen ketawa. Apa bener, begitu?
Soal yang pertama, eitss siapa bilang aku ga protes?! Protes sih pernah, tapi, cape kali yaa karena ga ada perubahan juga. Udah gitu kita malah dibilang engga pengertian dengan keribetan dan pressure kerjaannya di kantor. Waah, ogah donk dicap istri ga pengertian (walopun iya), hehehe.
Pernah ada tante yang curhat masalah rumah tangganya. Katanya, suami dia suka sekali pergi sama temen-temennya dan pulang larut malam. Sampe lebih dari 20 th pernikahan mereka, mereka ga pernah punya quality time sama-sama. Tapi dia bilang, "gpp dia (suaminya) suka pergi2 sendiri, yang penting dia masih ingat pulang dan tidur di rumah." Wow! Sampe speechless. Salut buat tante yang sabar dan rela ngorbanin perasaan. Aku ga tau sikap tante ini bijak apa engga, karena buatku ini kedengarannya ga adil. Tapi, aku bisa simpulkan bahwa rasa sayang tante pada suaminyalah yang memampukan dia untuk bisa mengerti suaminya. "Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menanggung segala sesuatu."
Bukan soal gampang memang bisa sampai pada tahap pengertian seperti itu. Pastinya butuh proses yang panjang dan (mungkin) melelahkan. *Senyum2 kecut ^^*
Jujur sih, kadang2 kalo aku lagi bete, jenuh dengan rutinitas yang itu-itu aja ato ada temen yang iseng kasih komentar ga jelas seperti diatas, aku suka kepancing juga sih (ikan kali..:)). Suka jadi kepikiran juga, gimana, kalo suamiku punya 'seseorang' diluar sana? Cemburu? Pastilah. Tapi, pikir2...dan pikir2 lagi...emang beneran ada? Apa itu bukan cuman pikiran aku aja? Kadang-kadang aku suka kelepasan juga jadi marah-marah sama suami, sampe dia bingung "salah apa?". Wajar dia bingung, karena aku marah-marah bukan berdasarkan kenyataan, tapi hasil kreativitas pikiranku, whahahaha!
Cemburu tanda cinta? Mmm....apa bener tanda cinta? "Kasih tidak cemburu..."
Apa bukan tanda ego kita? Ego, ingin memiliki suami, mengatur dan mendikte dia seperti mau kita?
Aku sih pengen banget kalo bisa seperti itu, tapi suamiku kan manusia juga, yang sama seperti aku butuh bersosialisasi, pengen punya 'me time', punya pendapat sendiri juga dan hak untuk menyuarakannya. Wajarlah. Kita menikah kan bukan untuk membuat pasangan kita menjadi robot ato pembantu kita. Status menikah memang membuat batasan2 buat diri kita, tapi bukan untuk membuat kita jadi BUKAN DIRI KITA lagi sendiri.
Kalo soal temen beda gender, aku juga punya banyak temen cowo. Yang salah satunya kalo sms ga pernah lupa nyelipin kata cantik. Misalnya, "sabar ya cantik" atau "aduh, ibu yang cantik ini lucu sekali". Harus ge-er? Engga juga kali, karena aku tau dia mengatakan aku cantik bukan untuk merayu. Kog, tau? Ya, tau karena dia melakukannya dengan sopan dan tidak berlebihan. Walopun mungkin sebaiknya dia ga memuji wanita lain selain istrinya sendiri, supaya ga timbul salah persepsi. *In case sang istri ngintip baca sent item di hp-nya :p*
Bagaimana kalo suami menyalahgunakan kepercayaan kita? Well, aku cuman bisa percayakan semua pada Tuhan. Aku ga mau fokus pada hal-hal yang TIDAK bisa aku kontrol, mis: perasaan dia (marah, sedih. Sama seperti kita ga bisa mengontrol terbitnya matahari atau turunnya hujan); tapi, pada hal2 yang BISA aku kontrol, mis: ngurus anak-anak dengan kesabaran dan kasih sayang, berusaha menjadi teman curhat dan pendengar setia buat suami. Kalo suami sampe makin cintaaa...that's my reward ^^.
Soal yang kedua, (hehe, hampir lupa kepanjangan sih ngebahas soal pertama), ini juga salah. Nanya2 suami sampe 'maksa' udah pernah, tapi emang dasar laki-laki, susah kayaknya yaa mempertahankan perubahan dalam jangka panjang. Kalo abis di'ceramahin', iya nurut, berubah, sekali...dua kali..., setelah itu....mmm, lupa lagi deh alias balik lagi ke seperti apa adanya dia dulu. Akhirnya curhat sana, curhat sini, banyak baca majalah dan ternyata....wow! Ini bukan masalah aku aja. Rata-rata dari yang aku baca dan teman2 yang aku tanya punya pengalaman serupa. Kata mereka biasanya suami berubah juga, mau lebih terbuka soal penghasilan setelah beberapa tahun pernikahan (well, it depends on the person juga kali ya. Kecuali type SSTI alias Suami-Suami Takut Istri, whahahaha.....:p Tp, who knows juga kan).
----------
One thing that i thank God, beberapa hari lalu suamiku pulang kerja dengan wajah berseri2 (ciee..., ada apa nih? Dug...dug...dug, jd berdebar2 ^-^). Kita ngobrol2. Dia share soal pekerjaannya, and....??? Guess what? Dia ngasih tau berapa penghasilan yang akan dia dapat per Desember besok. Yiipeee...!! Setelah lewat 6th pernikahan *OMG! 6th booo...* akhirnya dia mau juga deh terbuka soal penghasilannya. Hehehe....
*Tp, psst...musti maksa liat slip gajinya juga ga? Hahaha.*
Kenapa? Karena:
* Pertama, ga protes suami pulang malam mulu > jam 10 pm (suami dia sebelum matahari terbenam udah pulang)
* Kedua, menerima berapa aja uang yang dikasih suami tanpa pernah tau berapa tepatnya penghasilan dia.
Hahaha, jadi pengen ketawa. Apa bener, begitu?
Soal yang pertama, eitss siapa bilang aku ga protes?! Protes sih pernah, tapi, cape kali yaa karena ga ada perubahan juga. Udah gitu kita malah dibilang engga pengertian dengan keribetan dan pressure kerjaannya di kantor. Waah, ogah donk dicap istri ga pengertian (walopun iya), hehehe.
Pernah ada tante yang curhat masalah rumah tangganya. Katanya, suami dia suka sekali pergi sama temen-temennya dan pulang larut malam. Sampe lebih dari 20 th pernikahan mereka, mereka ga pernah punya quality time sama-sama. Tapi dia bilang, "gpp dia (suaminya) suka pergi2 sendiri, yang penting dia masih ingat pulang dan tidur di rumah." Wow! Sampe speechless. Salut buat tante yang sabar dan rela ngorbanin perasaan. Aku ga tau sikap tante ini bijak apa engga, karena buatku ini kedengarannya ga adil. Tapi, aku bisa simpulkan bahwa rasa sayang tante pada suaminyalah yang memampukan dia untuk bisa mengerti suaminya. "Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menanggung segala sesuatu."
Bukan soal gampang memang bisa sampai pada tahap pengertian seperti itu. Pastinya butuh proses yang panjang dan (mungkin) melelahkan. *Senyum2 kecut ^^*
Jujur sih, kadang2 kalo aku lagi bete, jenuh dengan rutinitas yang itu-itu aja ato ada temen yang iseng kasih komentar ga jelas seperti diatas, aku suka kepancing juga sih (ikan kali..:)). Suka jadi kepikiran juga, gimana, kalo suamiku punya 'seseorang' diluar sana? Cemburu? Pastilah. Tapi, pikir2...dan pikir2 lagi...emang beneran ada? Apa itu bukan cuman pikiran aku aja? Kadang-kadang aku suka kelepasan juga jadi marah-marah sama suami, sampe dia bingung "salah apa?". Wajar dia bingung, karena aku marah-marah bukan berdasarkan kenyataan, tapi hasil kreativitas pikiranku, whahahaha!
Cemburu tanda cinta? Mmm....apa bener tanda cinta? "Kasih tidak cemburu..."
Apa bukan tanda ego kita? Ego, ingin memiliki suami, mengatur dan mendikte dia seperti mau kita?
Aku sih pengen banget kalo bisa seperti itu, tapi suamiku kan manusia juga, yang sama seperti aku butuh bersosialisasi, pengen punya 'me time', punya pendapat sendiri juga dan hak untuk menyuarakannya. Wajarlah. Kita menikah kan bukan untuk membuat pasangan kita menjadi robot ato pembantu kita. Status menikah memang membuat batasan2 buat diri kita, tapi bukan untuk membuat kita jadi BUKAN DIRI KITA lagi sendiri.
Kalo soal temen beda gender, aku juga punya banyak temen cowo. Yang salah satunya kalo sms ga pernah lupa nyelipin kata cantik. Misalnya, "sabar ya cantik" atau "aduh, ibu yang cantik ini lucu sekali". Harus ge-er? Engga juga kali, karena aku tau dia mengatakan aku cantik bukan untuk merayu. Kog, tau? Ya, tau karena dia melakukannya dengan sopan dan tidak berlebihan. Walopun mungkin sebaiknya dia ga memuji wanita lain selain istrinya sendiri, supaya ga timbul salah persepsi. *In case sang istri ngintip baca sent item di hp-nya :p*
Bagaimana kalo suami menyalahgunakan kepercayaan kita? Well, aku cuman bisa percayakan semua pada Tuhan. Aku ga mau fokus pada hal-hal yang TIDAK bisa aku kontrol, mis: perasaan dia (marah, sedih. Sama seperti kita ga bisa mengontrol terbitnya matahari atau turunnya hujan); tapi, pada hal2 yang BISA aku kontrol, mis: ngurus anak-anak dengan kesabaran dan kasih sayang, berusaha menjadi teman curhat dan pendengar setia buat suami. Kalo suami sampe makin cintaaa...that's my reward ^^.
Soal yang kedua, (hehe, hampir lupa kepanjangan sih ngebahas soal pertama), ini juga salah. Nanya2 suami sampe 'maksa' udah pernah, tapi emang dasar laki-laki, susah kayaknya yaa mempertahankan perubahan dalam jangka panjang. Kalo abis di'ceramahin', iya nurut, berubah, sekali...dua kali..., setelah itu....mmm, lupa lagi deh alias balik lagi ke seperti apa adanya dia dulu. Akhirnya curhat sana, curhat sini, banyak baca majalah dan ternyata....wow! Ini bukan masalah aku aja. Rata-rata dari yang aku baca dan teman2 yang aku tanya punya pengalaman serupa. Kata mereka biasanya suami berubah juga, mau lebih terbuka soal penghasilan setelah beberapa tahun pernikahan (well, it depends on the person juga kali ya. Kecuali type SSTI alias Suami-Suami Takut Istri, whahahaha.....:p Tp, who knows juga kan).
----------
One thing that i thank God, beberapa hari lalu suamiku pulang kerja dengan wajah berseri2 (ciee..., ada apa nih? Dug...dug...dug, jd berdebar2 ^-^). Kita ngobrol2. Dia share soal pekerjaannya, and....??? Guess what? Dia ngasih tau berapa penghasilan yang akan dia dapat per Desember besok. Yiipeee...!! Setelah lewat 6th pernikahan *OMG! 6th booo...* akhirnya dia mau juga deh terbuka soal penghasilannya. Hehehe....
*Tp, psst...musti maksa liat slip gajinya juga ga? Hahaha.*
Wednesday, November 19, 2008
Sedihkah saya?
Suatu hari ibu mertua -yang saya panggil mami juga- telpon. Dan, kami ngobrol macam-macam hal mulai dari nanya'in kabar, kegiatan yang dia atau saya lakukan, ngomentarin issue-issue yang sedang menjadi topik hangat, dan banyak lagi deh. Nyambung aja terus, dari satu topik ke topik yang lain. Kami memang biasa ngobrol seperti itu.
"Kemaren Eby ditanya'in orang-orang di gereja," tutur mami mengawali obrolan kami. "Mereka pada nanya, gimana kabar Eby? Kuat 'ga dia setelah ditinggal mami papinya? Mami bilang, iya, Eby kuat, tabah. Trus, temen Eby si ****** juga tanya'in Eby. Dia bilang, Eby 'ga sedih..."
Mendengar cerita mami, terutama kalimat yang terakhir tadi, mendadak saya merasa ada sesuatu yang bergeliat dari bawah perut saya dan terus merambat naik ke kepala, sampai pipi saya jadi terasa panas dan membuat saya sempat kehilangan kata-kata.
Saat itu saya ngga komentar banyak soal cerita mami tadi. Saya masih gelisah karena menahan emosi. Tubuh saya masih terasa bergetar. Saya marah. Benar. Saya marah, jengkel, kesal bukan main. "Gila kali ya?! Apa 'ga salah dia ngomong gitu?! Bisa-bisanya dia membuat asumsi sendiri, padahal nelpon aja engga! Bagaimana dia bisa tahu apa yang dirasakan hati saya?!"
Saya sedih. Perasaan marah itu kini berubah menjadi sedih. Sedih, karena seorang yang mengaku teman bisa berkata seperti itu tentang perasaan saya. Tau apa dia?!
Saya ingat, ketika pertama kali mendapat kabar mami sudah ngga bernafas dan sedang diupayakan oleh dokter untuk bisa bernafas lagi, saya menangis. 'Ga meraung2, tapi saya menangis. Walo begitu saya berusaha untuk tetap tenang, karena saya masih bingung, "ini ada apa sih? Jadinya mami bagaimana?"
Dengan perasaan bingung itu, saya membereskan pakaian untuk saya bawa ke Bandung. Sengaja, saya 'ga bawa baju warna hitam, karena saya masih berharap mami 'ga beneran 'pergi'. Tapi, sebagai gantinya saya membawa beberapa potong baju berwarna gelap: biru tua, untuk jaga-jaga juga :(.
Ketika di tol kebon jeruk saya mendapat kepastian bahwa mami sudah meninggal, saya menangis terus sampai tol cipularang. Untunglah ada anak dan suami saya yang membuat saya tabah. Saya ingat, sepanjang perjalanan mata saya selalu memandang ke awan-awan, berharap saya bisa menangkap bayangan mami disana. Berharap masih bisa ketemu walo untuk terakhir kalinya :(.
Begitu juga ketika papi 'pergi'. Saya sedih. Saya bahkan hampir 'ga bisa terima waktu kakak saya memanggil Pendeta dan meminta doa penyerahan. "Apa-apa'an ini?" pikir saya dalam hati, "kita kan masih menunggu dokter untuk mengetahui kondisi papi yang sebenarnya gimana? Kog, udah mo doa penyerahan aja?"
Tetapi, ketika sudah di rumah duka, saya sudah lebih tenang -mau 'ga mau-. Karena masih banyak hal yang harus diputuskan: baju apa yang akan dipakai untuk terakhir kali oleh mami-papi, peti jenazahnya yang bagaimana, berapa biayanya, kapan waktu pemakaman, dimana akan dimakamkan, apakah semua kenalan dan keluarga sudah diberitahu, konsumsi untuk tamu, dan banyak lagi urusan-urusan lainnya yang kelihatan sepele tapi juga (sebenarnya) penting, mis: jumlah botol minyak yang disediakan oleh rumah duka untuk digunakan pada malam penutupan peti sebagai penghormatan terakhir, cukup apa engga (biasanya sih 'ga cukup, harus tambah lagi).
Didepan anak-anak, Ryan dan Rainer, juga saya tenang. Saya 'ga mau bikin mereka bingung.
Tampaknya semua orang mengagumi saya karena saya begitu tabah. Bahkan ketika saya mewakili keluarga (bergantian dengan kakak dan adik) memberikan kesaksian dan ucapan terimakasih kepada seluruh pelayat yang hadir, saya begitu tenang. Tiga kali saya memberikan kesaksian dan ucapan terimakasih: 1) di rumah duka Bumi Baru II, Bandung, 2) di GPdI Lengkong Kecil, Bandung, dan 3) di pemakaman Kerkoff, Tegal. Hanya sesekali saya berhenti berusaha menahan tangis, tetapi semua kata-kata akhirnya mengalir keluar dari mulut saya (hampir) tanpa hambatan.
Tetapi, ketika pemakaman telah berakhir dan kami kembali ke rumah kami masing-masing, barulah saya mulai merasakan kesedihan itu. Berbagai kenangan hadir kembali berkelabatan dalam ingatan saya. Hati saya terasa hancur. Pada saat itu saya merasakan hati saya perih seperti tertusuk duri. Perut saya kejang. Dan saya menangis tersedu-sedu. Tanpa dapat saya hentikan, airmata saya terus mengalir, mulut saya mengeluarkan suara tangisan yang tidak biasa (bukan seperti tangisan yang saya pernah alami). Dan kedukaan itu terasa sangat dalam, jauh sampai ke lubuk hati saya.
Timbul perasaan menyesal karena masih banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan untuk mami papi. Menyesal, karena saya belum lama memperbaiki hubungan dengan mami. Saya menangis terus setiap malam, sampe anak saya Ryan, sering ikut menangis bersama saya.
Pikiran saya terasa penuh: bagaimana mami papi sekarang? Apa yang terjadi dengan mereka? Apakah mereka bisa melihat kami? Apakah mereka merasakan kesedihan dan penyesalan kami? Dan beribu macam lagi pertanyaan. (Hehe...pertanyaan-pertanyaan seperti orang 'ga pernah baca Firman Tuhan aja).
Selama seminggu saya sakit. Kepala pusing, badan nyeri semua, maag sakit, perasaan jadi sensitif, dan saya menjadi lebih manja pada suami, ngambek kalo 'ga diperhatiin.
Itu semua akibat saya sedih. Sedih karena kehilangan orang tua yang saya cintai.
Rasa sedih (baca: duka) itu adalah proses yang panjang dan bersifat individual. Tiap orang merasakan dan menjalani kesedihan dengan cara berbeda-beda. Ada yang langsung dapat menyadari kesedihan/dukanya. Ada yang menjadi linglung, alias 'ga sadar ada apa sih ini. Ada yang dengan marah-marah, entah ke dokter, entah ke saudara yang selama ini tinggal bersama orang yang meninggal, ke dirinya sendiri, atau bahkan ke orang yang meninggal. Dan, bukan tidak mungkin ada yang marah kepada Tuhan.
Ada yang mengekspresikannya dengan menangis pagi-siang-malam, kurang tidur, rambut acak2an, ga pernah pake make-up lagi, seharian mengurung diri di kamar memusuhi matahari, gak mau makan, berat badan menyusut bahkan kulit menjadi keriput, memakai baju berwarna hitam selama setahun. Macam2, tapi gak tau kenapa saya tidak bisa berekspresi seperti itu.
Ada yang menangani kesedihan dengan mengurung diri selama berhari-hari di kamar, pergi keluar kota tanpa peduli dia masih terikat sebagai karyawan, ada juga yang melampiaskannya dengan mencari hiburan di luar lingkungan keluarganya.
Intinya, kesedihan mempunyai banyak bentuk.
Saya sedih. Tapi, saya juga ingat bahwa saya mempunyai pengharapan. Pengharapan pada Tuhan.
Mungkin, kesedihan ini akan terus terasa setiap hari, atau mungkin menghilang dan timbul lagi di masa yang akan datang. Tak bisa kita hindari, tapi 'ga bijak juga kalo kita biarkan berlarut-larut.
Alangkah senangnya bila ada teman yang mau menjadi tempat berbagi dan bukannya menyangsikan rasa sayang kita kepada orang yang meninggal, hanya karena melihat kita tidak bersedih.....
"Kemaren Eby ditanya'in orang-orang di gereja," tutur mami mengawali obrolan kami. "Mereka pada nanya, gimana kabar Eby? Kuat 'ga dia setelah ditinggal mami papinya? Mami bilang, iya, Eby kuat, tabah. Trus, temen Eby si ****** juga tanya'in Eby. Dia bilang, Eby 'ga sedih..."
Mendengar cerita mami, terutama kalimat yang terakhir tadi, mendadak saya merasa ada sesuatu yang bergeliat dari bawah perut saya dan terus merambat naik ke kepala, sampai pipi saya jadi terasa panas dan membuat saya sempat kehilangan kata-kata.
Saat itu saya ngga komentar banyak soal cerita mami tadi. Saya masih gelisah karena menahan emosi. Tubuh saya masih terasa bergetar. Saya marah. Benar. Saya marah, jengkel, kesal bukan main. "Gila kali ya?! Apa 'ga salah dia ngomong gitu?! Bisa-bisanya dia membuat asumsi sendiri, padahal nelpon aja engga! Bagaimana dia bisa tahu apa yang dirasakan hati saya?!"
Saya sedih. Perasaan marah itu kini berubah menjadi sedih. Sedih, karena seorang yang mengaku teman bisa berkata seperti itu tentang perasaan saya. Tau apa dia?!
Saya ingat, ketika pertama kali mendapat kabar mami sudah ngga bernafas dan sedang diupayakan oleh dokter untuk bisa bernafas lagi, saya menangis. 'Ga meraung2, tapi saya menangis. Walo begitu saya berusaha untuk tetap tenang, karena saya masih bingung, "ini ada apa sih? Jadinya mami bagaimana?"
Dengan perasaan bingung itu, saya membereskan pakaian untuk saya bawa ke Bandung. Sengaja, saya 'ga bawa baju warna hitam, karena saya masih berharap mami 'ga beneran 'pergi'. Tapi, sebagai gantinya saya membawa beberapa potong baju berwarna gelap: biru tua, untuk jaga-jaga juga :(.
Ketika di tol kebon jeruk saya mendapat kepastian bahwa mami sudah meninggal, saya menangis terus sampai tol cipularang. Untunglah ada anak dan suami saya yang membuat saya tabah. Saya ingat, sepanjang perjalanan mata saya selalu memandang ke awan-awan, berharap saya bisa menangkap bayangan mami disana. Berharap masih bisa ketemu walo untuk terakhir kalinya :(.
Begitu juga ketika papi 'pergi'. Saya sedih. Saya bahkan hampir 'ga bisa terima waktu kakak saya memanggil Pendeta dan meminta doa penyerahan. "Apa-apa'an ini?" pikir saya dalam hati, "kita kan masih menunggu dokter untuk mengetahui kondisi papi yang sebenarnya gimana? Kog, udah mo doa penyerahan aja?"
Tetapi, ketika sudah di rumah duka, saya sudah lebih tenang -mau 'ga mau-. Karena masih banyak hal yang harus diputuskan: baju apa yang akan dipakai untuk terakhir kali oleh mami-papi, peti jenazahnya yang bagaimana, berapa biayanya, kapan waktu pemakaman, dimana akan dimakamkan, apakah semua kenalan dan keluarga sudah diberitahu, konsumsi untuk tamu, dan banyak lagi urusan-urusan lainnya yang kelihatan sepele tapi juga (sebenarnya) penting, mis: jumlah botol minyak yang disediakan oleh rumah duka untuk digunakan pada malam penutupan peti sebagai penghormatan terakhir, cukup apa engga (biasanya sih 'ga cukup, harus tambah lagi).
Didepan anak-anak, Ryan dan Rainer, juga saya tenang. Saya 'ga mau bikin mereka bingung.
Tampaknya semua orang mengagumi saya karena saya begitu tabah. Bahkan ketika saya mewakili keluarga (bergantian dengan kakak dan adik) memberikan kesaksian dan ucapan terimakasih kepada seluruh pelayat yang hadir, saya begitu tenang. Tiga kali saya memberikan kesaksian dan ucapan terimakasih: 1) di rumah duka Bumi Baru II, Bandung, 2) di GPdI Lengkong Kecil, Bandung, dan 3) di pemakaman Kerkoff, Tegal. Hanya sesekali saya berhenti berusaha menahan tangis, tetapi semua kata-kata akhirnya mengalir keluar dari mulut saya (hampir) tanpa hambatan.
Tetapi, ketika pemakaman telah berakhir dan kami kembali ke rumah kami masing-masing, barulah saya mulai merasakan kesedihan itu. Berbagai kenangan hadir kembali berkelabatan dalam ingatan saya. Hati saya terasa hancur. Pada saat itu saya merasakan hati saya perih seperti tertusuk duri. Perut saya kejang. Dan saya menangis tersedu-sedu. Tanpa dapat saya hentikan, airmata saya terus mengalir, mulut saya mengeluarkan suara tangisan yang tidak biasa (bukan seperti tangisan yang saya pernah alami). Dan kedukaan itu terasa sangat dalam, jauh sampai ke lubuk hati saya.
Timbul perasaan menyesal karena masih banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan untuk mami papi. Menyesal, karena saya belum lama memperbaiki hubungan dengan mami. Saya menangis terus setiap malam, sampe anak saya Ryan, sering ikut menangis bersama saya.
Pikiran saya terasa penuh: bagaimana mami papi sekarang? Apa yang terjadi dengan mereka? Apakah mereka bisa melihat kami? Apakah mereka merasakan kesedihan dan penyesalan kami? Dan beribu macam lagi pertanyaan. (Hehe...pertanyaan-pertanyaan seperti orang 'ga pernah baca Firman Tuhan aja).
Selama seminggu saya sakit. Kepala pusing, badan nyeri semua, maag sakit, perasaan jadi sensitif, dan saya menjadi lebih manja pada suami, ngambek kalo 'ga diperhatiin.
Itu semua akibat saya sedih. Sedih karena kehilangan orang tua yang saya cintai.
Rasa sedih (baca: duka) itu adalah proses yang panjang dan bersifat individual. Tiap orang merasakan dan menjalani kesedihan dengan cara berbeda-beda. Ada yang langsung dapat menyadari kesedihan/dukanya. Ada yang menjadi linglung, alias 'ga sadar ada apa sih ini. Ada yang dengan marah-marah, entah ke dokter, entah ke saudara yang selama ini tinggal bersama orang yang meninggal, ke dirinya sendiri, atau bahkan ke orang yang meninggal. Dan, bukan tidak mungkin ada yang marah kepada Tuhan.
Ada yang mengekspresikannya dengan menangis pagi-siang-malam, kurang tidur, rambut acak2an, ga pernah pake make-up lagi, seharian mengurung diri di kamar memusuhi matahari, gak mau makan, berat badan menyusut bahkan kulit menjadi keriput, memakai baju berwarna hitam selama setahun. Macam2, tapi gak tau kenapa saya tidak bisa berekspresi seperti itu.
Ada yang menangani kesedihan dengan mengurung diri selama berhari-hari di kamar, pergi keluar kota tanpa peduli dia masih terikat sebagai karyawan, ada juga yang melampiaskannya dengan mencari hiburan di luar lingkungan keluarganya.
Intinya, kesedihan mempunyai banyak bentuk.
Saya sedih. Tapi, saya juga ingat bahwa saya mempunyai pengharapan. Pengharapan pada Tuhan.
Mungkin, kesedihan ini akan terus terasa setiap hari, atau mungkin menghilang dan timbul lagi di masa yang akan datang. Tak bisa kita hindari, tapi 'ga bijak juga kalo kita biarkan berlarut-larut.
Alangkah senangnya bila ada teman yang mau menjadi tempat berbagi dan bukannya menyangsikan rasa sayang kita kepada orang yang meninggal, hanya karena melihat kita tidak bersedih.....
Subscribe to:
Posts (Atom)
