:: see more gadget at the bottom of the page ::
Dua minggu lalu tanggal 17 Mei 2009, kita ngeraya'in ulang tahun Ryan - Rainer di Mc Donalds Alam Sutera, Serpong.
Waktu milih tempat yang masih di daerang Tangerang dekat dengan rumah, tapi jauh dari rumah beberapa kerabat dan teman, aku sempat mikir2 gitu. Berdasarkan pengalaman, ada yang mengeluh gak bisa datang karena lokasi jauh. Padahal sih, kalo niat, jauh dekat juga pasti diusahakan dateng ya :). Kita juga suka dapet undangan dari Cinere, Cibubur, Kelapa Gading, Bekasi, tapi kalo kita niat ya kita dateng. Berdasarkan pemikiran itu, akhirnya aku memutuskan untuk bikin pestanya di daerah sekitar Tangerang aja deh. Kalo suamiku gak usah ditanya2 lagi, karena dia bukan orang yang suka mikir pikiran/pendapat orang lain (emang bener sih, ngapain repot ya :)), dia berpendapat, kalo tamunya gak bisa datang dengan alasan jauh, ya itu urusan dia, hehe...
Oke, jadi Tempat, Hari dan Tanggal udah confirmed. Paket untuk anak2 dan pilihan menu2 untuk orang tua juga udah. Kue tart dan Badut karakter Grimmache udah dipesan. Kartu undangan udah dicetak, sebagian udah dikirim via e-mail sebagian lagi titip teman dan saudara. Tinggal goody bag aja nih yang perlu disiapin.
Walopun sempat terganggu dengan nyeri di perut bawah dan 2 kali pemeriksaan appendix ke Siloam Hospital minggu itu, aku kuat2-in untuk cari souvenir di ITC BSD. Tadinya mau ke pasar pagi, tapi kawatir gak kuat muter2 disana, kejauhan dan nanti malah sakit pas hari H, jadi belanjanya ke ITC BSD dan Hypermart aja deh. Mungkin agak mahal sedikit, tapi biar gimana kesehatan aku lebih penting kan...:).
Sempet kawatir juga karena hari Jumat malam aku meriang, pusing dan muntah2, tapi puji Tuhan hari Sabtu aku udah sembuh dan sampe hari Minggu aku baik2 aja. Praise The Lord.
Ternyata juga kekawatiran aku soal enggaknya datangnya tamu2 karena pemilihan lokasi gak terlalu terbukti. Memang sih yang bilang jauh dan gak bisa datang ada, tapi akhirnya cuman satu keluarga doang yang gak bisa datang karena alasan jauh itu. Beberapa yang lain, gak bisa datang karena punya acara lain yang gak bisa dicancel dan atau anaknya sakit.
Seru, rame dan berjubel karena selain tamu2 kita, ada customer2 Mc Donald lain juga yang makan disitu.
Dan yang pasti, yang paling penting, Ryan & Rainer were happy. Hip! Hip! Hooray!
Here are some of the pictures:
Sebagian orang tua
Sebagian anak-anak
Sebagian bantal souvenir
Sebagian kantong snack Ben 10/Batman/Transformer untuk cowo dan Strawberry/Hello Kitty untuk cewe.
Jumat, 10 April' 09, 21.55 pm, dapat kabar Oom Hartono meninggal :(.
Sedih banget, karena Oom (dan istrinya, Tante Vera) adalah salah satu dari sekian banyak senior di gereja yang aku segani. Oom Hartono gak pernah sungkan menyapa aku yang lebih muda dan secara keanggotaan di gereja masih sangat sangat baru. Ngobrol sama Oom Hartono tuh, beneran ngobrol - normal, 2 arah - seperti ngobrol ke temen aja. Padahal bisa aja dia mendominasi obrolan karena kan beliau umurnya lebih tua, udah pasti pengetahuan dan pengalamannya lebih banyak, yang bisa dishare juga lebih banyak.
Tapi, Oom Hartono gak mau sok pinter. Dia adalah sosok yang rendah hati yang mau dengerin pendapat / curhat kita. Dia selalu merespons dengan kata2 seperti, "Oh ya?" atau "Lho, kog bisa begitu?" atau "Menurut kamu bagaimana?", yang artinya omongan kita tuh gak asal masuk di telinga kiri dan keluar di telinga kanan dia.
Jadi sedih banget kehilangan salah satu orang baik lagi *padahal, baru beberapa minggu lalu seorang senior lainnya, tante Anita, yang juga aku segani dan hormati dipanggil Tuhan juga*.
Tadi aku ikut nganterin Oom ke tempat peristirahatannya yang terakhir di San Diego Hills, Krawang. Tempatnya bagus, lokasinya berbukit2 gitu *kalo udah rapi mungkin lebih terlihat seperti padang golf daripada cemetery*. Ada danau buatan yang bikin viewnya tambah oke. Pastinya bukan jenis kuburan yang bikin kita bergidik, saking seremnya...:).
Selamat jalan Oom...
"Father in heaven, thank you that Jesus Christ came and died on Calvary's cross and entered into a cruel tomb. But thank you that death could not hold Him, that He rose from the dead and is alive, that He has the keys of death, that as we put our lives in His hands, we need not fear death. Thank you that we can live with You forever. In Christ's name, Amen."
Congratulation to mami Merry yang tanggal 2 Maret kemarin ulang tahun. Happy belated Birthday! Biasanya kalo hari ultah jatuh pada hari biasa, acara makan2 keluarga diada'in Sabtu ato Minggu *Maklum 2 anak mami tinggal di Tangerang, dengan pertimbangan macet dan hari kerja jadinya kita lebih prefer kumpul2nya tuh pas week end supaya lebih santai dan waktunya lebih panjang :)* tapi, hari Senin kemaren kita, *anak2, mantu2 dan cucu2* kompakkan, rame2 kumpul di Grand Indonesia kejutin mami yang seolah2 diajak dinner sm Stevens dan Patty doang :). Horeee...mami surprise! Apalagi, my hubby dateng bawa tart Harvest, mami semangat banget mau tiup lilin :) *Ya...ya...ya, semua juga seneng tiup lilin walopun umur udah jauh dari 17 :)* Happy Birthday Mom!

Congratulation to Stevens and Patty yang finally tied their knot tanggal 8 Maret kemarin. Two people in love and end it as husband and wife. Congratulation once again. May all good things be yours. Have a wonderful life! :).

Congratulation to my brother and sister in law, Billy and Jeni yang finally menerbitkan buku rohani pertama mereka.

Tulisan yang enak dibaca, ringan tapi 'kena' banget. Slamat ya...semoga sukses dan cepat menerbitkan buku2 yang lain lagi :).
Rainer suka banget liat album foto keluarga. Kalo dia udah nyebut, "opa...opa..." *maksudnya opa Daniel, papi aku* sambil nunjuk2 album foto, itu berarti dia mau liat foto opanya :). Sedih juga karena 'sebenarnya' Rainer belum ngerti banget kan, secara umurnya masih 1 th 5 bln waktu opa Daniel meninggal :(.
Terakhir mami, papi nginep di rumah *Juli 2008* Rainer tuh lengket banget sama mereka. Padahal untuk orang yang jarang ketemu apalagi anak kecil biasanya kan suka malu2 gitu, jaga jarak untuk di observasi dulu dari jauh walopun itu keluarga mereka sendiri. Tapi, thanks God banget, Ryan & Rainer gak pernah nolak atau merasa canggung tiap kali dipeluk atau dicium oleh opa omanya, padahal intens pertemuan mereka bisa dihitung jari *ternyata anak kecil tuh misteri besar ya...Kita gak bisa bilang mereka gak ngerti karena kenyataannya mereka ngerti :)*.
Emang sih kasih sayang dari opa oma rasanya beda. Mereka lebih ngemong, sabar dan cenderung memanjakan cucunya. Mungkin itu sebabnya chemistry antara cucu dan opa omanya gak susah didapet :p.
Beruntung banget mereka yang masih punya opa oma, apalagi kalo bisa diajak bertukar pikiran dan berbagi pengalaman hidup. Hmmm...
Aku sendiri udah lama banget gak punya opa oma dari pihak papi. Opa Yan, biasa dipanggil opa Loa *kebiasaan orang2 di Manado mengubah/menyingkat nama orang supaya lebih mudah dipanggil atau diingat. Seperti misalnya William jadi Welem, Victor jadi Ito, Franky jadi Angky* udah meninggal waktu aku masih berumur 6 th. Gak banyak yang aku ingat dari opa Loa kecuali bahwa dia memang udah tua banget saat itu tapi masih kuat merokok dan minum kopi :p. Opa juga tinggi dan berkulit putih serta terlihat agak kebule2-an yang sayangnya gak nurun ke aku, hihihi...:p. Sedangkan oma Hellena *biasa dipanggil oma Ele* juga udah meninggal ketika aku kelas 6 SD. Mereka yang tinggal di Manado dan kami yang berpindah2 kota mengikut kerjaa'an papi membuat kami jadi gak bisa ketemu setiap saat.
Dari pihak mami, aku cuma ingat Oma Hanna. Soalnya opa udah meninggal lama ketika mamiku masih remaja.
Biasa deh, seperti kebanyakan oma dari Jawa, busana hari2 oma Hanna tuh kebaya dan kain dengan rambut yang disisir semuanya ke belakang dan dicepol sederhana. Padahal rambutnya mulai banyak yang rontok, tapi tetep aja dibiarin panjang. Mungkin oma lebih pede dengan model rambut cepol daripada model rambut pendek, lebih sesuai dengan gayanya berbusana kebaya kali ya. Aku perhatiin setiap helai rontokan rambut oma dikumpulin dan dimasukkin ke dalam sebuah plastik. Waktu aku tanya kenapa disimpan, katanya buat dijual, hahaha :D.
Oma Hanna memang lucu sekali. Dia punya sense of humor yang tinggi padahal aku tahu gak mudah bagi oma untuk menjadi janda dan menghidupi serta membesarkan kelima anaknya sendirian. Tapi, itulah oma. Selalu bercanda, tersenyum dan tertawa di tengah kerasnya hidup.
Suatu kali ketika sedang libur semester aku mengunjunginya untuk menginap beberapa hari. Ia mengajakku ke sebuah toko mas. Aku gak minta apa2 tapi ia memaksa membelikanku sebuah gelang kaki. Bener2 seorang perempuan berumur dengan hati seorang oma :).
Oma Hanna meninggal tahun 2000 dalam damai. Tidur seperti biasa dan keesokkan harinya gak bangun lagi. Oma ditemukan masih dalam posisi tidur miring dan sedang memeluk guling. Damai banget...
Banyak deh kenangan manis yang mereka tinggalkan. Bahkan walaupun itu dari opa Loa dan oma Ele yang hanya sebentar saja . Tapi, kepergian semuanya sama2 meninggalkan satu hal,.....kenangan manis.
What children need most are the essentials that grandparents provide in abundance. They give unconditional love, kindness, patience, humor, comfort, lessons in life. And, most importantly, cookies. ~Rudolph Giuliani
Pernah ada yang bilang, kita baru akan benar2 tau bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita sayangi ketika kita sendiri mengalami kehilangan itu.
And I find it very true. Perasaan sedih, rindu, kecewa, menyesal, marah, kehilangan mami papi, semuanya masih terasa campur aduk hingga saat ini. Berbagai macam pikiran dan pertanyaan juga masih terus berseliweran dikepalaku yang sebenarnya sudah aku 'set' untuk gak dipake berpikir yang berat2 :).
Beberapa kesadaran timbul bahwa apapun usaha yang kita lakukan untuk tubuh jasmani kita seperti yang banyak dijadikan topik dalam seminar2 kesehatan, diiklankan di media tv dan media cetak, demi memiliki hidup sehat atau awet muda, semua itu pada dasarnya hanya memperpanjang umur kita saja. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sekali lagi itu hanya untuk memperpanjang umur kita. Pada akhirnya, toh, kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dan bila saat itu tiba apakah kita sudah membawa bekal rohani yang cukup untuk menghadap Yang Maha Kuasa?
Seorang Ibu Pendeta (janda) dari gereja yang tidak sealiran denganku pernah tanya apa aku bisa memberi sumbangan Natal untuk gerejanya. Sebulan kemudian ketika aku sudah transfer, dia telpon. Aku bilang, "Sorry Tan, aku cuman bisa kasih seadanya." Dia jawab, "Wah, Tante terima kasih banget kamu sudah mau memberi. Orang memberi bukan karena dia kaya atau miskin tapi karena hatinya 'tergerak' untuk memberi."
Mungkin benar juga, besar kecil pemberian seseorang bukan karena dia berasal dari golongan kaya atau menengah atau bawah atau memiliki hubungan kekerabatan. Tapi, karena hatinya merasa tergerak untuk memberi entah karena simpati entah karena iba, apapun itu yang pasti itu dilakukan karena adanya 'dorongan' untuk melakukannya. Baris tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa2. Aku dan keluarga besar sangat berterimakasih untuk semua pemberian yang kami terima ketika mami papi meninggal baik moril maupun materiil. Besar kecil pemberian itu tidak menjadi ukuran. Hanya, aku menyadari kemungkinan kebenaran omongan tante diatas itu, karena aku ingat ketika mami papi meninggal ada amplop duka dari seorang ibu rumah tangga yang suaminya memiliki bengkel kecil, sederhana banget tapi memberi lebih besar drpd seorang pengusaha garmen. Juga ketika ada kenalan mami papi yang sudah memberi amplop tapi memberi lagi katanya, "kepengen".
Bukan berarti juga bahwa pemberian itu harus melulu menyangkut uang, ada orang yang tergerak untuk memberikan makanan kepada para tunawisma di jalanan setiap minggu, ada orang yang tergerak untuk mengajar anak2 kurang mampu tanpa memungut bayaran ataupun dibayar, ada orang yang merasa tergerak untuk membantu orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya sama seperti kisah orang Samaria yang baik hati, dan masih banyak lagi contoh2 lain yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan hanya oleh satu alasan hatinya merasa 'tergerak' atau terdorong oleh suatu keinginan kuat untuk memberi.
Pernah terdengar suara2 kasihan umur mami papi pendek (61th dan 66th). Walaupun aku sendiri menyesalinya tapi, aku kemudian ingat bahwa Yesus sendiripun hidupnya pendek. Hanya sampai umur 33 th. Tapi kasihNya, kebaikkanNya, mukjizat2Nya, kesaksian2Nya, dan hal2 lain dari diri Yesus masih diperbincangkan terus hingga saat ini. Intinya Yesus telah membuat hidupNya yang singkat itu penuh makna. Jadi, bukan panjang pendek umur yang menjadi ukuran hidup seseorang melainkan 'isi' dari hidup itu sendiri.
Banyak penghormatan yang aku lihat ditunjukkan kepada mami papi ketika mereka meninggal. Betapa mereka selama hidup mereka telah menabur banyak kebaikan sehingga menuai banyak kebaikan juga. Itulah isi kehidupan mereka dan perjalanan mengisi hidup itu telah mereka selesaikan sampai disana.

Walaupun tempat mereka gak lagi di dunia ini, tapi di salah satu ruang hatiku aku tau mereka ada...
Oh Bunda/Ayah,
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada
Di dalam hatiku
“Bunda” - Melly Goeslaw

1st image taken from family album.
2nd image taken from www.fotosearch.com