Bersiap2 ke Bandung. Kebaktian satu tahun meninggalnya mami papi.
Setelah pro dan kontra mau diadakan atau tidak, akhirnya kakak aku dari Manado datang dan mengkoordinir acaranya.
Lega deh.
Padahal mami papi udah gak di dunia ini lagi. Mereka gak tau kita bikin kebaktian buat mereka atau tidak. Mereka juga nggak tau kita berkunjung ke makam mereka, membawa bunga yang cantik2 atau gak. Mereka gak peduli lagi bahkan walau mereka mau. Mereka gak bisa dengar kata, "i love you mom, i love you pap," yang sering aku desahkan pelan...atau kenceng juga. Mereka gak tau aku punya blog ini yang aku buat setelah mereka 'pergi', yang sebagian besar isinya adalah ungkapan perasaan aku untuk mereka.
Mereka udah berupa jasad. Gak tau apa-apa lagi.
Tapi, anehnya...aku senang kalo setiap nyekar bawa bunga warna kuning, warna kesukaan mami. Bunga2 yang harganya agak mahal, yang ketika dia hidup rasa2nya blum pernah aku berikan. Aku puas kalo bisa menyiapkan konsumsi untuk acara2 peringatan meninggalnya mami papi dengan baik. Aku merasa bersalah kalau tidak ada kebaktian dan itu sebabnya sekarang aku lega karena kebaktian satu tahun jadi diadakan.
Malam ini akan menjadi hari pertama aku menginjakkan kaki lagi di rumah mami papi sejak November 2008.
Gak mau ngebayangin bagaimana rasanya berada di rumah peninggalan mami papi. Walaupun kenangan di rumah itu gak terlalu banyak karena dulu kita sering berpindah2 kota dan rumah, tapi itu rumah terakhir mereka ketika masih hidup. Rumah yang dibeli dan direnovasi dari hasil keringat papi selama ini. Rumah kebanggaan mami papi. Yang sengaja mereka bangun dengan jumlah kamar sesuai jumlah anak2nya, supaya ketika mereka pensiun nanti anak2 bisa tetap kumpul disana. Rumah yang berada di kota Bandung, kota pilihan anak2 mereka. Bukan kota Manado, tempat lahir papi atau kota Tegal tempat lahir mami. Tetapi, yang ternyata mereka dapati sepi karena semua anaknya tinggal terpisah dan beberapa berada di kota lain...sigh.
Semoga nanti aku gak terlalu sedih. Semoga nanti kesedihanku berganti dengan sukacita. Semoga penyesalanku bisa berkurang. Semoga.....
Dalam suatu persekutuan doa yang aku ikuti, Pendetanya bertanya: hal apa yang paling kita syukuri kita miliki dalam hidup kita? Aku berpikir. Dan aku menemukan jawabannya adalah.....orangtuaku.
Ya, orangtuaku. Mereka adalah hal yang paling aku syukuri aku miliki di dunia ini. Tanpa mereka aku gak mungkin ada. Tanpa kasih sayang mereka aku gak akan bertumbuh menjadi aku sekarang. Tanpa kesabaran mereka aku gak akan pernah selesai belajar menjadi manusia. Tanpa pengertian mereka aku tidak akan pernah bisa mengerti orang lain. Tanpa didikan mereka aku akan selalu menganggap kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Menyesal, aku baru menyadari dan mengakuinya sekarang.
Ampun deh...kenapa juga penyesalan harus datang belakangan yaaah....
Buat yang masih punya orang tua, apapun keadaan mereka, kekurangan mereka, mereka cuma manusia biasa sama seperti kita. Terimalah mereka apa adanya. Sayangi mereka, terlebih saat mereka tua. Karena kita pun kalau diberi umur panjang akan mencapai masa tua itu. Masa yang membuat kita letih karena kekuatan tubuh kita melemah, kemampuan organ2 tubuh kita berkurang, kemampuan berpikir dan mengerti yang sudah mencapai batas maksimum sebagai orangtua *sehingga bukan tidak mungkin kita akan dibuat bingung melihat tingkah anak muda generasi berikutnya, sama seperti kebingungan yang kita buat pada orang2tua kita sekarang ini*, semangat yang memudar, dan apa lagi...you name it.
Tapi pleasee.....mereka, orang2 tua, bukannya tidak punya semangat lagi. Kitalah yang sering mematahkan semangat mereka. Mengatakan mereka sudah tua, sebaiknya tidak usah begini tidak usah begitu. Mentertawakan bila mereka mempunyai mimpi. Mengurung mereka di rumah dengan tugas menjaga cucu. Mencegah mereka bepergian dengan alasan rumah adalah tempat teraman buat mereka. Membuat mereka menjadi orang tua seperti 'cetakan' / steorotip yang udah ada selama ini. Tubuh mereka memang lemah, tapi jiwa mereka gak pernah berubah. Jiwa mereka akan mati kalau anak2 mereka tidak mencintai, menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang layak buat mereka.
.............
Semoga dosa2ku diampuni.
:: see more gadget at the bottom of the page ::
Showing posts with label My Grieve. Show all posts
Showing posts with label My Grieve. Show all posts
Friday, October 16, 2009
Wednesday, September 30, 2009
Help Me....
Gak kerasa udah satu tahun berlalu sejak mami meninggal (26 Sept).
Tapi,bicara perasaan gak banyak yang berubah.
Sedih.....masih.
Kehilangan....masih.
Kecewa.....masih.
Masih juga berharap kalo semua ini hanya mimpi. Bahwa, mami (dan papi) hanya pergi keluar kota dan akan segera kembali membawa oleh2 dengan cerita2 yang remeh dan detil khas mami. Yang dulu paling sebal aku dengar karena menurut aku terlalu bertele2. Tapi, sekarang.....kalo bisa.....seandainya dengan aku berjanji akan berubah dan bersumpah akan lebih sayang sama mami, Tuhan mau menghidupkan mereka kembali.....aku gak keberatan untuk mendengarkan detil cerita kisah2 harian mami. Beneran.
.........
Tapi, ada juga yang aneh.
Kalo diinget2...dalam setahun ini sejak mereka pergi, kenapa ya...aku kog, justru lebih sering inget sama mami daripada sama papi. Padahal sewaktu mereka masih hidup bisa dibilang aku ini 'anak' papi.
Terlalu besarkah penyesalan itu...rasa bersalah karena kurang dekat dan baiknya hubungan aku dengan mami...sehingga sampe terserap ke alam bawah sadarku dan membuat aku seringkali terkenang sama mami, menjadi sedih dan termehek2....
Aku akui, aku memang menyesal. Rasa bersalah itu terlalu dalam. Rasanya, sepanjang umurku perasaan ini gak akan pernah hilang dan akan terus menghantui sisa hidup aku.
I need help. Yes.
Bukan untuk menghilangkan kenangan aku sama mami, tapi untuk membuat perasaan sedih, kehilangan dan menyesal ini membantu aku untuk hidup lebih baik.
Help me, pleaseeeeeee.................
Tapi,bicara perasaan gak banyak yang berubah.
Sedih.....masih.
Kehilangan....masih.
Kecewa.....masih.
Masih juga berharap kalo semua ini hanya mimpi. Bahwa, mami (dan papi) hanya pergi keluar kota dan akan segera kembali membawa oleh2 dengan cerita2 yang remeh dan detil khas mami. Yang dulu paling sebal aku dengar karena menurut aku terlalu bertele2. Tapi, sekarang.....kalo bisa.....seandainya dengan aku berjanji akan berubah dan bersumpah akan lebih sayang sama mami, Tuhan mau menghidupkan mereka kembali.....aku gak keberatan untuk mendengarkan detil cerita kisah2 harian mami. Beneran.
.........
Tapi, ada juga yang aneh.
Kalo diinget2...dalam setahun ini sejak mereka pergi, kenapa ya...aku kog, justru lebih sering inget sama mami daripada sama papi. Padahal sewaktu mereka masih hidup bisa dibilang aku ini 'anak' papi.
Terlalu besarkah penyesalan itu...rasa bersalah karena kurang dekat dan baiknya hubungan aku dengan mami...sehingga sampe terserap ke alam bawah sadarku dan membuat aku seringkali terkenang sama mami, menjadi sedih dan termehek2....
Aku akui, aku memang menyesal. Rasa bersalah itu terlalu dalam. Rasanya, sepanjang umurku perasaan ini gak akan pernah hilang dan akan terus menghantui sisa hidup aku.
I need help. Yes.
Bukan untuk menghilangkan kenangan aku sama mami, tapi untuk membuat perasaan sedih, kehilangan dan menyesal ini membantu aku untuk hidup lebih baik.
Help me, pleaseeeeeee.................
Wednesday, May 06, 2009
Sorry Mam...
Harusnya Sabtu kemaren kita nyekar ke kuburan mami papi. Kebetulan mami ulang tahun tgl 3 Mei yang jatuhnya pas hari Minggu. Walaupun dia udah gak 'disini', tapi aku pengen aja gitu bisa ke kuburannya hari itu :).
Sayang, pagi jam 1 gitu Rainer panas. Jam 2.30 am baru dia mau minum obat.
Wah, kalo anak sakit begini sih udah pasti bakal batal pergi. Gak mungkin kan maksa bawa anak yang lagi sakit untuk pergi ke luar kota buat nyekar pula. Jadi ya udahlah, walaupun panasnya udah agak turun aku tetap gak berani maksa'in pergi.
Sedih juga, karena ternyata sampe mami udah gak ada juga aku tetap gak bisa nyenengin dia, gak bisa dateng pas dia ulang tahun...*what a silly thought :)*
Sempet kepikiran juga sih apa kuburannya dipindahin ke yang deket2 aja? Kalo di Jawa gini kan repot. Jauh. Minimal 6 jam perjalanan darat baru sampe. Tapi, ada temen yang bilang kalo orang udah meninggal dan dikubur ya udah aja biarin disitu. Selain gak baik juga dipindah2in, trus apakah generasi setelah kita bakal seperhatian itu sama kuburan buyutnya?
"Paling juga cuman 3 generasi yang masih liatin (nyekar) kuburan kita", kata temen aku lagi.
Iya, bener juga sih...
Apa boleh buat, karena jaraknya jauh, untuk nyekar ke kuburan mami papi mungkin aku cuman bisa 2 kali dalam setahun. Syukur2 kalo bisa lebih.
"Mother is the name for God in the lips and hearts of little children."
William Makepeace Thackeray
Sayang, pagi jam 1 gitu Rainer panas. Jam 2.30 am baru dia mau minum obat.
Wah, kalo anak sakit begini sih udah pasti bakal batal pergi. Gak mungkin kan maksa bawa anak yang lagi sakit untuk pergi ke luar kota buat nyekar pula. Jadi ya udahlah, walaupun panasnya udah agak turun aku tetap gak berani maksa'in pergi.
Sedih juga, karena ternyata sampe mami udah gak ada juga aku tetap gak bisa nyenengin dia, gak bisa dateng pas dia ulang tahun...*what a silly thought :)*
Sempet kepikiran juga sih apa kuburannya dipindahin ke yang deket2 aja? Kalo di Jawa gini kan repot. Jauh. Minimal 6 jam perjalanan darat baru sampe. Tapi, ada temen yang bilang kalo orang udah meninggal dan dikubur ya udah aja biarin disitu. Selain gak baik juga dipindah2in, trus apakah generasi setelah kita bakal seperhatian itu sama kuburan buyutnya?
"Paling juga cuman 3 generasi yang masih liatin (nyekar) kuburan kita", kata temen aku lagi.
Iya, bener juga sih...
Apa boleh buat, karena jaraknya jauh, untuk nyekar ke kuburan mami papi mungkin aku cuman bisa 2 kali dalam setahun. Syukur2 kalo bisa lebih.
"Mother is the name for God in the lips and hearts of little children."
William Makepeace Thackeray
Thursday, February 19, 2009
It's My Dad b'day
Tahun lalu mami bikin kebaktian di rumah mereka di Bandung, sebagai ucapan syukur atas bertambahnya umur papi menjadi 66 thn dan karena papi sudah bisa keluar dari RS Borromeus setelah dirawat selama 14 hari disana (4 hari di ruang ICCU dan 10 hari di ruang Utama).
Aku sekeluarga bela-bela'in datang dari Tangerang walaupun hari itu hari Rabu, yang artinya suamiku harus ijin gak masuk kerja dan Ryan ijin gak masuk sekolah :). Karena kita pengin jalan dari pagi supaya siang udah sampe di Bandung dan bisa leyeh-leyeh dulu. Maklum, bawa anak-anak :)
Semua udah siap, waktu kemudian listrik mati sesaat sebelum kebaktian dimulai. "Telpon PLN deh mi, tanya kenapa," saranku pada mami. Kebiasaan kalo di rumahku mati lampu kita suka telpon Town Management atau PLN-nya langsung.
"Gak usahlah. Biasanya gak lama kog," kata mami. Ya udah, berharap sebentar lagi listrik nyala acara kita lanjutkan dibantu dengan cahaya dari lilin2 kecil. Kenyataannya, sampai acara selesai listrik masih mati dan baru menyala persis beberapa saat setelah para tamu bubar jalan! Duh! Ini kan kebaktian ulang tahun bukan kebaktian Natal?!
Apakah itu suatu pertanda? Gak tau juga. Bukan kebiasaan dalam keluargaku percaya mitos atau mengartikan suatu kejadian sebagai tanda. Mungkin, itu sebabnya aku begitu tolol tidak menyadari kalo mami papi akan segera 'pergi' akhir tahun 2008 kemarin.
Apakah jari telunjuk kanan aku yang terluka sangat dalam akibat goresan kaleng kornet 2 minggu sebelum mami meninggal adalah suatu pertanda? Apakah tiga telpon papi pagi itu, di hari dia meninggal, yang menyuruhku segera ke RS adalah suatu pertanda? *Saat papi dirawat di RS Immanuel, aku sekeluarga menginap di hotel terdekat: Hotel Grand Pasundan*.
Aku gak tau! Bener-bener gak tau!
.....
Happy Birthday Pap...I love you always :)
Aku sekeluarga bela-bela'in datang dari Tangerang walaupun hari itu hari Rabu, yang artinya suamiku harus ijin gak masuk kerja dan Ryan ijin gak masuk sekolah :). Karena kita pengin jalan dari pagi supaya siang udah sampe di Bandung dan bisa leyeh-leyeh dulu. Maklum, bawa anak-anak :)
Semua udah siap, waktu kemudian listrik mati sesaat sebelum kebaktian dimulai. "Telpon PLN deh mi, tanya kenapa," saranku pada mami. Kebiasaan kalo di rumahku mati lampu kita suka telpon Town Management atau PLN-nya langsung.
"Gak usahlah. Biasanya gak lama kog," kata mami. Ya udah, berharap sebentar lagi listrik nyala acara kita lanjutkan dibantu dengan cahaya dari lilin2 kecil. Kenyataannya, sampai acara selesai listrik masih mati dan baru menyala persis beberapa saat setelah para tamu bubar jalan! Duh! Ini kan kebaktian ulang tahun bukan kebaktian Natal?!
Apakah itu suatu pertanda? Gak tau juga. Bukan kebiasaan dalam keluargaku percaya mitos atau mengartikan suatu kejadian sebagai tanda. Mungkin, itu sebabnya aku begitu tolol tidak menyadari kalo mami papi akan segera 'pergi' akhir tahun 2008 kemarin.
Apakah jari telunjuk kanan aku yang terluka sangat dalam akibat goresan kaleng kornet 2 minggu sebelum mami meninggal adalah suatu pertanda? Apakah tiga telpon papi pagi itu, di hari dia meninggal, yang menyuruhku segera ke RS adalah suatu pertanda? *Saat papi dirawat di RS Immanuel, aku sekeluarga menginap di hotel terdekat: Hotel Grand Pasundan*.
Aku gak tau! Bener-bener gak tau!
.....
Happy Birthday Pap...I love you always :)
Wednesday, January 28, 2009
Sebagian dari yang 'kepikiran' itu (Part I)
Pernah ada yang bilang, kita baru akan benar2 tau bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita sayangi ketika kita sendiri mengalami kehilangan itu.
And I find it very true. Perasaan sedih, rindu, kecewa, menyesal, marah, kehilangan mami papi, semuanya masih terasa campur aduk hingga saat ini. Berbagai macam pikiran dan pertanyaan juga masih terus berseliweran dikepalaku yang sebenarnya sudah aku 'set' untuk gak dipake berpikir yang berat2 :).
Beberapa kesadaran timbul bahwa apapun usaha yang kita lakukan untuk tubuh jasmani kita seperti yang banyak dijadikan topik dalam seminar2 kesehatan, diiklankan di media tv dan media cetak, demi memiliki hidup sehat atau awet muda, semua itu pada dasarnya hanya memperpanjang umur kita saja. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sekali lagi itu hanya untuk memperpanjang umur kita. Pada akhirnya, toh, kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dan bila saat itu tiba apakah kita sudah membawa bekal rohani yang cukup untuk menghadap Yang Maha Kuasa?
Seorang Ibu Pendeta (janda) dari gereja yang tidak sealiran denganku pernah tanya apa aku bisa memberi sumbangan Natal untuk gerejanya. Sebulan kemudian ketika aku sudah transfer, dia telpon. Aku bilang, "Sorry Tan, aku cuman bisa kasih seadanya." Dia jawab, "Wah, Tante terima kasih banget kamu sudah mau memberi. Orang memberi bukan karena dia kaya atau miskin tapi karena hatinya 'tergerak' untuk memberi."
Mungkin benar juga, besar kecil pemberian seseorang bukan karena dia berasal dari golongan kaya atau menengah atau bawah atau memiliki hubungan kekerabatan. Tapi, karena hatinya merasa tergerak untuk memberi entah karena simpati entah karena iba, apapun itu yang pasti itu dilakukan karena adanya 'dorongan' untuk melakukannya. Baris tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa2. Aku dan keluarga besar sangat berterimakasih untuk semua pemberian yang kami terima ketika mami papi meninggal baik moril maupun materiil. Besar kecil pemberian itu tidak menjadi ukuran. Hanya, aku menyadari kemungkinan kebenaran omongan tante diatas itu, karena aku ingat ketika mami papi meninggal ada amplop duka dari seorang ibu rumah tangga yang suaminya memiliki bengkel kecil, sederhana banget tapi memberi lebih besar drpd seorang pengusaha garmen. Juga ketika ada kenalan mami papi yang sudah memberi amplop tapi memberi lagi katanya, "kepengen".
Bukan berarti juga bahwa pemberian itu harus melulu menyangkut uang, ada orang yang tergerak untuk memberikan makanan kepada para tunawisma di jalanan setiap minggu, ada orang yang tergerak untuk mengajar anak2 kurang mampu tanpa memungut bayaran ataupun dibayar, ada orang yang merasa tergerak untuk membantu orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya sama seperti kisah orang Samaria yang baik hati, dan masih banyak lagi contoh2 lain yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan hanya oleh satu alasan hatinya merasa 'tergerak' atau terdorong oleh suatu keinginan kuat untuk memberi.
Pernah terdengar suara2 kasihan umur mami papi pendek (61th dan 66th). Walaupun aku sendiri menyesalinya tapi, aku kemudian ingat bahwa Yesus sendiripun hidupnya pendek. Hanya sampai umur 33 th. Tapi kasihNya, kebaikkanNya, mukjizat2Nya, kesaksian2Nya, dan hal2 lain dari diri Yesus masih diperbincangkan terus hingga saat ini. Intinya Yesus telah membuat hidupNya yang singkat itu penuh makna. Jadi, bukan panjang pendek umur yang menjadi ukuran hidup seseorang melainkan 'isi' dari hidup itu sendiri.
Banyak penghormatan yang aku lihat ditunjukkan kepada mami papi ketika mereka meninggal. Betapa mereka selama hidup mereka telah menabur banyak kebaikan sehingga menuai banyak kebaikan juga. Itulah isi kehidupan mereka dan perjalanan mengisi hidup itu telah mereka selesaikan sampai disana.

Walaupun tempat mereka gak lagi di dunia ini, tapi di salah satu ruang hatiku aku tau mereka ada...
Oh Bunda/Ayah,
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada
Di dalam hatiku
“Bunda” - Melly Goeslaw

1st image taken from family album.
2nd image taken from www.fotosearch.com
And I find it very true. Perasaan sedih, rindu, kecewa, menyesal, marah, kehilangan mami papi, semuanya masih terasa campur aduk hingga saat ini. Berbagai macam pikiran dan pertanyaan juga masih terus berseliweran dikepalaku yang sebenarnya sudah aku 'set' untuk gak dipake berpikir yang berat2 :).
Beberapa kesadaran timbul bahwa apapun usaha yang kita lakukan untuk tubuh jasmani kita seperti yang banyak dijadikan topik dalam seminar2 kesehatan, diiklankan di media tv dan media cetak, demi memiliki hidup sehat atau awet muda, semua itu pada dasarnya hanya memperpanjang umur kita saja. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sekali lagi itu hanya untuk memperpanjang umur kita. Pada akhirnya, toh, kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dan bila saat itu tiba apakah kita sudah membawa bekal rohani yang cukup untuk menghadap Yang Maha Kuasa?
Seorang Ibu Pendeta (janda) dari gereja yang tidak sealiran denganku pernah tanya apa aku bisa memberi sumbangan Natal untuk gerejanya. Sebulan kemudian ketika aku sudah transfer, dia telpon. Aku bilang, "Sorry Tan, aku cuman bisa kasih seadanya." Dia jawab, "Wah, Tante terima kasih banget kamu sudah mau memberi. Orang memberi bukan karena dia kaya atau miskin tapi karena hatinya 'tergerak' untuk memberi."
Mungkin benar juga, besar kecil pemberian seseorang bukan karena dia berasal dari golongan kaya atau menengah atau bawah atau memiliki hubungan kekerabatan. Tapi, karena hatinya merasa tergerak untuk memberi entah karena simpati entah karena iba, apapun itu yang pasti itu dilakukan karena adanya 'dorongan' untuk melakukannya. Baris tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa2. Aku dan keluarga besar sangat berterimakasih untuk semua pemberian yang kami terima ketika mami papi meninggal baik moril maupun materiil. Besar kecil pemberian itu tidak menjadi ukuran. Hanya, aku menyadari kemungkinan kebenaran omongan tante diatas itu, karena aku ingat ketika mami papi meninggal ada amplop duka dari seorang ibu rumah tangga yang suaminya memiliki bengkel kecil, sederhana banget tapi memberi lebih besar drpd seorang pengusaha garmen. Juga ketika ada kenalan mami papi yang sudah memberi amplop tapi memberi lagi katanya, "kepengen".
Bukan berarti juga bahwa pemberian itu harus melulu menyangkut uang, ada orang yang tergerak untuk memberikan makanan kepada para tunawisma di jalanan setiap minggu, ada orang yang tergerak untuk mengajar anak2 kurang mampu tanpa memungut bayaran ataupun dibayar, ada orang yang merasa tergerak untuk membantu orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya sama seperti kisah orang Samaria yang baik hati, dan masih banyak lagi contoh2 lain yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan hanya oleh satu alasan hatinya merasa 'tergerak' atau terdorong oleh suatu keinginan kuat untuk memberi.
Pernah terdengar suara2 kasihan umur mami papi pendek (61th dan 66th). Walaupun aku sendiri menyesalinya tapi, aku kemudian ingat bahwa Yesus sendiripun hidupnya pendek. Hanya sampai umur 33 th. Tapi kasihNya, kebaikkanNya, mukjizat2Nya, kesaksian2Nya, dan hal2 lain dari diri Yesus masih diperbincangkan terus hingga saat ini. Intinya Yesus telah membuat hidupNya yang singkat itu penuh makna. Jadi, bukan panjang pendek umur yang menjadi ukuran hidup seseorang melainkan 'isi' dari hidup itu sendiri.
Banyak penghormatan yang aku lihat ditunjukkan kepada mami papi ketika mereka meninggal. Betapa mereka selama hidup mereka telah menabur banyak kebaikan sehingga menuai banyak kebaikan juga. Itulah isi kehidupan mereka dan perjalanan mengisi hidup itu telah mereka selesaikan sampai disana.
Walaupun tempat mereka gak lagi di dunia ini, tapi di salah satu ruang hatiku aku tau mereka ada...
Oh Bunda/Ayah,
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada
Di dalam hatiku
“Bunda” - Melly Goeslaw

1st image taken from family album.
2nd image taken from www.fotosearch.com
Monday, November 17, 2008
I love you, pap...
Lagi, aku dan keluarga harus berduka :(Semua persiapan yang udah aku buat untuk menyambut papi yang akan tinggal bersamaku setelah kepergian mami, jadi kerasa basi. Basinya lagi karena aku sama sekali 'ga cerita sama papi *i just kept it in my heart*. Padahal, who knows kalo itu bisa membuat papi senang, hatinya terhibur, semangatnya bertambah, dan bisa membuat ia menjadi sembuh *instead of meninggal :(* Ga tau deh, ada apa sih dalam diriku yang membuat aku jadi menahan diri gitu? Membuat jarak, seolah aku membuat suatu benteng besar dalam diriku. Tapi, untuk apa?!
Yang sedang terbaring sakit itu, papiku...! Ayah yang selalu mengasihi aku, memanjakanku, memperhatikanku. Yang selalu memberikan apapun yang aku minta, sehingga kerap membuat saudaraku yang lain cemburu *sorry*. Dia bukan orang yang tegas, sehingga seperti tarik ulur atas keinginanku melakukan sesuatu, tapi basically dia selalu support. Dia adalah ayah yang juga teman aku ngobrol. *Aku ingat, dulu aku ingin sekali bisa bahasa Prancis seperti dia, sehingga kami bisa ngomongin mami atau saudaraku yang lain tanpa mereka tahu. Hihihi...betapa menyenangkannya pikiranku saat itu*.
Papi hampir tidak pernah marah padaku.
Dia tidak marah ketika dulu, aku yang masih duduk di bangku kelas 5 SD mencoba belajar motor tanpa sepengetahuannya, dan dengan sukses menabrakkan motor yang akan dijual *karena kami akan pindah dari Makassar (d/h Ujungpandang) ke Bandung mengikuti papi yang dipindah tugaskan* ke pintu samping rumah dan terus melaju sebelum akhirnya berhenti diantara pohon2 sarikaya dan pisang yang tumbuh disamping rumah. Hari itu aku tidur lebih awal karena ketakutan, dan terbangun oleh sentuhan sayang dan sapa'an lembutnya, "ngana nda apa2 ko'oki (panggilan sayang papi untukku)? Nda luka toh?!" OMG! Papi sama sekali ngga mikirin motornya, yang menurut pikiranku yang masih kecil bakal terjual murah atau mungkin tidak laku sama sekali karena rusak. Yang dipikirkan dan dikhawatirkannya hanya aku. AKU!
Dia juga tahu aku mengalami masa-masa sulit dengan mami dan mulai memberontak. *Ketika aku melakukan itu papi sudah dipindah tugaskan lagi ke Bangkok sehingga kami harus berpisah untuk sementara waktu. Beberapa bulan sampai aku menyelesaikan SMA-ku di Manado.* Dan, ketika dia menjemput kami di Don Muang Airport, aku yang semula tidak berani menatapnya malah menemukan kelembutan dan kasih sayang terpancar dari bola matanya. Sama sekali tidak ada kemarahan dan tidak ada kekecewaan yang keluar dari mulutnya. Hanya segudang pengertian, berusaha memahami bahwa aku, gadis kecilnya, sudah mulai besar dan sedang mencari jati diri *pdhal aku jg ga tau apa itu jati diri. Sampe skrg kayaknya belum ketemu deh :)*.
Dia tidak marah ketika aku menabrakkan mobilnya pada waktu aku belajar nyetir mobil. Dia malah mengajakku ke biro jasa pembuatan surat2 di jln Naripan, Bandung *skrg udah ga ada*. Membuatkan aku SIM A pdhal, nyetir aja aku baru berani pake gigi satu. "Gpp, bikin aja. Supaya kamu 'ga ditangkap polisi kalo lg nyetir dijalan," begitu alasannya.
Seharusnya minggu itu *13 hr setelah mami meninggal* aku datang ke Bandung untuk menjemput papi tinggal bersamaku. Tapi, aku harus datang sehari lebih cepat, kamis 9/10, krn mendapat kbr papi dirawat di RS Immanuel, Bandung karena fesesnya berwarna hitam, which is indikasi pendarahan dalam. Rupanya, kesedihan papi karena ditinggal mami membuat papi kehilangan selera makan. Semua makanan jadi terasa hambar. "Lebih enak masakan mami," begitu selalu ucap papi setiap kali selesai memasukkan satu sendok makan ke dalam mulutnya, sebelum kemudian menolak untuk menghabiskan makanannya. Akibatnya perut (baca: maag) papi sakit, ditambah lagi obat jantung yang tidak boleh berhenti dikonsumsi papi agak keras dan seharusnya diminum sesudah makan. Begitu juga obat diabetesnya.
Sama seperti mami, papi juga meninggal tanpa ngerepotin anak-anaknya (khususnya dalam soal biaya. SEDIKITPUN! Mulai dari biaya Rumah Sakit sampai Pemakaman). Mereka selalu bilang tidak mau membebani anak-anak dan janji itu telah mereka penuhi. Hanya 3 hari papi dirawat di RS sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Minggu, 12 Oktober 2008
Jam 12.40 pm
Ruang VIP, LCB # 9, RS Immanuel, Bandung
Hari, waktu dan tempat yang 'ga akan pernah aku lupa. Yang hanya sekedar lewat daerah situ aja mampu membuat aku menitikkan airmata dan selalu menarik nafas panjang, berharap rasa nyeri dalam hatiku menguap.....entah kapan.
I love you, pap....I love you so much.
I know, God already prepared a bright and blessed place for you and mom in His heaven kingdom, for you have kept your faith till the end. And with Him shall we all ever stay. Till we meet again!
ps: oh, how i miss our wonderful times together.....
I love you mom....and I'm sorry
I love you mom...I thank you for took a very good care of me since i was little,
I thank you for always be there for me in a bad times or a good times,
I thank you for everything!
I miss you!
I'm sorry that I hurts you a lot!
If only she's still alive. I would say that out loud to her!
'Ga cuman omong doang, tapi aku juga akan memeluknya. Aku akan memperperhatikan dia dengan lebih baik lagi. 'Ga cuma sekedar telpon setiap minggu menanyakan kabarnya, tapi aku mau menjadi pendengar setia untuk setiap cerita-ceritanya, untuk keluh kesahnya, untuk kekawatiran-kekawatirannya, untuk harapan-harapannya. Apapun itu, aku mau memberikan telinga dan hatiku untuk mendengar.
'Ga menyela, mengkritik, menyalahkan, hanya mendengar.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku belum sempat mengucapkan itu semua ketika pagi tgl 26 Sept' 2008, aku mendapat kabar bahwa mami 'ga sadarkan diri dan kemudian sudah tidak tertolong lagi. Aku bahkan sudah 12 hari belum ngobrol lagi sama mami. 2 hari sebelum mami meninggal aku telpon, tapi mami 'ga ada. "Mami lagi kebaktian kaum Ibu," begitu kata papi yang menerima telponku malam itu.
Aku merasa menjadi anak yang jahat, yang tidak tau balas budi, yang begitu acuh kepada ibuku sendiri.
Mami orang yang baik (setiap temanku pasti akan berkata begitu dan kebingungan bila mendengar curhatku soal ketidak-akrabanku dengan mami), perhatian, sabar, selalu memberikan nasehat-nasehat yang baik, membekali aku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan agama yang 'ga cuman dia sampaikan lewat teori doang, tapi juga lewat tindakan-tindakan dia.
Emang sih, mami cerewet...:). Tapi, bukankah hampir setiap ibu seperti itu? Dia juga agak konservatif - lama untuk beradaptasi dengan perubahan-. Dan...over protektif, terutama kepadaku yang anak perempuan satu-satunya.
Mungkin karena sifat dia yang over protektif itulah hubunganku dengan mami 'ga begitu baik lagi. Terutama setelah aku udah di kelas 2 bangku Sekolah Menengah Atas dan hampir merayakan "my sweet seventeen birthday".
Setelah aku berhasil dikomporin teman-teman untuk berpacaran, "masa SMA masa yang paling indah lho...gila aja lo kalo sampe lulus dari sini tanpa sempet ngerasa'in indahnya pacaran...", aku jadi lebih sering lagi ribut sama mami. Mendadak aku jadi punya stock alasan-alasan yang semuanya bohong, hanya supaya aku bisa bepergian dengan my backstreet boyfriend sampai malam (itupun juga sebenarnya ga lewat dari jam 10 pm sih...hehe, masih ngebela diri aja :p). Dan, aku tidak pernah lagi curhat sama mami soal apapun juga. Karena aku merasa kami berbeda dan mami tidak mau mengerti aku.
Mungkin bukan perbedaan itu sendiri yang jadi masalah, tapi lebih ke diriku yang selalu merasa benar, dan maunya semua keinginanku dituruti, atau apapun juga harus berjalan sesuai dengan kemauanku. Alhasil, setiap kali kami mencoba berbincang-bincang, semuanya tidak pernah berakhir manis. Dan, aku semakin menutup diri.
Hubungan ibu-anak dan komunikasi yang kusut ini terus berlanjut sampai aku kuliah, bekerja dan menikah. Barulah, setelah aku melahirkan anakku yang pertama, aku mulai sedikit lebih lunak. Mulai ngga terlalu ngotot mempertahankan pendapatku atau memaksakan mami untuk mengerti dan mengadopsi teori-teoriku yang dangkal, yang aku dapat dari pergaulan yang hanya bersifat senang-senang aja.
Kelihatannya mami cukup senang dengan komunikasi kami yang sudah lebih baik ini. Karena, ketika mami meninggal, tante dan saudara sepupuku cerita bahwa mami sangat terkesan denganku. Dan bahwa katanya aku penuh perhatian pada mami. Tsk!
Aku menyesal tidak berbuat yang terbaik untuknya. Aku menyesal karena rasa seganku aku tidak pernah mengucapkan kata sayang padanya. Aku menyesal karena egoku aku hanya sekali mengucapkan terimakasih kepadanya pada saat acara sungkeman ketika aku menikah dulu. Aku menyesal aku tidak berusaha mengerti dia. Aku menyesal aku tidak cukup mencoba untuk menjadi pendengar setia. Aku menyesal memperlihatkan bahwa aku lebih sayang papi daripada mami. Aku menyesal selalu menyalahkannya untuk apa yang terjadi dalam hidupku. Aku menyesal selalu membandingkannya dengan ibu-ibu yang lain yang lebih modern dan 'gaul', yang mengijinkan anaknya untuk berganti-ganti pasangan, yang tidak keberatan anaknya pulang malam, mengenakan pakaian sexy. Aku menyesal....., aku menyesal.....Ah!
I love you mom...
I thank you for took a very good care of me since i was little,
I thank you for always be there for me in a bad times or a good times,
I thank you for everything!
I miss you!
I'm sorry that I hurts you a lot!
If only she's still alive. I would say that out loud to her!
But from now on, I can only whisper that into my pray.
Subscribe to:
Posts (Atom)
