:: see more gadget at the bottom of the page ::

Tuesday, February 10, 2009

Enaknya di rumah...

Ada enaknya juga being a stay home mom...:p. Kalo kurang tidur tinggal tidur lagi terserah mau jam berapa, hahaha.

Bayangin aja kalo punya balita dengan pola tidur masing2, ada yang suka nangis tiap beberapa jam, ada yang gelisah tidurnya bolak/ik sebentar2 kepalanya udah dibawah atau sebaliknya, yang kalo gak kita benerin posisinya takut jatuh dari tempat tidur. Hahaha, gimana kita bisa tidur pulas kalo begitu? Belum lagi setiap hari harus bangun jam 5 untuk beresin keperluan suami yang mau kerja dan anak yang mau sekolah. Sementara malemnya baru bisa tidur diatas jam 12 pm? Bisa dipastikan deh, kalo kerja kantoran pasti di kantor gak bisa konsen, kepala sakit dan akhirnya produktivitas kerja menurun.

Itu sebabnya waktu ada babysitter yang ngomongin majikannya yang katanya gak mau tidur sekamar dengan anak, aku maklum. Aku ngerti beban ibu bekerja. Dia butuh energi yang banyak untuk bisa kerja, melayani suami dan main sama anak2nya after office hour. Dan, itu gak akan bisa dia dapetin kalo dia kurang tidur. So, salute to those working mom :).

Monday, February 09, 2009

Berobat ke negeri lain or Indonesia saja?

Sebenarnya udah pengen bikin postingan ini sejak beberapa waktu lalu, tapi kepending terus.

Kebetulan, waktu itu baca berita soal meninggalnya Ibunda dari salah seorang yang sedang mencalonkan diri untuk menjadi the next President in Indonesia di harian Kompas. Di akhir berita ada comment yang mempertanyakan rasa nasionalisme keluarga tsb yang membawa ibunya berobat ke Singapore. "Kenapa gak di Indonesia saja?"

Kalo boleh berpendapat, terserah orang donk mau berobat dimana kalau memang dia punya kemampuan secara finansial untuk berobat ke negara lain yang secara medis peralatan dan pengetahuannya lebih maju daripada Indonesia. Itu pertama, dan yang kedua, bagaimana kalau pertanyaannya dibalik? Apakah instansi rumah sakit / dokter-dokter di Indonesia mempunyai rasa nasionalisme yang sama pada saat menangani pasien-pasiennya yang secara notabene adalah saudara sebangsa setanah air dengan mereka?

Berkaca pada pengalaman pribadi, kayaknya kalau punya uang lebih mending berobat ke negara lain deh yang sudah diakui kemampuan dan keprofesionalannya menangani para pasien. Bagaimana tidak? Suamiku 2 tahun lalu dirawat di ruang VIP di sebuah rumah sakit daerah Menteng, yang tarifnya Rp 1jt/malam. Bukannya mau nyombong sebutin nominalnya disini, tapi bener2 deh keterlaluan, tarif kamar yang diberikan gak sesuai dengan luas ruang kamar, rumah sakit dan pelayanan yang diberikan. Bukannya membuat tenang pasien, suster dan pegawai administrasi malah bolak balik masuk kamar suamiku hanya untuk minta tanda tangan surat pernyataan mau membayar obat dengan jumlah sekian dan biaya2 lain yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi kepada pasien. Akhirnya, karena stress dan gak bisa istirahat suamiku langsung minta keluar dari rumah sakit padahal baru dirawat 1 malam 2 hari dan dalam kondisi masih agak keleyengan karena baru selesai diendoskopi.

Pengalaman lain ketika membawa papi kami dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Supaya papi nyaman, kami meminta kamar VIP. Tapi, lagi-lagi sikap tidak profesional diperlihatkan oleh suster dan dokter. Padahal ruang perawatan ayah kami di ruang VIP! Dan salah seorang keluarga sudah 'menitipkan' ayah kami pada seorang dokter kenalan yang berpraktek disana. Bayangkan, kalau ayah kami yang dirawat di ruang VIP aja mendapatkan penanganan yang tidak profesional, bagaimana pula pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien2 di ruang kelas 1, 2 atau 3?

Nah, sekarang yang tidak punya rasa nasionalisme tuh siapa?

Masalah ini bukan masalah baru kog, hampir di semua surat kabar, tabloid atau majalah kita bisa membaca tindakan2 medis / perawatan / pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien tuh seperti apa.

Namun, bukan berarti juga semua dokter atau perawat atau instansi rumah sakit di Indonesia seperti itu. Masih ada lah yang memberikan perhatian dan perawatan secara manusiawi. And, I know some of them!

Ya, well, ini hanya sharing pengalaman aja sih, supaya orang juga jangan seenaknya menuduh seseorang tidak punya rasa nasionalisme karena berobat ke negara lain. Namanya juga pengen sembuh usaha apa aja pasti akan dilakukan. Gak peduli meskipun harus sampai berlayar ke negeri seberang,...dan walaupun kadang2 bukan kesembuhan juga yang didapat. At least udah mencoba :p.

Street Race in Lippo Village

For the first time in Indonesia ada lomba mobil street race yang diadakan here in Lippo Village.

Harusnya sih A1GP World Motorsport Championship, tapi karena denger2 belum dapet approval dari FIA soal keamanan track (mungkin. Soalnya Lippo bangun track within only 100 hari. Wajarlah, FIA meragukan keamanannya secara lomba ini kan bersifat internasional), jadi A1-nya diganti sama GT Championship.

Sayang, gak bisa ikut nonton :p. Gak ada alasan khusus sih, cuman kebetulan temen2 yang aku hubungi belum bisa bilang mau pergi juga dan hari minggu aku ada undangan ultah, so, ya sudahlah...Moga2 next race bisa liat, kan penghuni...kalo bisa wajib donk mendukung program2 dari Town Management :p.

Wednesday, February 04, 2009

Senang vs Bingung

Lagi seneng and lagi bingung at the same time :p.

Seneng, ketemu beberapa teman lama di fb. Ternyata walo udah pada 'dewasa' secara umur, 'gila'nya gak ilang2 juga, hahahaha :D. Pas banget tuh quotenya temen "umur pasti bertambah, tapi menjadi dewasa adalah pilihan"

Bingung, krn Ryan ternyata enggak mau terusin SD di sekolah pilihan papinya. Mau lanjut di sekolah yang skarang aja, karena katanya temen baik dia, Kenken, juga lanjut di SD yang skarang.

Dan aku? Lagi-lagi masih gak bisa melepaskan diri dari sikap plin plan alias gak punya pendirian. Buktinya, skarang jadi kebingungan gini. Padahal dari awal aku memang memilih Ryan tetap lanjut di sekolah yang sekarang krn beberapa pertimbangan. Tapi, begitu Ryan oke, kog...bukannya hepi malah jadi merasa gak enak gini yaa sama papinya??? Hehehehe...:p

Added on 18th March
: akhirnya Ryan mau juga lanjutin SD di skolah pilihan papinya. Dan aku memutuskan untuk yes aja deh, soalnya fasilitas SD yang ini lebih komplit dan yang pasti mutunya lebih oke. And this time, udah gak boleh berubah pikiran lagi karena akhir Feb kemaren kita udah bayar uang pangkal sesuai ketentuan sekolah :).

Monday, February 02, 2009

Tips For A Beautiful Life

Received an email from a friend days ago, but i just have time to read and open the attachment today. It's nice and the tips are quite motivating so I'd like to share it here.

Title: Some tips that may bring you a beautiful life!

- Take a 10-30 minute walk everyday and while you walk, smile.
- Sit in silence for at least 10 minutes each day.
- When you wake up in the morning complete the following statement,"My purpose is to...today."
- Spend more time with people over the age of 70 and under the age of six.
- Dream more while you are awake.
- Try to make at least three people smile each day.
- Realize that life is a school and you are here to learn, pass all your tests. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.
- Smile and laugh more. It will keep the energy vampires away.
- Life is too short to waste time hating anyone.
- Don't take yourself so seriously. No one else does.
- Don't compare your life with others'. You have no idea what their journey is all about.
- You don't have to win every argument. Agree for disagreement.
- Burn the candles, use the nice sheets. Don't save it for a special occasion. Today is special.
- Forgive everyone for everything.
- Time heals almost everything. Give time, time.
- However good or bad a situation is, it will change.
- Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will stay in touch.
- Get rid of anything that isn't useful, beautiful or joyful.
- No matter how you feel, get up, dress up and show up.
- Make peace with your past, so it won't mess up the present.
- Live with the 3 E's Energy, Enthusiasm, Empathy and the 3 F's Faith, Family, Friend.
- Life isn't fair but it's still good.
- No one is in charge of your happiness except you.
- What other people think of you is none of your business.
- The best is yet to come.
- Do the right thing.
- Call your family often.
- Remember that you're to be blessed to be stressed.
- Each night before you go to bed complete the following statements,"I am thankful for..." "Today I accomplished..."

Wednesday, January 28, 2009

Sebagian dari yang 'kepikiran' itu (Part I)

Pernah ada yang bilang, kita baru akan benar2 tau bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita sayangi ketika kita sendiri mengalami kehilangan itu.

And I find it very true. Perasaan sedih, rindu, kecewa, menyesal, marah, kehilangan mami papi, semuanya masih terasa campur aduk hingga saat ini. Berbagai macam pikiran dan pertanyaan juga masih terus berseliweran dikepalaku yang sebenarnya sudah aku 'set' untuk gak dipake berpikir yang berat2 :).

Beberapa kesadaran timbul bahwa apapun usaha yang kita lakukan untuk tubuh jasmani kita seperti yang banyak dijadikan topik dalam seminar2 kesehatan, diiklankan di media tv dan media cetak, demi memiliki hidup sehat atau awet muda, semua itu pada dasarnya hanya memperpanjang umur kita saja. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sekali lagi itu hanya untuk memperpanjang umur kita. Pada akhirnya, toh, kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dan bila saat itu tiba apakah kita sudah membawa bekal rohani yang cukup untuk menghadap Yang Maha Kuasa?

Seorang Ibu Pendeta (janda) dari gereja yang tidak sealiran denganku pernah tanya apa aku bisa memberi sumbangan Natal untuk gerejanya. Sebulan kemudian ketika aku sudah transfer, dia telpon. Aku bilang, "Sorry Tan, aku cuman bisa kasih seadanya." Dia jawab, "Wah, Tante terima kasih banget kamu sudah mau memberi. Orang memberi bukan karena dia kaya atau miskin tapi karena hatinya 'tergerak' untuk memberi."

Mungkin benar juga, besar kecil pemberian seseorang bukan karena dia berasal dari golongan kaya atau menengah atau bawah atau memiliki hubungan kekerabatan. Tapi, karena hatinya merasa tergerak untuk memberi entah karena simpati entah karena iba, apapun itu yang pasti itu dilakukan karena adanya 'dorongan' untuk melakukannya. Baris tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa2. Aku dan keluarga besar sangat berterimakasih untuk semua pemberian yang kami terima ketika mami papi meninggal baik moril maupun materiil. Besar kecil pemberian itu tidak menjadi ukuran. Hanya, aku menyadari kemungkinan kebenaran omongan tante diatas itu, karena aku ingat ketika mami papi meninggal ada amplop duka dari seorang ibu rumah tangga yang suaminya memiliki bengkel kecil, sederhana banget tapi memberi lebih besar drpd seorang pengusaha garmen. Juga ketika ada kenalan mami papi yang sudah memberi amplop tapi memberi lagi katanya, "kepengen".

Bukan berarti juga bahwa pemberian itu harus melulu menyangkut uang, ada orang yang tergerak untuk memberikan makanan kepada para tunawisma di jalanan setiap minggu, ada orang yang tergerak untuk mengajar anak2 kurang mampu tanpa memungut bayaran ataupun dibayar, ada orang yang merasa tergerak untuk membantu orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya sama seperti kisah orang Samaria yang baik hati, dan masih banyak lagi contoh2 lain yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan hanya oleh satu alasan hatinya merasa 'tergerak' atau terdorong oleh suatu keinginan kuat untuk memberi.

Pernah terdengar suara2 kasihan umur mami papi pendek (61th dan 66th). Walaupun aku sendiri menyesalinya tapi, aku kemudian ingat bahwa Yesus sendiripun hidupnya pendek. Hanya sampai umur 33 th. Tapi kasihNya, kebaikkanNya, mukjizat2Nya, kesaksian2Nya, dan hal2 lain dari diri Yesus masih diperbincangkan terus hingga saat ini. Intinya Yesus telah membuat hidupNya yang singkat itu penuh makna. Jadi, bukan panjang pendek umur yang menjadi ukuran hidup seseorang melainkan 'isi' dari hidup itu sendiri.

Banyak penghormatan yang aku lihat ditunjukkan kepada mami papi ketika mereka meninggal. Betapa mereka selama hidup mereka telah menabur banyak kebaikan sehingga menuai banyak kebaikan juga. Itulah isi kehidupan mereka dan perjalanan mengisi hidup itu telah mereka selesaikan sampai disana.



Walaupun tempat mereka gak lagi di dunia ini, tapi di salah satu ruang hatiku aku tau mereka ada...

Oh Bunda/Ayah,
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada
Di dalam hatiku
“Bunda” - Melly Goeslaw




1st image taken from family album.
2nd image taken from www.fotosearch.com

Tuesday, January 27, 2009

Everyday is a blessing

Have been busy lately. Jadi jarang nengok buah hati yang satu ini, my blog :p.

Lagi agak sibuk dan lagi 'ada' yang dipikirin yang pengennya sih ditulis disini tapi bingung mo mulai darimana, :p.

Seminggu terakhir ini akhirnya NPWP kelar. Hasil test IQ Ryan udah keluar. Nilainya 133 pada skala Wechsler, yang masuk kategori Sangat Cerdas. Test Akademisnya juga bagus rata2 100, mendengar doang yang 85 mungkin dia gak konsen karena tangannya udah pegel kerjain soal2 :p dan berpikir ngapain juga anak sekecil aku udah dites seperti ini hanya untuk masuk SD doang :p.

Banyak lagi hal baik lainnya yang terjadi seminggu belakangan ini. Puas, menyenangkan dan menambah kekayaan batin.

Awal yang manis di pembuka tahun yang baru bukan ?....:)

Friday, January 16, 2009

Ryan & Tes IQ

Obrolan aku dan Ryan, kemarin, ketika dia selesai test IQ. Penasaran banget,...pengen tau :p.

Aku : "Ryan inget gak didalam tadi ditanya apa aja?"
Ryan : "Mmm...apa ya, mmm...ibunya nanya gini: mangga-jambu-jeruk. Ryan jawab asam. Kata dia bukan. Ryan bilang buah. Iya betul katanya."
Aku : "Hahaha, trus...apa lagi?"
Ryan : "Apa ya...lupa. Mmm...itu, dia tanya: kucing-tikus. Ryan jawab: mengejar. Bukan. Memakan. Bukan. Binatang. Nah, gitu donk..." (hehehe...maklum salah satu film favoritnya Tom & Jerry).
Aku : "Trus...?"
Ryan : "Ryan ditanya, katanya Ryan dikasih uang sama mami buat beli roti di pasar, tapi, rotinya habis. Ryan ngapain? Ryan bilang Ryan cari ke toko lain."

Waaah...anakku pinter juga jawabnya ya...:D.

Ryan : "Tapi, ada yang Ryan gak bisa jawab juga mi."
Aku : ".....ga papa deh, yang penting Ryan udah berusaha," jawabku menguatkan dia, walaupun (awalnya) yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah khawatir :p.

Senin besok 19/1, hasilnya diambil. Semoga it can make us smile ear to ear :).

........

Ah, tapi...apapun hasilnya Ryan tetap anak mami papi tersayang (Rainer juga donk, pastinya :)).

Mendadak Kreatif

Salah satu hal yang aku pelajari after being a mom is to be creative.

Yang aku maksud disini bukan kreatif menjahit, memasak atau membuat kue, tapi kreatif berpikir cepat mencari kata2 atau mengalihkan perhatian anak supaya bisa dibujuk untuk: brenti nangis, menghabiskan makanannya (basi kalo cuman bilang: "ayo donk chayank...abisin mamamnya". Udah gak mempan. Skarang kita ibu2 dituntut kreatif bikin tampilan makanannya semenarik mungkin not just something to eat but a lifestyle (ngutip dari AFC channel :p)), mau mandi, stop main, ganti baju, berani unjuk kebolehan, tidur siang, tidur cepat di malam hari, bikin pe-er, dll.

Macam2 lah, termasuk juga kreatif ngajarin anak mengenal bentuk, warna, huruf, angka (ada beberapa teman yang gak bisa kreatif ngajarin anak. Alasannya si anak gak mau denger omongan mereka, jadi solusinya anak mereka dibawa ke tempat kursus. Ya gpp juga, tapi kalo mulai umur 2th udah dikasih les kan kasian anaknya juga).

Anyway, waktu antar Ryan test IQ kemaren, gak tau gimana dia tiba2 mogok gak mau masuk ruang test. Padahal dari rumah gak apa2. Sampe sekolah juga masih santai dulu, nonton murid2 SD disitu main sepakbola karena testnya blom dimulai.




Senewen banget. Bingung. Gak enak sama tim pengujinya karena mereka jauh2 datang dari kantor pusat, di tanjung duren.

Udah bujuk2, dibantu oleh staff sekolah dan salah satu ibu dari tim penguji tetap juga dia gak mau. Mau sih, dengan syarat aku ikutan masuk ke dalam ruangan which is yang peraturannya tidak boleh. Jadi pusing...

"Abis ini kita ke timezone yuuk," rayu aku. Ryan tetap geleng2 kepala. Duuuh...bingung banget. Waktu berjalan terus dan aku gak punya ide gimana cara bujuk dia dalam waktu sesingkat mungkin. Sampai akhirnya aku inget dia tuh gak suka sama mata pelajaran Korea di TK dia skarang. Aku bilang, "kalo Ryan gak mau ikut test nanti Ryan balik lagi lho terusin SD-nya di skolah yang skarang. Ryan jadi belajar bahasa Korea lagi deh. Katanya gak suka." Dia kelihatan mikir2 gitu. Akhirnya... berhasil! Mau juga deh dia masuk dan duduk didepan ibu penguji. Lega.....:).

Untunglah setelah selesai dia keluar ruangan dengan riang, gak kelihatan stress :). Padahal testnya cukup lama juga satu jam lebih dan diawali dengan 'pertarungan' batin dulu :p.

Salah satu kreatifitas yang lain adalah bercerita. Ryan suka sekali diceritain. Mau tidur siang minta cerita, tidur malam juga. Mending kalo cerita dari buku, kadang2 dia kasih tema yang kita harus create sendiri. "Mi cerita tentang Ryan ke Bali. Semua teman2 ikut: ada Mickey, Pooh, Handy Manny, Ben 10, Aang, Tom, Jerry, Dora, Diego,...(dan tokoh2 lain dari channel anak2 favorit dia)." Ceritanya sih pendek, nyebutin semua tokoh2 itu lho yang bikin lama saking banyaknya :).

Aku juga suka seenaknya mengubah syair lagu (maaf kepada penciptanya :)).
"Satu satu mami sayang Rainer
Dua dua papi sayang Rainer
Tiga tiga kakak sayang Rainer
Satu dua tiga semua sayang Rainer"
(Gubahan dari lagu satu satu aku sayang Ibu).

Intinya, lagi-lagi semua itu butuh kreatifitas. Kelihatan sepele tapi, coba aja gampang2 susah lho...:). Kalo yang punya anak balita pasti deh tau kerepotannya gimana :p.

Wednesday, January 14, 2009

Ryan and Badminton

Sejak umur 3 th Ryan suka skali main badminton. Walo frekuensinya gak sering -- karena raket rusak, keabisan cock, gak ada partner (anak tetangga / mami papinya lg gak bisa temenin main :)), berubah mood, dll -- tapi, overall dia udah bisa megang raket dan mukul cocknya.

Dibanding main sepeda dia lebih suka badminton. Mungkin karena pengalaman pertama naik sepeda jatuh dan pernah ketabrak pula, jadi dia males2 gitu kalo disuruh naik sepeda :(.

Ini foto waktu kita nonton final Indonesia Open, Juni 2008 lalu di Istora Gelora Bung Karno.


Penontonnya yang sedikit atau lapangan indoor-nya yang kegedean?


Yang ngambil foto amatiran (maksudnya: bener2 amatir. bukannya bilang amatir tapi hasil fotonya bagus2 :p). Keliatan gak yang difoto siapa? Mereka ganda putri Indonesia nomor satu saat ini: Vita Marissa dan Lilyana Natsir. Maaf, blur banget. Sekali lagi yang motret amatiran :p.

Dan ini video dia 'tanding' sama papinya.



Not bad kan? :D.
Christian graphics