:: see more gadget at the bottom of the page ::

Thursday, October 22, 2009

"Well done is better than well said"
Benjamin Franklin

Yeah, rite. I found it's very difficult to do as what I've wrote on my previous postings...:p.

Gak mudah menghilangkan pikiran2 negatif kalo badan lagi sakit, gak mudah mengerti kalo jalan terbaik dari Tuhan adalah 'mengambil' orang tua yang kita sayang, gak mudah untuk mengangkat badan ini dari tempat tidur dan menikmati sejuknya udara pagi....

Hidup ini memang proses belajar ya....ada teori ada praktek. Dua item penting yang harus berjalan selaras gak boleh berat sebelah.

Hope I'm not talk too much....:p

Saturday, October 17, 2009

Good Morning....

"Early to bed and early to rise makes a man healthy, wealthy and wise"
Benjamin Franklin


Seperti biasa, seperti pagi2 yang lain, aku terbangun jam 4.30 am (kadang2 sih lebih subuh) oleh alarm rengekan si kecil yang mulai kelaparan pertanda minta 'ngedot' :p.

Biasanya gak pernah perhatiin langit, karena sementara nungguin Rainer minum susu, aku merem. Lumayan kan bobo2 ayam 5 menit :). Dan begitu urusan susu menyusui kelar aku tidur lagi stengah jam. Baru bener2 bangun jam 6 pagi.

Matiin lampu2, menggeser gordyn dan menyangkutkan tali kaitnya, buka pintu depan, melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ibu2 rumah tangga. That's it. Boro2 menikmati suasana baru pagi hari, melihat2 aja lebih dari 1 menit gak sempet a.k.a gak pernah disempet2in :p.

Melihat dari jendela kamar juga gak pernah. Mau lagi di rumah atau di hotel selalu begitu apalagi gordyn kamar selalu kita tutup.

Tapi kali ini berbeda. Gordyn kamar hotel gak kita tutup. Entah lupa, entah kecapean, entah karena semalam masih asyik lihat keramaian kota Bandung dari kamar atau karena letak kamar kita yang berada di lantai 10 hotel Novotel, jadi kita pikir gak mungkin lah ada orang iseng ngintip2,...atau mungkin juga karena ketika tiba di Bandung kemaren sore kita udah dihebohkan dengan berita ada gempa (lagi) yang pusatnya di Banten dengan kekuatan 6.4 SR, jadinya sempet serem gitu, berpikir bahwa kalau ada apa2 kita bisa loncat, eh...enggalah, make sure dengan ngintip ke luar kamar hotel :D *mmm...mungkin gak sih sempet2in ngintip keluar jendela kalo gempa bener2 terjadi. Kayaknya gak mungkin...:)*

Pastinya sih karena gordyn kamar gak ditutup aku jadi bisa lihat perubahan warna langit dari mulai jam 5am. Cantik banget. Langit yang semula gelap perlahan2 bergradasi dengan warna abu2 muda dan biru muda. "Lihat deh Ry, langit mulai terang. Udah pagi nih," kataku pada Ryan yang ikut2an terbangun. Terlihat satu sisi langit mulai berwarna kuning lembut. Tanda matahari akan segera menampakkan diri. Aku melirik jam tangan yang kuletakkan di meja nakas samping tempat tidur. Benar dugaanku, udah jam 6.

Rasanya udah lama banget aku gak melihat dan menikmati pagi seperti ini. Walaupun hanya dari dalam kamar, tapi suasananya 'dapet'. Mungkin karena kamar kita diatas juga, jadi terasa dekat dengan langit *lebay deh :p*.

Aku jadi inget dulu waktu masih remaja gitu, mami selalu mengajak aku untuk bangun pagi, libur atau gak libur. Kata mami udara pagi bagus untuk paru2. Segar. Bersih. Bebas polusi. Selain tentunya untuk kasih tau aku kalau orang tuh gak boleh jadi pemalas. Bangun siang buat mami identik dengan pemalas. Mami selalu ngatain "bonto" kalo aku bangun siang, yang sampe sekarang aku gak inget juga artinya apa. Pokoknya kalo suka bangun siang ya sebutannya 'bonto' :p.

Walau begitu tetep aja aku lebih suka dan lebih sering berada di tempat tidur, menghangatkan diri dalam balutan selimut. Enak banget, nyaman sekali....

Tapi, belakangan aku mulai suka menikmati indahnya pagi hari. Dalam keheningan aku seperti dapat merasakan kehadiran Tuhan. Dan secara otomatis bersyukur atas keberadaanku.

Ngga terhitung udah berapa banyak pagi yang aku buang karena kemalasan dan keenggananku meninggalkan tempat tidur. Tetapi, betapa aku sangat bersyukur karena masih bisa diberi kesempatan merasakan nikmat hidup ini melalui terbitnya pagi.

Thank you Lord :).

Friday, October 16, 2009

A Year Has Passed By...

Bersiap2 ke Bandung. Kebaktian satu tahun meninggalnya mami papi.

Setelah pro dan kontra mau diadakan atau tidak, akhirnya kakak aku dari Manado datang dan mengkoordinir acaranya.

Lega deh.

Padahal mami papi udah gak di dunia ini lagi. Mereka gak tau kita bikin kebaktian buat mereka atau tidak. Mereka juga nggak tau kita berkunjung ke makam mereka, membawa bunga yang cantik2 atau gak. Mereka gak peduli lagi bahkan walau mereka mau. Mereka gak bisa dengar kata, "i love you mom, i love you pap," yang sering aku desahkan pelan...atau kenceng juga. Mereka gak tau aku punya blog ini yang aku buat setelah mereka 'pergi', yang sebagian besar isinya adalah ungkapan perasaan aku untuk mereka.

Mereka udah berupa jasad. Gak tau apa-apa lagi.

Tapi, anehnya...aku senang kalo setiap nyekar bawa bunga warna kuning, warna kesukaan mami. Bunga2 yang harganya agak mahal, yang ketika dia hidup rasa2nya blum pernah aku berikan. Aku puas kalo bisa menyiapkan konsumsi untuk acara2 peringatan meninggalnya mami papi dengan baik. Aku merasa bersalah kalau tidak ada kebaktian dan itu sebabnya sekarang aku lega karena kebaktian satu tahun jadi diadakan.

Malam ini akan menjadi hari pertama aku menginjakkan kaki lagi di rumah mami papi sejak November 2008.

Gak mau ngebayangin bagaimana rasanya berada di rumah peninggalan mami papi. Walaupun kenangan di rumah itu gak terlalu banyak karena dulu kita sering berpindah2 kota dan rumah, tapi itu rumah terakhir mereka ketika masih hidup. Rumah yang dibeli dan direnovasi dari hasil keringat papi selama ini. Rumah kebanggaan mami papi. Yang sengaja mereka bangun dengan jumlah kamar sesuai jumlah anak2nya, supaya ketika mereka pensiun nanti anak2 bisa tetap kumpul disana. Rumah yang berada di kota Bandung, kota pilihan anak2 mereka. Bukan kota Manado, tempat lahir papi atau kota Tegal tempat lahir mami. Tetapi, yang ternyata mereka dapati sepi karena semua anaknya tinggal terpisah dan beberapa berada di kota lain...sigh.

Semoga nanti aku gak terlalu sedih. Semoga nanti kesedihanku berganti dengan sukacita. Semoga penyesalanku bisa berkurang. Semoga.....

Dalam suatu persekutuan doa yang aku ikuti, Pendetanya bertanya: hal apa yang paling kita syukuri kita miliki dalam hidup kita? Aku berpikir. Dan aku menemukan jawabannya adalah.....orangtuaku.

Ya, orangtuaku. Mereka adalah hal yang paling aku syukuri aku miliki di dunia ini. Tanpa mereka aku gak mungkin ada. Tanpa kasih sayang mereka aku gak akan bertumbuh menjadi aku sekarang. Tanpa kesabaran mereka aku gak akan pernah selesai belajar menjadi manusia. Tanpa pengertian mereka aku tidak akan pernah bisa mengerti orang lain. Tanpa didikan mereka aku akan selalu menganggap kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Menyesal, aku baru menyadari dan mengakuinya sekarang.

Ampun deh...kenapa juga penyesalan harus datang belakangan yaaah....

Buat yang masih punya orang tua, apapun keadaan mereka, kekurangan mereka, mereka cuma manusia biasa sama seperti kita. Terimalah mereka apa adanya. Sayangi mereka, terlebih saat mereka tua. Karena kita pun kalau diberi umur panjang akan mencapai masa tua itu. Masa yang membuat kita letih karena kekuatan tubuh kita melemah, kemampuan organ2 tubuh kita berkurang, kemampuan berpikir dan mengerti yang sudah mencapai batas maksimum sebagai orangtua *sehingga bukan tidak mungkin kita akan dibuat bingung melihat tingkah anak muda generasi berikutnya, sama seperti kebingungan yang kita buat pada orang2tua kita sekarang ini*, semangat yang memudar, dan apa lagi...you name it.

Tapi pleasee.....mereka, orang2 tua, bukannya tidak punya semangat lagi. Kitalah yang sering mematahkan semangat mereka. Mengatakan mereka sudah tua, sebaiknya tidak usah begini tidak usah begitu. Mentertawakan bila mereka mempunyai mimpi. Mengurung mereka di rumah dengan tugas menjaga cucu. Mencegah mereka bepergian dengan alasan rumah adalah tempat teraman buat mereka. Membuat mereka menjadi orang tua seperti 'cetakan' / steorotip yang udah ada selama ini. Tubuh mereka memang lemah, tapi jiwa mereka gak pernah berubah. Jiwa mereka akan mati kalau anak2 mereka tidak mencintai, menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang layak buat mereka.

.............

Semoga dosa2ku diampuni.

Thursday, October 15, 2009

Never think delay...

"You may delay, but time will not"
Benjamin Franklin


Belakangan lagi sering terlambat anter Ryan ekskur.

Entah, keenakan karena bulan ini dia masuk shift siang, sehingga separuh pagi hari bisa aku gunakan untuk browsing internet, sekedar santai aja atau praktekkin resep masakan Ny. Liem (yang menurut aku dari sekian banyak buku2 resep masakan, buku resep milik Ny. Liem adalah yang paling 'bener'. Hasil rasa masakannya 'gak bo'ong' buat aku yang masih *juga* belajar masak. Enak dan pas. Dibandingkan buku resep masakan lainnya, yang udah capek2 dipraktekkin ternyata rasanya....huuu...jauh banget. Bikin bete aja :p).

Aku pikir aku bisa atur waktu. Bersiap2 mandi, dll 30 menit sebelum batas waktu maksimum untuk nganter Ryan tiba. Dengan gerakku yang gesit aku pasti bisa mengungguli gerak si jarum panjang yang terlihat bergeser pelan per satu kali detakan.....tek.

Seperti di film2 action tuh. Bom yang tinggal beberapa menit lagi meledak tetap masih bisa dijinakkan, padahal sebelumnya si tokoh utama masih harus beradu otot dulu alias fight sama bad guys-nya atau apalah situasi kritisnya yang disuguhkan oleh produser, oleh the movie maker. Sepertinya waktu menunggu 'banrol'nya (istilah jadul untuk si jagoan, tokoh utama, tapi gak tau spell-nya gimana ;p). Seolah memberi kesempatan pada si patriot berjubah putih untuk menyelesaikan pertarungannya dan menjinakkan bom. And at the end, as you can guess, good guys always win :).

Pikiran yang amat sangat bodoh, berkiblat pada film2, karena pada kenyataannya aku gak pernah berhasil mematahkan waktu yang hanya setengah jam. Aku butuh lebih dari 30 menit, karena selalu saja ada godaan untuk melakukan hal2 lain sebelum mandi dan bersiap2, misalnya: buka fb, baca update status temen2, nimbrung isi kolom komentar, etc, etc. Kalo udah begini ceritanya jadi paaaanjaaaang dan laaamaaaaa.....:p

Hasil akhirnya ya udah ketebak: terbirit2 masuk mobil.

Rencana pengen sayang2 mobil dengan tidak kebut2an jadi hanya tinggal rencana, karena mau gak mau gas harus dikencengin demi untuk bisa meminimize jam terlambat Ryan sampe di sekolah, heheheee....:p.

Manfaatkan waktu.

Seharusnya 24 jam itu bisa diisi dengan banyak hal, asal kita gak menunda2 kerjaan.

Berdoa, baca Alkitab, baca renungan pagi.....hal2 yang sering banget aku abaikan dan kalo ingetpun dilakukan sambil nyambi.....*hehee, biar Tuhan dan aku aja yang tau :p*.

Yah, semoga seringnya aku keteteran dengan waktu bulan ini bisa aku perbaiki. Start from today! Okeh, ngeblognya udahan dulu ya....

Wednesday, October 14, 2009

merah, kuning, hijau.....

Enak juga rasanya pake baju dengan warna yang lebih cerah: pink, orange, kuning....:). Rasanya lebih fresh dan lebih 'hidup' setelah bertahun2 lebih suka dengan outfit warna netral.

Waktu kerja dulu pernah juga sih, sekali, pake baju warna pink ungu gitu, dan hasilnya.....sepanjang hari itu teman2 kerja ngeledek, bertanya2 'ada apa gerangan' dan wondering hari itu hari spesial aku dengan seseorang. Huh. Hehehee...:p.

So, balik lagi deh ke warna2 aman, warna2 netral. Warna yang rasanya lebih cocok buat aku yang gak terlalu suka diperhatiin orang :p.

Apalagi ketika setahun lalu mami papi meninggal. Semakin banyak aja deh tuh koleksi baju2 aku berwarna hitam. Yang karena gak ada pilihan, mau pergi kemana2 juga pasti ada warna hitamnya :).

Sampai suatu hari kakak iparku komentar, "kalo ke rumah sakit sebaiknya pake warna2 cerah, supaya aura negatif yang ada dirumah sakit bisa diminimize."

Ya, okelah, bukan ide yang buruk, jadinya setiap kali mau ke rumah sakit aku berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk gak pake baju2 warna hitam. Alhasil pilihan aku jatuh ke warna abu2, putih, biru dan coklat, karena memang cuman warna2 itu yang aku punya selain hitam :).

Tapi, sekarang koleksi baju aku udah lebih berwarna sedikit. Awalnya, karena mami mertua yang bawa'in oleh2 kaos Giordano dari Singapore untuk suami tapi kekecilan. Karena sayang gak dipake, aku pikir buat aku aja. Tadinya sempat mikir2 juga sih, karena warnanya kog kuning ya. Tapi, pikir2 lagi, gak apa2 lah. Cuman dipake waktu antar jemput anak sekolah ini :p.

Ternyata oh ternyata, kaos itu cukup sering juga aku pake dan gak cuman waktu antar jemput anak sekolah aja.

Aku suka perasaan yang timbul waktu lagi make atasan warna pink, orange, kuning.....rasanya lebih bersemangat dan 'sehat'.

Lain kali mau coba juga ah beli warna merah, hijau dan ungu :).

Wednesday, September 30, 2009

Help Me....

Gak kerasa udah satu tahun berlalu sejak mami meninggal (26 Sept).

Tapi,bicara perasaan gak banyak yang berubah.

Sedih.....masih.
Kehilangan....masih.
Kecewa.....masih.

Masih juga berharap kalo semua ini hanya mimpi. Bahwa, mami (dan papi) hanya pergi keluar kota dan akan segera kembali membawa oleh2 dengan cerita2 yang remeh dan detil khas mami. Yang dulu paling sebal aku dengar karena menurut aku terlalu bertele2. Tapi, sekarang.....kalo bisa.....seandainya dengan aku berjanji akan berubah dan bersumpah akan lebih sayang sama mami, Tuhan mau menghidupkan mereka kembali.....aku gak keberatan untuk mendengarkan detil cerita kisah2 harian mami. Beneran.

.........

Tapi, ada juga yang aneh.

Kalo diinget2...dalam setahun ini sejak mereka pergi, kenapa ya...aku kog, justru lebih sering inget sama mami daripada sama papi. Padahal sewaktu mereka masih hidup bisa dibilang aku ini 'anak' papi.

Terlalu besarkah penyesalan itu...rasa bersalah karena kurang dekat dan baiknya hubungan aku dengan mami...sehingga sampe terserap ke alam bawah sadarku dan membuat aku seringkali terkenang sama mami, menjadi sedih dan termehek2....

Aku akui, aku memang menyesal. Rasa bersalah itu terlalu dalam. Rasanya, sepanjang umurku perasaan ini gak akan pernah hilang dan akan terus menghantui sisa hidup aku.

I need help. Yes.

Bukan untuk menghilangkan kenangan aku sama mami, tapi untuk membuat perasaan sedih, kehilangan dan menyesal ini membantu aku untuk hidup lebih baik.

Help me, pleaseeeeeee.................

Tuesday, September 08, 2009

Life is short....

"Life is too short and so F*** unfair".

Sebaris kalimat yang aku baca di status facebook salah seorang teman yang kebetulan sepupu suami aku, Shinta.

Membaca itu aku jadi sedih. Bukan karena kalimatnya yang terdengar kasar, tapi karena aku ngerti banget alasan dibalik tulisan itu. Aku sangat mengerti perasaan amarah, kekecewaan, kesedihan, kegalauan dan emosi2 lain yang timbul di hati Shinta karena kehilangan satu2nya adik yang dia miliki.

Adik Shinta, Gita meninggal pertengahan bulan Agustus '09 kemarin. Dirawat di ICU dalam keadaan sadar sampai perlahan2 kehilangan kesadaran, sebelum akhirnya tertidur untuk selamanya. Menyerah kalah karena obat yang diberikan dokter udah gak bisa mengobati bakteri yang ada di paru2 Gita yang fungsinya sejak awal dirawat hanya tinggal 20% akibat penyakit bronchopneumonia (infeksi paru2). Penyakit yang menurut dokter gak terjadi secara tiba2. Tetapi yang gak mungkin juga disangka2 dan mengajukan pemeriksaan secara menyeluruh di tahun2 sebelumnya, kalo Gita sendiri gak pernah merasa sakit yang lebih serius, selain batuk yang kemudian sembuh hanya dengan minum obat batuk biasa.

Siapa yang menyangka?

Sebelumnya Gita adalah seorang wanita muda yang sehat, enerjik, gaul, cantik *banget* dengan pekerjaan dan karir yang oke. Tinggal di Bali, sebuah pulau yang disebut pulau dewata, pulau eksotis yang masih menjadi number one choice tempat favorit liburan hampir semua orang termasuk aku, anak2 dan suami. Semua sempurna, sampai tiba2 Gita mengeluh batuk, panas, dua penyakit yang umum tapi lalu diikuti rasa sesak nafas, and then.....that's it. Perjalanan hidup dia harus berhenti sampai disitu aja.

Siapa yang gak shock?!

Shock banget. Sebuah pukulan besar yang dirasakan keluarga besar termasuk aku yang hanya sepupu ipar. Terlebih karena aku ada di dalam ruang ICU itu pada saat detik2 terakhir dokter memeriksa dan menyatakan semua sudah selesai. Melihat sinyal2 di layar monitor yang semuanya telah flat. Mendengar jerit tangis keluarga dan sahabat dekat Gita yang ikut masuk dalam ruang ICU. Suasana yang mirip sekali dengan dua pengalaman aku terdahulu ketika menemani seorang teman lama yang ibunya udah koma dan ketika mendampingi papi aku di rumah sakit.

Life is short? Yes. We'll never know what will happen next. Seperti gempa yang terjadi tanggal 2 September kemarin, tidak bisa diprediksi, tidak bisa diduga. Itu sebabnya BMG gak pernah bisa kasih informasi yang akurat dan pasti. Karena semua terjadi secara tiba2. Siap atau gak siap.

Life is unfair? Yes. Begitu jawaban aku ketika baru kehilangan kedua orang tuaku hampir setahun yang lalu. Usia mereka masih tergolong muda untuk orang2 tua seangkatan mereka. Tanpa penyakit yang berat kecuali papi yang memang sudah mulai sakit2an. Tapi, masih oke lah.

Sepasang suami istri tetangga papi mami aku di Bandung, dengan umur yang lebih tua dan sudah tidak berdaya karena penglihatan yang kabur, kaki yang sudah tidak bisa menopang tubuh mereka sehingga hanya bisa duduk dan tidur. Berjalan, mandi dan makan harus dibantu orang lain, tetapi sampai saat ini masih hidup. Padahal menurut mereka, mereka sangat berharap untuk bisa 'mati' saja karena sangat tidak nyamannya keadaan tubuh mereka sekarang.

Aku bukan berharap mereka mati, tetapi kenapa orang lain dengan kondisi seperti itu bisa hidup lebih lama sedangkan kedua orang tuaku tidak? Yes, life is truly unfair.

Tetapi....

Kalo pertanyaan itu diulang sekarang ini,....aku gak bisa jawab. Aku hanya bisa percaya dan menyerahkan semua pada Tuhan. Aku belajar untuk menerima kehilangan ini, karena yang punya hidup kita adalah Tuhan. Aku gak berani menggugat otoritas Tuhan. Rencana Dia bukan rencana kita manusia. Jalan2 Tuhan bukan jalan kita. Semuanya misteri, tetapi Tuhan minta kita untuk percaya aja, percaya yang tanpa batas dan menurut sama Dia.

Yang pasti, dengan kesadaran bahwa hidup ini singkat aku berharap aku bisa lebih menghargai dan mensyukuri setiap tarikan nafas yang membuat aku masih hidup saat ini dengan mengumpulkan lebih banyak lagi bekal2 rohani....Karena cuman itu satu2nya harta yang bisa aku bawa nanti pada saat aku pamit dari dunia ini.

after a long time break....

Setelah sempat 'takut' mati karena selesai operasi usus buntu akhir Mei lalu, pergelangan kaki aku keseleo. Belum sembuh udah ketularan cacar air. Sempet juga sakit gigi. Terus, badan seperti gak mau kompromi dengan kegiatan2 baru aku *jadi sopir anak*. Otot2 mulai dari pergelangan kaki, betis, paha, pinggang, bahu dan lengan yang semuanya sebelah kiri sakit semua, ngilu, pegel. Rasanya gak enak banget deh. Takut, kalo ini gejala mau stroke. Baru tenang, setelah kakak iparku bilang kalo stroke itu gak ada gejala. Stroke ya stroke aja...Akhirnya aku bisa juga main2 ke blog aku ini dan bikin postingan baru :).

What a relief.

Stress gak sih? Stress banget.

Tapi, aku belajar merubah pola pikir aku yang tadinya udah pesimis banget. Meng-up grade iman aku. 'Kacamata' aku ganti. Dan, hasilnya lumayan. Aku sekarang lebih sehat. Lebih bergembira dan lebih bersemangat. Seperti pemazmur bilang, "hati yang gembira adalah obat, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang."

Usaha juga donk. Periksa ke dokter spesialis syaraf, terapi dan pijet di tempat spa yang awalnya smua itu aku lakukan karena takut, tapi kemudian dengan niat baik untuk lebih sehat, lebih aware sama kesehatan diri aku sendiri, supaya aktivitas aku sebagai teman main anak-anak (dan suami juga) gak terganggu ^_^.

Tapi, satu yang pasti berkat kesehatan, berkat kekuatan dan berkat2 lain semuanya dari Tuhan. Amin deh...:)

"God heals, and the doctor takes the fees"
Benjamin Franklin

Thursday, June 25, 2009

"Religion is for those who are afraid of hell. Spiritually is for those who have been through hell."

If you are afraid of compassion, care, simplicity, self sacrifices, love, and sense (think) it as a hell, then you don't need God at all. What you need is called "Religion".

Thursday, June 04, 2009

Reconsider.....

"Take it from Richard, poor and lame, what's begun in anger ends in shame"
Benjamin Franklin

Aku ingat, dulu setiap kali marah sama suami dan merasa unek-unek aku belom tersampaikan semua, aku sering banget tergoda untuk melampiaskannya lagi, melanjutkan ke ronde berikutnya dengan mengirim sms.

Tapi, ada satu nasehat yang aku lupa dengar atau baca dimana - kalo gak salah inget sih, sepertinya aku baca di sebuah buku renungan harian - yang katanya, kalo mo marah melalui surat sebaiknya surat itu di simpan dulu, jangan langsung dikirim pada saat kita masih marah. Nanti, setelah kemarahan kita reda kita baca2 lagi surat itu dan pertimbangkan apakah penyampaian kita udah benar dan bisa dimengerti, jangan sampe karena semangat melampiaskan emosi, kata2 yang kita gunakan gak tepat, salah atau kasar sehingga bukannya si penerima menangkap maksud inti surat kita dan masalah dapat diselesaikan, malahan kita dapat masalah baru.

Merasa nasehat itu benar, jadinya setiap kali aku mau kirim sms unek2, aku suka keep dulu. Aku simpan dulu di draft message, baca lagi berulang2, mengkoreksi beberapa kalimat supaya jangan sampe timbul salah pengertian, dan baru deh aku kirim.....Walopun sebenarnya sms itu lebih sering batal dikirim juga sih, soalnya sementara baca2 lagi emosi aku ikutan jadi reda. Bisa ditebak, sms itu lebih sering tersimpan aman di draft message henfon aku daripada terkirim :). *Kalo sekarang dibaca2 lagi aku jadi suka ketawa-tawa, senyum2 sendiri karena udah lupa2 ingat kalo pernah ada suatu kejadian yang bikin aku jengkel dan ketik sms itu :).*

Thanks God, gak jadi pecah perang yang gak perlu. Gak perlu bikin orang jadi sakit hati, karena kata2 yang kita ucapkan selagi emosi yang kemungkinan besar dan udah terbukti akan bikin kita nyesel belakangan.

Sunday, May 31, 2009

Thank You....


Berbuat baik, yes. Mengharap balasan, jangan deh.

Kebanyakan orang udah tau rule yang simple ini, tapi tetep aja aku masih suka dengar keluhan dari beberapa orang yang merasa perbuatan baik mereka gak mendapat balasan yang setimpal atau mungkin lebih tepatnya gak sesuai dengan ekspetasi mereka.

Seorang teman, sebut aja A pernah telfon,
A : "Lo udah tau blom si B udah ngelahirin?"
Aku : "Blom. Eh, emang udah ya? Udah pada nengok blom?"
A : "Belom. Biarin deh, nanti aja kapan2."
Aku : "Lho? Kenapa?"
A : "Males ah. Waktu itu aja anak gue masuk rumah sakit, temen2 gak ada yang datang nengok."

Aku cuman membalas dengan ketawa kecil sambil mesem2, karena aku termasuk salah seorang yang absen visit ke rumah sakit walopun sebenarnya aku ke rumah dia juga setelah anaknya keluar dari rumah sakit :).

Pernah juga ada seseorang yang nyeletuk ketika dia sakit, katanya, "Yang datang nengok pasti banyak nih, keterlaluan aja kalo engga, karena aku kan anggota tim visitasi, aku suka nengokkin mereka2 juga."

Kedengaran agak nuntut ya, tapi masih wajar.

Dan sebenarnya memang ada kog, ganjaran untuk setiap perbuatan baik kita. Gak selalu dari orang yang kita pikir 'akan' membalas kebaikan kita sama dia. Orang itu bisa siapa aja dan darimana aja, tapi intinya kita menerima balasan atas perbuatan baik kita.

Emang sih, kadang2 kepikir juga kalo misalnya kita lagi sakit, lagi berduka atau lagi senang baru punya bayi trus teman kita gak bisa datang menghibur, berbagi duka atau suka dengan kita, sebenarnya mereka bisa telfon atau minimal sms kan?! Supaya kita tau mereka care, sama seperti kita udah care sama mereka.

However, aku gak pernah maksa orang untuk baik sama aku. Gak mau nuntut juga, "eh, lo dateng donk nengok gue, kemaren waktu lo sakit kan gue nengok juga." Bebas2 aja, santai2 aja, jangan jadi beban.

Aku juga berusaha kalo baik sama orang itu bukan karena terpaksa, tapi karena aku mau dan tulus melakukannya.

And, to those who had shown their care to me, i'd like to say thank you. That's really highly appreciated. May God bless you all abundantly :).

Friday, May 29, 2009

RR's Birthday....

Dua minggu lalu tanggal 17 Mei 2009, kita ngeraya'in ulang tahun Ryan - Rainer di Mc Donalds Alam Sutera, Serpong.

Waktu milih tempat yang masih di daerang Tangerang dekat dengan rumah, tapi jauh dari rumah beberapa kerabat dan teman, aku sempat mikir2 gitu. Berdasarkan pengalaman, ada yang mengeluh gak bisa datang karena lokasi jauh. Padahal sih, kalo niat, jauh dekat juga pasti diusahakan dateng ya :). Kita juga suka dapet undangan dari Cinere, Cibubur, Kelapa Gading, Bekasi, tapi kalo kita niat ya kita dateng. Berdasarkan pemikiran itu, akhirnya aku memutuskan untuk bikin pestanya di daerah sekitar Tangerang aja deh. Kalo suamiku gak usah ditanya2 lagi, karena dia bukan orang yang suka mikir pikiran/pendapat orang lain (emang bener sih, ngapain repot ya :)), dia berpendapat, kalo tamunya gak bisa datang dengan alasan jauh, ya itu urusan dia, hehe...

Oke, jadi Tempat, Hari dan Tanggal udah confirmed. Paket untuk anak2 dan pilihan menu2 untuk orang tua juga udah. Kue tart dan Badut karakter Grimmache udah dipesan. Kartu undangan udah dicetak, sebagian udah dikirim via e-mail sebagian lagi titip teman dan saudara. Tinggal goody bag aja nih yang perlu disiapin.

Walopun sempat terganggu dengan nyeri di perut bawah dan 2 kali pemeriksaan appendix ke Siloam Hospital minggu itu, aku kuat2-in untuk cari souvenir di ITC BSD. Tadinya mau ke pasar pagi, tapi kawatir gak kuat muter2 disana, kejauhan dan nanti malah sakit pas hari H, jadi belanjanya ke ITC BSD dan Hypermart aja deh. Mungkin agak mahal sedikit, tapi biar gimana kesehatan aku lebih penting kan...:).

Sempet kawatir juga karena hari Jumat malam aku meriang, pusing dan muntah2, tapi puji Tuhan hari Sabtu aku udah sembuh dan sampe hari Minggu aku baik2 aja. Praise The Lord.

Ternyata juga kekawatiran aku soal enggaknya datangnya tamu2 karena pemilihan lokasi gak terlalu terbukti. Memang sih yang bilang jauh dan gak bisa datang ada, tapi akhirnya cuman satu keluarga doang yang gak bisa datang karena alasan jauh itu. Beberapa yang lain, gak bisa datang karena punya acara lain yang gak bisa dicancel dan atau anaknya sakit.

Seru, rame dan berjubel karena selain tamu2 kita, ada customer2 Mc Donald lain juga yang makan disitu.

Dan yang pasti, yang paling penting, Ryan & Rainer were happy. Hip! Hip! Hooray!

Here are some of the pictures:
Sebagian orang tuaSebagian anak-anakSebagian bantal souvenirSebagian kantong snack Ben 10/Batman/Transformer untuk cowo dan Strawberry/Hello Kitty untuk cewe.

Monday, May 25, 2009

Semoga ini yang pertama dan terakhir....

Selasa, 12 Mei lalu aku masih bimbang antara pengen di operasi dan engga. Maunya sih kalo bisa jauh2 dari pisau operasi tapi, apa daya perutnya masih suka sakit. Hilang timbul hilang timbul memang, tapi jadi merusak pikiran: sakit - operasi - gak sakit - gak operasi. Begitu aja terus siklusnya berulang, sampe kebingungan sendiri.

Sempat terpikir juga kalo (mungkin) sakit yang beberapa kali timbul belakangan setelah mastiin appendicitis ke dokter ini cuman sugesti doang. Oke, aku tau dari hasil USG memang ada doughnut sign di area appendix aku, tapi apakah appendicitis harus selalu dioperasi? Engga juga kan?! Ada yang bilang pernah didiagnosa appendicitis tapi gak pernah dioperasi sampe skarang.

Tapi, menurut kakak dan suaminya, dalam kasus aku, aku udah sering mengeluh sakit. Walopun gak sampe kelojotan, tapi itu udah menunjukkan kalo ada peradangan di appendix aku. Ujung2nya harus dioperasi juga. Memang sih sakitnya bisa dikurangi dengan pemberian antibiotik, tapi menurut mereka lagi antibiotik ini gak menghentikan peradangan appendix itu sendiri. Proses peradangan itu tetap ada. Mereka juga tidak menyarankan aku untuk menunggu sampe sakitnya terasa banget seperti beberapa orang lain, karena setelah sakit yang seperti itu kita gak akan tahu berapa lama dari situ appendix-nya akan pecah. Terbukti ada beberapa kenalan yang dalam 4-8 jam setelah kesakitan yang teramat sangat harus segera dioperasi. Saran mereka tanpa bermaksud menakut-nakuti, daripada aku terburu2 harus dilarikan ke rumah sakit mendingan aku rencanakan untuk operasi. Dengan terencana, aku jadi bisa telpon mertua untuk nginep di rumah temenin anak2. Bisa ngatur pendelegasian tugas2 rumah tangga ke pekerja di rumah dan suami aku bisa mengajukan cuti untuk temenin aku selama operasi.

Masuk akal sih...

Okelah, setelah menimbang2 cerita pengalaman beberapa teman dan pendapat serta saran kakak diatas, juga mengingat2 keluhan appendix ini gak cuman sekali aku rasa, aku setuju untuk operasi setelah pesta ulang tahun anak-anak, yang diadakan Minggu 17 Mei 2009.

Senin, 18 Mei 2009, aku bulatkan tekad untuk operasi hari Rabu, 20 Mei 2009, jam 9 wib.

Gak mungkin mundur lagi skarang, walopun hati ini bimbangnya setengah ampun :). Bahkan sampe udah di ruang operasi pun masih aja ragu-ragu, karena hari itu sakitnya hilang. Nah lho!

Ya sudahlah, pasrah aja. Soalnya, setelah operasi appendicitis ini rencananya aku mau fokus sama natural treatment untuk ngilangin batu empedu aku dan lebih rutin lagi olahraga, which is (olahraganya) gak bisa aku laku'in kalo masih sakit usus buntu.

Dengan cantik dan tenang, hehe, aku dilepas masuk ruang persiapan operasi sama my hubby, mami, auntie Lena, ka' cindy, Yuli, Pdt. Joram, Pdm. Janes, (Ko' James dan kak Mayke juga datang setelah aku masuk ruang operasi).

Beruntung, suster2 di ruang operasi baik2. Perhatian dan bikin tenang. Mereka tanya apakah ini operasi pertama aku, aku bilang Ya dan semoga juga sekali ini aja aku ngerasa'in dioperasi, doaku dalam hati.

Suster meminta aku melepas seluruh baju sampe daleman juga dan menggantinya dengan selembar baju rumah sakit yang lebih sering cuman seperti asal tempel aja karena tali pengikat di bagian belakang baju sering lepas. Menyuruh aku berbaring dan kemudian meminta ijin untuk memasang infus di tangan kiri aku. Suster yang lain mengajukan beberapa pertanyaan isian formulir. Dan suster yang lain lagi bertanya apakah aku mau nonton atau dengar musik. Setelah semuanya selese, aku balik tanya, "Boleh ke belakang gak? Aku pengen pipis..." :)

Hehe..., ke belakang sampe dua kali. Nervous banget. Apalagi waktu kemudian ada yang menegur aku yang harusnya puasa total malah minum setengah gelas air putih pagi sebelum ke rumah sakit (belakangan aku tau dia dokter anestesi), katanya, "Ibu niat operasi gak sih?! Kenapa ibu minum? Ibu tau, kenapa orang yang mau dioperasi harus puasa? Supaya pada saat operasi ibu tidak muntah." Awalnya dia bicara dengan nada agak tinggi tapi lalu menjelaskan lebih jauh dengan nada lebih rendah. Ow, ow, aku juga gak tau mo bilang apa. Aku memang salah, aku gugup, trus gimana?! Apa ini pertanda supaya operasi batal? Hehehe...ternyata engga, karena salah seorang suster kemudian datang menyuntikkan satu cairan lewat infusan aku yang katanya harus diberikan karena kasus minum itu. Oh dear...

Ketika kemudian aku masuk ruang operasi aku semakin pasrah. Aku diminta untuk memiringkan badan karena mereka akan memberikan suntikan bius di punggung aku. Tangan kiri aku diletakkan disebuah papan dan diikat, begitu juga tangan kanan dengan tambahan alat pengukur tensi kalo gak salah. Aku merasa seperti disalib dan gak bisa berontak, oh, oh. Gak lama setelah itu aku gak bisa merasakan kaki dan perut aku lagi. Udah pasti sayatan operasi gak akan terasa, tapi....aduh! Aku gak bisa engga merasakan suhu ruangan yang dingiiiin banget! Please deh. Aku gak kuat, aku mendingan dibius total tadi daripada gemetaran seperti ini. Bener2 dingin, walopun mereka udah nambahin kain2 lagi buat menghangatkan badan aku, tetep aja...dinginnya ampun-ampun deh. Aku bisikkin suster untuk bikin aku tidur, dan sepertinya dia masukkin cairan lagi lewat infusan aku. Tapi,kenapa dingin masih terasa ya...

Lega, ketika akhirnya aku mendengar dokter anestesinya berbisik, "Operasinya sudah selesai ya bu..." Rasanya pengen teriak, "Ya udah, ayo cepetan keluarin aku dari freezer ini!".

Harusnya, aku masih di ruang persiapan operasi lagi, tapi karena aku mengeluh dingin mereka putuskan untuk membawa aku ke ruang perawatan aja. Beruntung, aku gak merasa mual, muntah setelahnya.

Aku gak tau jam berapa operasinya waktu itu selesai, juga gak nanya2. Yang aku tau waktu aku digiring masuk ke ruang operasi jam di dinding menunjukkan pk 09.20. Logikanya kalo operasinya cuman 45 menit ++ persiapan atau kurang mustinya waktu selesai operasi tadi kira2 jam 10.30 donk ya...Masuk kamar kira2 jam 11. Trus, jam 13.30 mulai deh rasa sakit yang menyayat-nyayat terasa di bagian perut. Rupanya, efek biusnya udah mulai hilang. Sebelnya, bagian kaki masih baal, jadi niat mengurangi rasa sakit di perut dengan mengangkat kaki atau muter badan dikiiit aja, ga bisa. Huhuhuuuu, pengen nangis. Tapi, malu...

Bahkan, kedatangan anak2 untuk bezuk gak bikin rasa perih, sakit, dan ngilunya berkurang. Aku cuman bisa meringis dan senyum2. Kasian anak2...Abis, gimana lagi. Aku juga gak nyangka kalo sakitnya seperti ini. Aku pikir aku kuat, karena dulu waktu selese melahirkan anak2 dengan cara normal aku udah bisa bebas bergerak. Aku menyesal dulu sempat pernah berpikir mau melahirkan dengan cara caesar. Ternyata, dimana2 lebih enak normal, walopun ada proses jahit karena episiotomy, tapi tetep aja gak sesakit ini, malah proses sembuhnya lebih cepet juga. Gak harus puasa, dan gak harus tunggu buang angin dulu baru bisa makan pasca operasi, hehe :). Untungnya, jam 7.30 malam aku udah dibolehin makan walopun belum buang angin. Aku bilang perut aku udah kriuk2, waktu dokter jaga yang meriksa bilang perut aku blum ada bunyinya. Syukur dia percaya, walopun aku memang ngomong jujur tapi siapa tau aja dia pengen bukti kan...:).

Setelah dua hari di Siloam Hospital, aku boleh pulang. Sempet sedih juga, karena Rainer minta gendong tapi aku gak bisa, yang ada dia lari masuk kamar, tengkurap di lantai sambil menangis tersedu2. Ya ampun, Rainer...maafin mami deh :(.

Praise The Lord aku bisa melewati semua itu. Sekarang, rasanya udah lebih mendingan. Udah bisa duduk, cek e-mail, buka fb dan blogging :).

Bener2 suatu pengalaman baru yang gak akan aku lupa'in. Yang gak akan juga aku rekomendasikan sama orang2 kecuali memang operasi adalah HARUS, jalan satu2nya dan yang terbaik :).

Thanks God...

Monday, May 18, 2009

Nyekar...


Nyekar, 10 Mei 2009.


Added on 29th May' 09:
Dapat sms dari salah seorang tanteku yang nyekar 28/5, katanya pot2 bunga ini udah gak ada lagi alias udah hilang. Gak tau diambil siapa...Tapi kira2 udah jelas siapa yang bertanggung jawab. Sedih deh :(.

Wednesday, May 13, 2009

Dapet Bonus.....

USG @ Siloam Hospital buat masti'in Appendicitis.

Ternyata positif.

Plus, dapat bonus: batu empedu. Auwh!

Tuesday, May 12, 2009

Appendicitis

Sakit perut sejak semalam. Tepatnya di bagian kanan bawah perut. Ngga sakit banget sih (istilahnya sakit tumpul), tapi terasa...dan rasanya teruuus ada sampe pagi tadi (seingat aku, 1 bulan lalu aku pernah juga sakit begini. Waktu itu malah lebih sakit dan terasa dari pinggang belakang sampe perut kanan bawah).

Telpon kakak. Kasih tau keluhan aku dan kakak kasih analisa diagnosanya.

"kamu usus buntu kronis. Sama kayak Andrew. Sakitnya ilang timbul-ilang timbul."
"Jadi gimana donk. Periksa ke dokter siapa?"
"Dokter Rudi aja."
"Dokter bedah?"
"Iya. Soalnya kamu pasti usus buntu tuh."

Gak berharap sakit ini lebih buruk dari usus buntu jadi ya udahlah, ikutin saran kakak ke dokter bedah.

*Kenapa gak ke internis? Karena, ternyata usus buntu tuh emang bagian dari bedah bukan internis. Kalo dari bedah trus baru mau periksa ke internis, artinya turun tangga. Kata kakak, "prosedurnya jadi terbalik."*

Setelah me-reschedule agenda hari ini (cieee...kesannya deh, sok sibuk :p) aku ke Siloam Hospital. Hasilnya, diagnosa dr Rudy sama dengan diagnosa kakak: radang usus buntu (appendicitis).

"Ini dikasih antibiotik juga sakitnya bisa berkurang, tapi pasti akan kambuh lagi. Jadi, saya sarankan sebaiknya kalo udah ada waktu dioperasi aja."
"Gitu ya....Iya, mungkin nanti aja deh soalnya minggu ini saya gak bisa, mo pesta ulang tahun anak2."
"Oh, kapan?"
"Hari Minggu."
"Gak masalah, selama sakitnya gak bertambah. Kan, repot juga kalo sakitnya malah tambah berasa justru pas hari Minggu," kata dokter.

He-eh, iya sih, gak lucu banget kalo begitu :p.

Besok aku di USG. Tadi, gak sempet (alias kelupaan :p), karena pengen buru2 pulang, istirahat dan banyak minum air putih. Anyway, kalo hasil USG harus cepet dioperasi, mungkin aku akan langsung masuk ruang operasi. Katanya kalo mo recovery-nya lebih cepat pembedahannya bukan pembedahan seperti biasa secara terbuka, tapi dengan pembedahan semi-tertutup (Laparascopy).

Aku belum tau mau yang mana. Pastinya sih liat hasil USG besok. Kalo urgent, ya udah terpaksa Laparoscopy, supaya cepet sembuh, karena aku masih harus beresin beberapa hal untuk persiapan pesta ulang tahun Ryan-Rainer hari Minggu ini di Mc Donald's, Alam Sutera, Serpong.

Bukannya mo dirasa-rasa, tapi....sakitnya emang masih kerasa nih. Ya udah, mo rebahan dulu sambil ngintip serial korea "Again, My Love", main gak hari ini di KBS channel. Perasaan, dulu tiap serial baru tayang di prime time hari Selasa sampe Kamis, tapi belakangan kog cuman tayang dua hari ya, Rabu & Kamis doang...:)


image taken from fotosearch.com

Saturday, May 09, 2009

Pintu oh pintu...


Ternyata, kalo ganti pintu walopun itu cuman pintu kamar mandi ribet juga ya...

Aku sampe udah 2 hari ini harus menunda beberapa urusan ke luar rumah karena 'merasa' harus perhatiin tukang bongkar pasang kusen-pintu yang feeling aku bakal gak beres ngerjain urusan bongkar dan pasang ini. Dan, ternyata bener banget. Huhuuu....

Padahal kata tukang kusennya, bongkar pasang kusen sehari doang, hari berikutnya tinggal pasang pintu. Ternyata gak bener tuh! Hehe...

Dia juga bilang, "ibu tinggal tau beres". Ternyata, belakangan setelah kasih dp alias down payment aku masih harus keluarin biaya lagi untuk handle dan grendle pintu juga plitur!

Buat pengalaman deh, kalo mau ganti pintu pake pintu kayu, pada saat ke tukang kusen / pintu nih dia hal2 yang harus ditanyakan supaya gak nyesel belakangan dan gak over budget:

- apakah biayanya udah termasuk tukang bongkar dan pasang kusen?
Karena, ternyata buat si penjual kerjaan mereka cuman bikin kusen dan pintu, dianter ke customer, pasang pintu trus udah. Untuk bongkar dan pasang kusen kita harus cari tukang yang lain.

- handle pintu. Apakah udah sekalian dari mereka atau harus kita yang siapkan as well as grendel pintu.
Karena menurut si tukang kusen dua alat ini harus kita siapkan sendiri.

- pintu udah diplitur ato belom.
Ini yang paling fatal, karena kalo sampe ketahuan belakangan seperti aku gini, mau di p-h-k kan gak bisa juga, selain udah kasih d/p tukangnya juga udah kerja bongkar dan pasang kusen. Tanggung mo disuruh brenti. Yang ada tinggal segunung kekesalan karena merasa 'tertipu' dan musti keluarin uang lagi untuk ongkos plitur dan tukang plitur pintu!

Belum lagi, setelah ganti pintu dan kusen masalah ternyata masih belum selesai, karena masih ada tembok2 sekitar pintu yang harus dicat ulang karena kotor kena acian semen dan cap tangan si tukang. Nah, itu dia, kenapa juga si tukang musti tinggalin cap tangan segala. Dan kenapa juga musti tinggalin 'kenang2an' sekotak keramik di tembok yang pecah setengahnya? Bener2 rugi bandar nih.

Ini udah hari ke-4. Janjinya si tukang kusen semuanya mo diberesin hari ini, tapi apa bisa? Pintu belum terpasang...., acian semen di kusen rontok sebagian...., pintu blum diplitur....

Oh dear, masa harus tahan2 gak b-a-b lagi? :)

Wednesday, May 06, 2009

Sorry Mam...

Harusnya Sabtu kemaren kita nyekar ke kuburan mami papi. Kebetulan mami ulang tahun tgl 3 Mei yang jatuhnya pas hari Minggu. Walaupun dia udah gak 'disini', tapi aku pengen aja gitu bisa ke kuburannya hari itu :).

Sayang, pagi jam 1 gitu Rainer panas. Jam 2.30 am baru dia mau minum obat.

Wah, kalo anak sakit begini sih udah pasti bakal batal pergi. Gak mungkin kan maksa bawa anak yang lagi sakit untuk pergi ke luar kota buat nyekar pula. Jadi ya udahlah, walaupun panasnya udah agak turun aku tetap gak berani maksa'in pergi.

Sedih juga, karena ternyata sampe mami udah gak ada juga aku tetap gak bisa nyenengin dia, gak bisa dateng pas dia ulang tahun...*what a silly thought :)*

Sempet kepikiran juga sih apa kuburannya dipindahin ke yang deket2 aja? Kalo di Jawa gini kan repot. Jauh. Minimal 6 jam perjalanan darat baru sampe. Tapi, ada temen yang bilang kalo orang udah meninggal dan dikubur ya udah aja biarin disitu. Selain gak baik juga dipindah2in, trus apakah generasi setelah kita bakal seperhatian itu sama kuburan buyutnya?

"Paling juga cuman 3 generasi yang masih liatin (nyekar) kuburan kita", kata temen aku lagi.

Iya, bener juga sih...

Apa boleh buat, karena jaraknya jauh, untuk nyekar ke kuburan mami papi mungkin aku cuman bisa 2 kali dalam setahun. Syukur2 kalo bisa lebih.

"Mother is the name for God in the lips and hearts of little children."
William Makepeace Thackeray

Wednesday, April 29, 2009

Sibuk lagi nih...


Mau cek tempat untuk birthday party Ryan & Rainer.
Masih ada yang available gak ya? Secara waktunya cuman 12 hari lagi...

Udah sempet cek ke:
- Timezone Supermall Karawaci. Tapi, ruang untuk partynya lagi mau direnovasi, jadi sementara ini gak dibuka untuk party dulu.

- Speedy junction deket rumah. Tapi, minimal order makanan untuk orang dewasa 100 orang. Weleh! Emang, orang dewasanya bakal sebanyak itu?.....Iya, kalo diundang semua :).

- Wendy's Summarecon Mall Serpong. Tapi, fully booked. Ada sih, jam 13. Tapi, tanggung gak ya jam segitu...

Mentok2 raya'in di rumah aja deh :).
Minggu lalu udah sempet juga sih telpon2 tempat penyewaan tenda, dll.
We'll see aja deh. Yang jelas, hari ini masih mo hunting tempat party yang lain lagi dulu :).


Image from www.fotosearch.com

Ryan's 6th Birthday


Thanks God, karena kemaren Ryan ulang tahun ke-6. Kadang masih suka gak percaya punya anak dari bayi trus tau-tau udah gede.

Dulu kalo masih balita, nakal dimaklumin. Dianggap belom ngerti, jadi harus sabar ngajarin anak. Skarang, kalo nakal....aduh, kog ya jadi pusing, bingung ngedidiknya gimana. Kan, katanya gak boleh pake kekerasan, bahkan walopun itu cuman ngomel doang, sebaiknya hindari kata2 verbal yang bisa membuat anak merasa down, dilecehkan.

Tapi, kalo ditegur dengan lemah lembut kog, anak 'sperti' jadi ngelunjak ya? Seperti tau kalo maminya marah cuman acting doang supaya keliatan sok galak :).

Gimana donk caranya handle a grown up boy?

Ya, well, think about it later ajalah. Kemaren hari yang spesial buat Ryan, jadi santai ajalah. Kata my dear hubby jangan marah, jangan ngomel, ikutin aja maunya Ryan karena dia lagi ulang tahun :).

Enak ya? Ternyata kalo hari spesial tuh selain ada kue tart, dapet kado, dinyanyiin lagu wajib 'Happy Birthday To You', juga hari yang bebas mo ngapa2in, hari suka-suka hati karena pasti gak akan ditegur / diomelin :).

Kemaren, Ten sengaja pulang sore, supaya kita bisa have a family dinner. Hmmm...

Happy Birthday to our sweetest boy. May your birthday be happy and grand. We Love You!


Image from www.fotosearch.com
Christian graphics